Febrian, Suka Musik Daerah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Febrian. TEMPO/Arnold Simanjuntak

    Febrian. TEMPO/Arnold Simanjuntak

    TEMPO Interaktif, Namanya baru beredar di belantika musik Indonesia setahun ini. Namun Febrian, 21 tahun, sudah banyak diidolakan. Terbukti, dalam jajak pendapat yang dilakukan Tabloid Bintang Indonesia beberapa waktu lalu, dia menjadi Solois Pria No. 2 Paling Diidolakan setelah Afgan. Begitupun dalam Nagaswara Music Award 2010, awal bulan ini, Febrian menyabet gelar Artis Solo Pendatang Baru Terbaik.

    Bulan lalu, Febrian baru saja meluncurkan albumnya, Love Is, dengan single andalan berjudul Cinta Itu Gila karya Tengku Shafick. Di media sosial YouTube, single ini diunduh lebih dari 27 ribu pengakses. Seperti itu pula reaksi penggemarnya saat single perdananya, Cinta Diam-diam, diluncurkan pada Februari lalu.

    Pria berkulit putih langsat dan bermata sipit ini terbilang cepat mendapatkan kontrak dari perusahaan rekaman. Tak lama setelah lolos audisi pencarian bakat, oleh manajernya saat ini, Deddy Nur, label mayor Nagaswara pun bersedia menggandengnya.

    Sebelum menjadi penyanyi profesional yang menjadi impiannya, Rian--begitu Febrian disapa--sudah menekuni karier menyanyi. Ia bahkan membuat kampusnya, London School of Public Relations, Jakarta, bangga dalam kompetisi paduan suara. "Sejak kecil saya sering ikut kompetisi menyanyi," katanya saat ditemui di rumah Deddy di Kemang Town House, Jakarta Selatan, Rabu lalu. 

    Prestasi Rian dalam kelompok paduan suara yang paling ia banggakan adalah saat meraih medali emas di World Choir Championship di Gyeongnam, Korea Selatan, Juli tahun lalu bersama Elfa Music School. Rian lulus audisi meski bukan murid atau alumnus sekolah musik milik Elfa Secioria itu.

    Rian bersama 60 rekannya dipilih mewakili Indonesia dalam kompetisi yang digelar oleh organisasi paduan suara dunia, Musica Mundi, dari Belanda itu. Di sana, mereka mengalahkan peserta dari Korea Selatan, India, Iran, Vietnam, dan paduan suara Indonesia lainnya. Dalam kategori musik daerah (folklore) itu, kelompok paduan suara Rian menyanyikan secara medley delapan lagu daerah dari Sumatera Utara, Minang, Sunda, dan Kalimantan.

    Bagi Rian, penghargaan ini yang tertinggi selama berkarier di musik. "Biasanya hanya tingkat kabupaten," kata pemuda kelahiran Kuningan, 26 Februari 1989, ini. Di luar musik, prestasi yang didapat Rian adalah menjadi finalis Abang None Jakarta dua tahun lalu.

    Penghargaan lain yang berkesan ketika ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor dan Matematika Institut Teknologi Bandung. Beasiswa ini diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Namun Rian menampiknya. "Saya inginnya jurusan komunikasi," ujarnya.

    Memperoleh beasiswa bukan hal aneh bagi putra Heriyadi dan Linny Yohana ini. Saat sekolah menengah atas, Rian serius belajar. Ia mengurangi porsi bernyanyi. Pengorbanannya berbuah gelar juara umum di sekolahnya, SMA 3 Kuningan, Jawa Barat. Prestasinya dalam pelajaran diganjar pemberian beasiswa.

    Namun beasiswa itu menyertakan syarat. "Setelah kuliah wajib menjadi pegawai negeri di Kuningan," katanya. Syarat ini memberatkan Rian, yang tidak bercita-cita sebagai abdi negara. Kegemaran bermusik masih terpancang kuat. Rian memilih kuliah di Jakarta. Jurusan komunikasi massa dipilihnya karena diyakini mampu menunjang karier bernyanyinya. "Ilmu komunikasi mengajarkan saya public speaking," ucap pemilik suara bariton ini.

    Sembari kuliah, Rian ikut paduan suara. Setelah mendapatkan medali emas di kompetisi internasional, Rian terpikir untuk bernyanyi solo. Alasannya, bernyanyi solo lebih mudah ketimbang ikut paduan suara. Tantangannya: menyanyi solo dituntut sempurna. "Kita bisa tampil maksimal dengan jenis suara yang kita pilih," katanya. Rian menilai menyanyi di paduan suara dituntut memiliki jenis suara yang seragam dengan rekan lainnya. 

    Sebenarnya ketertarikan Rian bukan hanya pada musik pop kontemporer. "Saya menyukai musik daerah," ujarnya. Menurut dia, karakter musik daerah mengajarkannya beragam jenis suara. Apalagi, sebagai warga Kuningan, ia sangat mengenal dan hafal beberapa lagu Sunda. "Bahasa Sunda saya sangat lancar." AKBAR TRI KURNIAWAN
     
     
     
    Biodata

    Nama: Febrian
    Kelahiran: Kuningan, 26 Februari 1989
    Orang tua: Heriyadi dan Linny Yohana
    Status dalam keluarga: Anak ketiga dari enam bersaudara

    Pendidikan:
    SMA 3 Kuningan, Jawa Barat
    S-1 Jurusan Mass Communication The London School of Public Relations, Jakarta

    Penghargaan:
    Finalis Abang None 2008
    Medali emas Kategori Folklore World Choir Championship 2009
    Pendatang Baru Terbaik untuk Penyanyi Solo Pria Nagaswara Music Awards 2010

    Album:
    Love Is (2010)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?