Dianggap Tak Penting, 157 Fosil Purba Tulungagung Terlantar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Tulungagung -Upaya penelusuran fosil purba yang diyakini lebih tua dari Homo Wajakensis di Dusun Mbolu, Desa Ngepo, Kecamatan Tanggung Gunung, Kabupaten Tulungagung terancam berhenti. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan menilai penemuan tersebut tidak terlalu penting.

    Ketua Tim Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (KS2B) Tulungagung, Triyono, mengatakan 157 fosil purba yang dia temukan setahun lalu itu kini masih tersimpan di rumahnya. Benda-benda tersebut dikembalikan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Tulungagung setelah dinyatakan tidak membawa kebaruan di dunia ilmu pengetahuan. "Saya sudah serahkan ke pemerintah, tapi ternyata dianggap nggak penting," kata Triyono kepada Tempo, Jumat (31/12).

    Tak hanya Dinas Pariwisata, BP3 Trowulan juga menganggap fosil purba yang berusia di atas 40 ribu tahun Sebelum Masehi ini hal yang biasa. Sebab temuan serupa juga kerap terjadi di sejumlah daerah dan tidak akan mempengaruhi temuan Dubois tentang Homo Wajakensis sebagai manusia tegak pertama.

    Sikap responsif, menurut Triyono, justru dilakukan arkeolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Dua peneliti dari Jurusan Biopaleoantropologi, Profesor Rusad dan DR Agus Tri Cahyono, menyatakan temuan tersebut menarik karena memiliki usia jauh di atas Homo Wajakensis yang diperkirakan hidup pada tahun 20 ribu sebelum Masehi. "Mereka memastikan ada kehidupan lain antara tahun 40 ribu-20 ribu sebelum masehi," kata Triyono.

    Dengan biaya sendiri, kedua peneliti tersebut melakukan ekspedisi bersama KS2B di lokasi yang hanya berjarak lima kilometer dari penemuan Homo Wajakensis di Dusun Cerme, Desa/Kecamatan Campurdarat. Namun karena keterbatasan alat dan biaya, akhirnya penelusuran tersebut berhenti.

    ADVERTISEMENT

    Pemerintah Kabupaten Tulungagung sendiri dinilai tidak terlalu peduli atas temuan sejarah tersebut. Bahkan di lokasi penemuan Homo Wajakensis yang berperan penting dalam ilmu pengetahuan tidak terdapat monumen atau penanda sama sekali. "Bisa-bisa masyarakat lupa kalau di situ pernah ada temuan sejarah besar," kata Triyono, yang menjadi guru sejarah di Madrasah Aliyah Negeri 1 Tulungagung.

    Bersama-sama muridnya, Triyono terus merawat fosil-fosil purba itu yang hanya diletakkan di dalam kardus bekas air mineral. Fosil itu terdiri dari 41 fosil yang diduga tulang, 24 fosil terumbu karang, dan 92 fosil gastropoda. Fosil terakhir adalah makanan manusia purba yang terdiri atas siput, cangkang kerang, keong, dan tiram.

    Kepala Subbagian Pemberitaan Humas Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Edy Suwarno, mengaku telah melaporkan temuan itu ke BP3. Pemerintah daerah tidak berhak melakukan eskavasi dan menyerahkan sepenuhnya pada BP3. "Yang berkewajiban mengelola BP3, bukan kami," katanya.

    Hari Tri Wasono


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.