Sabtu, 20 Oktober 2018

Menelusuri Denyut Kehidupan Teheran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tehran Without Permission

    Tehran Without Permission

    TEMPO Interaktif, Jogjakarta - Subuh menjelang di Teheran, Iran. Lampu gedung masih menyala. Jalanan lengang. Orang-orang masih banyak yang terlelap dalam buaian mimpi. Sejurus kemudian, pemandangan itu berubah. Orang mulai bangun untuk memulai aktifitas sehari-hari. Pasar, toko, dan lapak sepanjang jalan bergegas menggelar dagangan.

     

    Jalanan pun kian ramai. Sepeda motor dan mobil berlomba sampai di tujuan. Bus umum disesaki penumpang. Adapun di trotoar, pejalan kaki tampak berjalan tergesa. Mobilitas mereka bertemu dalam satu pusaran, stasiun kereta. Dan pagi itu, kereta pertama menuju Taleghani memulai hari.

     

    Lalu, mengalunlah tembang Tehran (asphalt jungle): This is Tehran/A city/Where everything is a provocation. Lagu yang dinyayikan Hichkas itu mengiringi cerita warga Teheran memulai hari dalam film berjudul Tehran Without Permission itu. Berdurasi 83 menit, film karya Sepideh Farsi itu turut diputar dalam Jogja-Netpac Asian Festival Film (JAFF) 2010 yang digelar di sejumlah tempat di Yogyakarta pekan lalu.

     

    Tehran Without Permission mengajak penontonnya menelusuri Teheran jauh hingga relung aktifitas warganya. Sepideh Farsi mewawancarai penumpang kereta, pedagang di pasar, sopir taksi hingga murid-murid sekolah. Bahkan, seorang bocah berusia 6 tahun yang ditemui secara kebetulan melintas di jalanan dia tanyai.

     

    Mereka berbicara tentang problematika kehidupan. Suasana kerja, pelajaran di sekolah, barang dagangan yang diperjualbelikan, tempat ibadah hingga politik yang sedang hangat berkembang. “Dia (Sepideh Farsi) merekam dalam kamera poket,” kata Garin Nugroho, Presiden Jogja-Netpac Asian Film Festival.

     

    Farsi merekam tiap momen dalam filmnya dengan berjalan, membonceng sepeda motor, menumpang taksi, menyusuri pasar dan masuk ke dalam rumah warga serta tempat ibadah. Dia lakukan itu seiring dengan aktifitas warga yang ditampilkan dalam filmnya.

     

    Cara itu, tentu berbeda dengan pembuatan film umumnya. Dimana para pembuat film menggunakan kamera berteknologi canggih dan setting lokasi yang ribet dan berbelit. Pengambilan gambarnya pun kerap dilakukan berulang-ulang. Namun, dengan kamera sakunya, Farsi telah membuktikan kemampuan berkarya dalam perfilman.

     

    Menurut Garin, ada pelajaran berharga yang bisa diambil dari cara pembuatan film ini. “Ternyata dengan kamera sederhana pun, sebuah film yang bagus dapat diciptakan,” ujarnya.

     

     

    ANANG ZAKARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.