Perjalanan Spiritual ke Kawasan Kumuh

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "Indonesian Mother and Sudan Boy on Chinese New Year" karya Widyastuti Prabaharyaka. (TEMPO/HERU CN)

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Bulan madu tak selamanya harus dilewatkan di kawasan wisata nan elok. Pasangan suami-isteri, Indrawan dan Widyastuti, justru memilih melakukan perjalanan spiritual ke kawasan kumuh di sejumlah negara. Rekaman perjalanan mereka itu kemudian dibagikan ke publik melalui pameran bertajuk “The Marginalized” di Via Via Kafe Yogyakarta, 27 November hingga 19 Desember 2010.


    Indrawan Prabaharyaka, 25 tahun, dan Widyastuti, 26 tahun, memulai perjalanan panjang ke sejumlah kawasan kumuh pada 26 Desember 2009, setelah mereka resmi menikah. Tiga bulan mereka menjelajah kawasan kumuh di Brunei Darussalam, Philipina, Malaysia, Singapura, Macau dan Hongkong. Hasilnya adalah 50 foto ditambah 17 lukisan dan sketsa yang kini dipamerkan di Via Via Kafe.


    Pasangan suami-isteri ini memutuskan keluar dari pekerjaannya, kemudian menikah dan berbulan madu ke sejumlah kawasan kumuh. “Ini semacam perjalanan spiritual. Mumpung masih muda,” kata Indrawan yang memutuskan keluar dari sebuah lembaga swadaya masyarakat. Widyastuti juga memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai desainer interior di Kuala Lumpur, Malaysia.


    Menurut Indrawan, ia menemukan banyak hal menarik dalam perjalanan spiritualnya. Salah satunya adalah kawasan kumuh di Brunei Darussalam seperti pada fotonya yang berjudul Glorious Slum. Foto ini menampilkan deretan rumah panggung berdinding seng di bantaran kali dengan latar belakang sebuah masjid megah. Inilah rumah-rumah kaum marjinal di Brunei Darussalam.


    “Saya baru tahu jika di Brunei ternyata juga ada kampung kumuh. Lebih heran lagi, meski miskin, mereka semua punya mobil. Mereka tak perlu bekerja karena mendapat bantuan dari kerajaan,” ujar Indrawan. “Namun, itu harus dibayar mahal dengan terpasungnya kebebasan. Pers dan warga tidak bebas berpendapat.”


    Pengalaman menarik juga ditemukan di kawasan kumuh di Philipina. Indrawan dan Widyastuti bahkan tinggal selama sebulan di kawasan itu. Mereka melihat bagaimana kaum miskin itu menjadi obyek kampanye calon pemimpin daerah. Bergantian mereka memberi bantuan kepada warga di kawasan kumuh itu dengan harapan memberikan suaranya pada saat pemilihan kepala daerah nanti. “Persis seperti yang terjadi di Indonesia,” kata Widyastuti.


    Lalu, saat mereka di Hongkong, selain bergaul dengan para TKW, mereka juga menemukan banyak mantan warga Indonesia yang melarikan diri dan memilih menetap di Hongkong pasca tragedi 1965. Mereka juga menemukan banyak warga Indonesia yang kawin dengan warga negara lain di Hongkong.


    Foto berjudul Indonesian Mother and Sudan Boy on Chinese New Year karya Widyatusti adalah salah satu bukti adanya kawin campur di Hongkong. “Ibu itu bernama Titik, asal Magelang. Ia menikah dengan warga negara Sudan dan kini menetap di Hongkong,” Widyastuti menjelaskan.


    Titik tertangkap kamera dalam ekspresi kelelahan. Anak lelakinya tampak hampir terlelap dalam dekapannya. “Keduanya memang kelelahan. Anak lelakinya yang punya darah ras negro memang sangat aktif, sehingga ibunya selalu kelelahan mengasuhnya,” ujar Indrawan.


    Menurut Amanda, penyelenggara pameran, karya pasangan suami-isteri ini menarik untuk dinikmati. “Apalagi cerita di balik karya-karya yang dipamerkan ini sangat menarik sehingga membuat orang lain tertarik untuk melakukan hal yang sama,” katanya.


    Sayangnya, pengunjung pameran tidak bisa bebas menikmati karya-karya Idrawan-Wiwid ini karena harus berbagi ruang dengan pengunjung kafe. “Ini memang alternative art space,” ujar Amanda.



    HERU CN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?