Video dalam Sentuhan Avant-Garde  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Eut-elle ete criminelle

    Eut-elle ete criminelle

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Prancis, 1940. Di sebuah lapangan terbuka, perempuan-perempuan itu diarak. Semua mata memandang ke arah mereka. Tawa sinis, cemoohan, bahkan adu fisik dilimpahkan kepada perempuan itu. Tak jarang para lelaki memperlakukannya dengan sadis. Mereka dikumpulkan di sebuah teras gedung, didudukkan satu per satu menghadap khalayak, lalu digunduli.

    Sepotong film pendek berjudul Eut-elle ete criminelle (Even If She Had Been A Criminal) ini adalah karya sutradara Prancis, Jean-Gabriel Periot. Video pendek itu satu di antara lima film pendek lain yang dipamerkan di Centre Culturel Francais (Pusat Kebudayaan Prancis), Salemba, Jakarta Pusat, hingga 14 Januari mendatang.

    "Saya menemukan arsip video ini. Menarik bagi saya karena ini fenomena penting," ujar Periot. "Betapa perempuan-perempuan ini mengalami kekerasan. Bahkan tindakan kriminal itu tak dapat dijelaskan."

    Menurut Periot, di tengah kondisi ekonomi Prancis yang morat-marit, kemiskinan di mana-mana, posisi perempuan seperti tak mendapat sedikit harapan. "Karya ini memperlihatkan sejarah Prancis yang tidak mudah kepada generasi muda," katanya.

    Mereka menamainya L'épuration, pembersihan masyarakat Prancis dari pihak-pihak yang berkaitan dengan Nazi selama empat tahun. Dan perempuan itu tertuduh telah berhubungan seks dengan orang-orang Nazi. Namun mereka yang menghukum tak pernah bisa membuktikannya.

    Sehari setelah digunduli, sebagian di antaranya dikurung atau dibuang di luar Prancis. Namun tak sedikit pula yang dibunuh ataupun digantung. Perempuan-perempuan itu, kata Periot, bisakah dikatakan berbuat kriminal hanya karena berhubungan seks dengan antek Nazi itu.

    "Saat menemukan arsip ini, saya sangat terguncang. Momen yang sangat paradoks. Mereka berpesta-pora dan bergembira melihat perempuan disakiti seperti itu," ujar Periot menjelaskan.

    Periot memilih bagian-bagian tertentu, lalu ia susun menjadi video pendek berdurasi 15 menit. Karya itu ditampilkan sebagaimana adanya. Ia memakai teknik editing klasik yang diciptakan oleh Russian avant-garde, Dziga Vertov.

    Maka kita akan melihat gambar-gambar bisu hitam-putih dengan banyak noise, dan tentu motion yang sedikit cepat. Di awal video, kita akan mendengar lagu kebangsaan Prancis berkarakter mars, bendera-bendera Prancis yang dipasang di kanan-kiri jalan, mengesankan setting yang kental dengan nasionalisme. Namun ternyata sarat dengan mimpi buruk.

    Periot berusaha menceritakan perihal kekerasan yang terjadi sepanjang sejarah. Dan menunjukkan betapa penting melatih daya ingat untuk memahami masa kini ataupun masa depan dari kejadian-kejadian lalu.

    Tak hanya itu. Periot juga menghadirkan film pendek yang ia buat pada 2005 berjudul Undo. Ini sebuah video yang cukup unik. Ia menangkap momen-momen yang sebetulnya adalah aktivitas keseharian. Kamera mulai membidik orang-orang yang sibuk berbelanja di supermarket membawa troli. Lalu mengambil gambar orang-orang yang sedang makan siang di sebuah kafetaria, hingga lorong-lorong kota dan fasade bangunan yang tak bergerak.

    Periot mengemasnya dengan motion mundur yang sangat halus, sehingga akan tampak semua yang dilakukan orang-orang itu berkebalikan. Seperti seseorang yang tiba-tiba mengeluarkan makanan dari mulutnya dan garpu yang di hadapannya kosong tiba-tiba penuh dengan lilitan spageti. Inilah yang menjadikan video itu unik. "Ini permainan. Sebuah permainan untuk menciptakan dunia baru," kata Periot.

    Menciptakan sesuatu yang baru berarti menghilangkan yang lama. Tapi, bagi Periot, untuk mencipta dunia yang baru tak perlu ada penghilangan. Diputar ulang siapa tahu bisa menemukan sesuatu yang menarik.

    Karya Periot yang lain menampilkan muka berbagai macam jalan yang berbeda-beda. Ia mengemasnya dalam Dies Irae. Periot mengumpulkan beberapa arsip tentang gambar jalan ataupun gerbang yang berposisi sama. Lalu menumpuknya dan memperlihatkannya dengan sangat cepat. Efeknya seperti menghipnotis penonton.

    Dua film lain yang ditampilkan Periot dalam pameran ini adalah Les Barbares dan Nijuman no borei-200000 fantomes. Periot, seniman dan sutradara Prancis kelahiran 1974, tampaknya ingin memperlihatkan film-film dokumenter ataupun pendek dengan bentuk lain: wajah avant-garde.

    Ismi Wahid


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.