Sabtu, 17 November 2018

Dibantu Tuhan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Chairun Nissa. TEMPO/Yosep Arkian

    Chairun Nissa. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Tahun lalu menjadi tahun keberuntungan bagi Chairun Nissa, 26 tahun. Setelah setahun sebelumnya meraih gelar sarjana seni berkat film Purnama di Pesisir, ia mendapat banyak undangan mengikuti festival film internasional. Beberapa di antaranya festival film di Rotterdam, Belanda; Roma, Italia; serta Melbourne dan Sydney, Australia. Di Negeri Pizza, Ilun--begitu ia biasa disapa--mendapat penghargaan Special Mention.

    Film Purnama di Pesisir adalah film pendek, berdurasi 16 menit. Dibuat sebagai syarat menempuh ujian akhir pada jurusan penyutradaraan di kampusnya, Institut Kesenian Jakarta. Ilun mengajak dua temannya, Maria Nunik sebagai penata artistik, dan Laili Handayani sebagai produser. Tiga dara itu mengusung tema sosial tentang penggusuran lahan di pesisir pantai. “Kebetulan Laili tinggal di Cilincing (daerah pesisir pantai Jakarta Utara),” katanya saat ditemui di Bakoel Koffie Cikini, Jakarta, Rabu lalu.

    Tema penggusuran rumah penduduk di pesisir ini lantaran di daerah itu akan dibangun tanggul penahan air laut saat pasang naik. Ilun dan awak filmnya membuat rumah gubuk. Menjelang hari pengambilan gambar, badai melanda lokasi syuting. Gubuk dan beberapa setting lain porak-poranda. Namun ia bersyukur, akibat badai itu, semua yang disiapkan selama setahun itu menjadi lebih alami.

    “Saya didukung sentuhan Tuhan,” katanya terkekeh. Pelaksanaan syuting berjalan lancar selama empat hari dan menghabiskan biaya Rp 56 juta. Modal syuting itu, “Kami patungan,” katanya.

    Film yang ia besut bersama enam orang lainnya ini hasilnya disidangkan dalam ujian akhir. Yang pertama diuji adalah Maria, Laili, setelah itu Ilun. Maria menghabiskan waktu satu jam, sedangkan Laili setengah jam. “Bagi saya, itu lama, makanya saya grogi,” katanya. Namun Ilun menghabiskan waktu 20 menit.

    Tamat kuliah Ilun melamar kerja. “Ikut senior,” katanya. Ilun bekerja sebagai asisten sutradara. Dia sempat membantu pembuatan klip video. Akhir tahun lalu, Ilun mendapat pekerjaan meriset film Hafalan Salat Delisha. Namun dilema menghampiri Ilun. Pada saat bersamaan, Ilun diminta datang ke International Film Festival Rotterdam di Belanda.

    Ilun tak menyangka dosennya mengirim film Purnama di Pesisir ke festival film yang telah berusia 39 tahun itu. Semula, ia enggan berangkat. “Panitia hanya menanggung biaya menginap,” katanya. Ilun bingung bagaimana mendapatkan tiket dan ongkos hidup selama di Rotterdam. Dua pekan ia berusaha mencari sponsor dan donatur. Seorang sutradara senior bersedia membiayai keberangkatannya.

    Kebingungan muncul kembali. Lantaran belum pernah ke Belanda, Ilun berharap dijemput pihak Kedutaan Republik Indonesia di Belanda. Permintaan Ilun lewat surat elektronik tak berbalas. Berkat bantuan Deddy Mizwar--aktor dan sutradara senior--yang mengenal pihak KBRI, kedatangan Ilun pun diurus.

    Di Rotterdam, Ilun menetap selama 10 hari, sedangkan festival berlangsung empat hari. Hasil yang menyenangkan Ilun adalah dia bertemu dengan beragam orang dan organisasi yang peduli terhadap sutradara muda. Ia sempat iri melihat kedatangan beberapa peserta dari Singapura dan Malaysia yang didukung dan dibantu oleh pemerintah mereka.

    Dua bulan kemudian dia mendapatkan undangan panitia Roma Independent Film Festival di Italia. Ia harus mencari tiket dan penginapan sendiri. “Kali ini saya mendapatkan donatur lebih mudah,” ujarnya. Agustus di tahun yang sama Ilun mendapat undangan festival film di Melbourne dan Sydney, Australia. “Kali ini pemerintah mendukung,” ujarnya, tersenyum.

    Penghargaan yang diterima membuat Ilun yakin bahwa hidupnya memang di film independen. Memang tidak mudah bekerja di industri ini. Ilun mencontohkan beberapa rekannya yang memilih bekerja di industri film mainstream. Padahal ide-ide segar mereka cukup mumpuni jika membuat film berkualitas. Ilun menilai dukungan yang kurang dari pemerintah membuat bakat-bakat muda kurang terwadahi.

    Sejak kecil Ilun memang menyenangi film. “Orang tua kerap mengajak ke bioskop,” katanya. Kebiasaannya ini membuatnya ketagihan. Dia menonton film sampai larut malam. “Saya sembunyi-sembunyi,” katanya. Kecenderungan Ilun kepada film membuat dia memilih kuliah ke Institut Kesenian Jakarta.

    Namun harapan ini kurang direstui orang tuanya. Ilun diminta mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri. “Kalau tidak lolos, boleh masuk IKJ,” ucapnya menirukan perkataan orang tuanya waktu itu. Demi bisa mendaftar di IKJ, ia sengaja tidak belajar saat ujian masuk perguruan tinggi negeri.

    l AKBAR TRI KURNIAWAN

    Nama: Chairun Nissa
    Nama panggilan: Ilun
    Kelahiran: Jakarta 3 Desember 1984
    Orang tua: Erlinda dan Syahrial
    Status dalam keluarga: anak keempat dari lima bersaudara
    Pendidikan: Sarjana Seni Jurusan Penyutradaraan Institut Kesenian Jakarta (2009)

    Penghargaan:
    l Nominee Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia (2009)
    l Penghargaan Special Mention for Short Film 9th Roma Independent Film Festival (2010)
    l Official Selection 39th International Film Festival Rotterdam (2010)
    l Official Selection 5th Indonesian Film Festival (Melbourne & Sydney 2010)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.