Eksplorasi Rupa di Atas Kertas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Di tangan perupa Made Wianta, kertas koran yang telah jadi sampah diubah menjadi simbol kehidupan satu warna meski penuh lubang di sana-sini. Wianta mengecat seluruh permukaan kertas dengan warna merah muda lalu menempelkannya di atas gabus dan kemudian menusuknya tanpa aturan. Berikutnya pelukis berusia 61 tahun itu meletakkan huruf dan angka kapital sebagai penanda bahwa fokus seseorang pada akhirnya hanya akan tertuju pada sejumlah masalah tertentu.

    Karya mutakhir Wianta itu kini dipamerkan di Maha Art Gallery, Sanur, Bali, hingga 22 Januari mendatang. Ia menggelar pameran bersama lima pelukis senior lainnya, yakni Chusin Setiadikara, Davina Stephens, Made Budhiana, Mangu Putra, dan Nico Vrielink. Semua karya dalam pameran bertajuk "Paper Power" itu menggunakan kertas sebagai media eksplorasi utama.

    Menurut Wianta, pameran itu merupakan kesempatan menunjukkan pengaruh medium kertas pada ekspresinya dalam kesenian. Di luar karya-karya yang terekspos ke publik, sebagian besar karya miliknya sejatinya adalah respons terhadap kertas berupa sketsa, drawing, puisi, dan instalasi. Itu karena kertas bisa ditemukan di mana-mana, bisa berupa sobekan tiket, bungkus rokok, hingga kertas block note. Setiap jenis kertas itu memiliki efek, tekstur, serta kelenturan yang berbeda-beda dan memunculkan estetika alternatif yang tak terduga.

    Kalaupun para perupa saat ini kurang menggeluti kertas, tutur Wianta, itu karena mereka tidak dibiasakan sejak awal berkarya menggunakannya. ”Studi tentang ilmu bahan juga langka sehingga banyak yang meragukan daya tahan kertas terhadap cuaca, cahaya, ataupun kelembapan,” ujarnya.

    Sementara Wianta sibuk dengan karya instalasi, lima perupa lainnya benar-benar menggunakan kertas sebagai mediumnya. Bedanya adalah pada gaya lukisan serta filosofi di balik karya mereka. Chusin Setiadikara, Mangu Putra, dan Nico Vrielink menampilkan gaya realis dengan menonjolkan karakter obyek lukisan. ”Karena itu, saya gunakan pensil untuk lukisan hitam-putih itu,” kata Vrielink, yang lahir di Belanda pada 1958 dan sudah berkeliling dunia untuk memamerkan karyanya.

    Adapun Chusin berusaha mengolah foto tentang kehidupan sehari-hari menjadi karya yang unik. Ia melanjutkan kecenderungannya menghadirkan karya eksperimental meskipun mengangkat tema sehari-hari. ”Di atas kertas kita cenderung lebih jujur karena tidak terpengaruh unsur luar entah itu selera publik, kolektor, entah pasar,” ujar peraih penghargaan Philip Morris ASEAN Art Award (1996) itu.

    Hal senada disampaikan Mangu Putra. Menurut Mangu, 47 tahun, imajinasi dan gagasan yang datang secara spontan bisa dengan cepat dipresentasikan di atas kertas. Kertas menjadi wahana untuk melatih kelenturan tangan dan mengasah intuisi. Karyanya memperlihatkan rekam jejak, kekuatan garis, dan emosi. Ia yakin publik jauh lebih mudah menikmati karya di atas kertas karena lebih akrab secara visual.

    Dua pelukis lainnya, Davina Stephens dan Made Budhiana, bermain di wilayah simbolisme dan drawing. Dalam karya "Floating Map", Davina bercerita tentang perjalanan hidupnya yang selalu berpindah-pindah hingga akhirnya saat ini terdampar di Bali. Ia pun menceritakan kekagumannya kepada sosok Dewi Sri yang dipuja oleh orang Bali.

    Davina menyatakan, sebagai perupa, ia menyukai medium kertas dari yang supertipis (rice paper) hingga yang tebal. Media kertas juga memudahkan Davina, yang suka melakukan perjalanan ke berbagai wilayah di dunia, merekam pelbagai pengalaman visual ke dalam karya rupa.

    Sementara itu, Budhiana menampilkan sketsa orang-orang yang ditemuinya kapan saja dan di mana saja. Mereka adalah para sahabat dalam aktivitas mereka yang tanpa sadar menjadi model. Bagi Budhiana, sketsa merupakan dasar untuk membuat lukisan, tapi bisa juga menjadi aksi final. ”Tergantung kepuasan serta perkembangan idenya,” ujarnya. Yang jelas, kata Budhiana, medium kertas merupakan tempat memancarkan gairah dan sensitivitas karena sifat spontan dalam proses berkarya.

    Pengamat seni dan pemilik Maha Art Gallery, Agus Maha Usadha, mengatakan pameran itu adalah upaya membuktikan bahwa kertas masih menyediakan berbagai kemungkinan. ”Bagaimanapun kertas memiliki kapasitas di luar dugaan, yang terkadang tidak dijumpai pada bahan lain,” katanya.

    Ia mencontohkan getaran yang muncul saat Rembrandt mengabadikan kaum papa yang hidup di pinggiran jalan. Lukisan dengan medium kertasnya betul-betul menyelami penderitaan kaum marginal pada masa itu, yang jauh lebih dahsyat dalam hal penjiwaan dibanding karya di atas kanvas. Kertas bersama media lain yang dicomot di jalanan pun berjasa mengantar ketenaran Basquiat. Karya-karyanya berhasil mencuri perhatian raja pop art Andy Warhol dan kemudian mengantarkan Basquiat menjadi seniman yang diperhitungkan.


    Rofiqi Hasan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.