Selasa, 20 November 2018

Amilia Agustin, Cerewet Sampah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Amilia Agustin. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Amilia Agustin. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO Interaktif, Gedung dua lantai bercat hijau di Jalan Haji Samsudin, Bandung, terlihat begitu asri. Rimbunan pohon meneduhi bangunan yang merupakan Sekolah Menengah Pertama Negeri 11 Kota Bandung itu. Di depan setiap ruang kelas terdapat gentong biru dan hijau untuk tempat sampah organik dan anorganik. Tak terlihat adanya sampah yang berserakan atau bertumpuk. 

    Kondisi yang bersih ini berbuah penabalan sebagai Sekolah Sehat se-Kota Bandung. Padahal dulu sekolah yang berada tak jauh dari lapangan Tegal Lega, Bandung, ini pernah dijuluki sekolah paling kotor.
    Amilia Agustin, 14 tahun, siswa kelas IX, berada di balik prestasi sekolah itu. Ia bersama teman-teman dan seorang gurunya tergerak membuat komunitas pengelolaan sampah berbasis sekolah dengan program "Go to Zero Waste School". "Jijik aja pas baru masuk SMP, melihat kotor banget," kata Ami--sapaan akrab Amilia--saat ditemui di sekolahnya Rabu lalu. 

    Kegiatan ini bermula dua tahun lalu ketika ia dan teman-temannya mengikuti workshop pengelolaan sampah yang diadakan Yayasan Pengembangan Bioscience dan Bioteknologi. Ami mencoba mengaplikasikan yang ia dapat di pelatihan tersebut di sekolahnya. "Awalnya kampanye agar jangan pakai plastik dan buang sampah sembarangan," katanya. Saat itu teman-temannya tidak peduli. "Malah saya dibilang cerewet." Namun usahanya lama-lama berhasil. 

    Ami lalu menghimpun teman-temannya membuat bank sampah. Kegiatan ini bekerja sama dengan Bank Mitra Syariah. "Kami menabung sampah anorganik, seperti botol, nanti diambil Bank Mitra dan akhirnya bisa jadi rupiah, deh" katanya riang. Biaya operasional kegiatan itu berasal dari dana patungan kelompok. 
    Setelah beberapa bulan, Ami berinisiatif mengajak teman-temannya mengajukan program karya ilmiah remaja Go to Zero Waste School itu ke program Young Change Makers dari Ashoka Indonesia. Asosiasi global para wirausahawan sosial itu tertarik pada ide bank sampah. Walhasil, kelompok anak baru gede itu mendapat biaya operasional sebesar Rp 2,5 juta. 

    Program Go to Zero Waste School, kata Ami, dibagi dalam empat bidang pengelolaan sampah, yaitu pengelolaan sampah anorganik, pengelolaan sampah organik, pengelolaan sampah tetrapak, dan pengelolaan sampah kertas. 

    Dari empat cara pengelolaan sampah itu, Ami dan kelompoknya bisa membuat tas dan pupuk kompos. Mereka juga menjalin kerja sama dengan Yayasan Kontak Indonesia dengan menukarkan sampah tetrapak. Adapun sampah kertas bisa didaur ulang dengan membuat beragam kerajinan, komik, agenda, dan notes. Untuk program pemanfaatan kertas bekas ini, ia bekerja sama dengan Greeneration Indonesia dalam program Kebunku (Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku).

    Dari program tersebut, anak tertua pasangan Agus Kuswara dan Elly Maryana Dewi ini aktif mensosialisasi program pengelolaan sampah bagi seluruh warga sekolahnya dan masyarakat di sekitar sekolah. Saat kelas VIII, Ami dipercaya menjadi duta pelatihan pengelolaan sampah kepada sekolah lainnya. Sedikitnya sepuluh sekolah menjadi binaan Ami, di antaranya SMP Alfacentaury Bandung, SMPN 48 Bandung, SMPN 40 Bandung, dan SMPN 50 Bandung.

    Tidak hanya memberdayakan teman-teman sekolahnya, Ami pun mengajak ibu-ibu warga di sekitar sekolah membuat kerajinan mendaur ulang sampah. Ia memanfaatkan satu mesin jahit. "Sistemnya bagi hasil," katanya. Berkat beragam kegiatan ini, Ami mendapat dana apresiasi sebesar Rp 40 juta dari Satu Indonesia Award, program penghargaan untuk kaum muda dari Tempo Institute bekerja sama dengan Astra pada bulan lalu. Uang itu akan ia belikan lima mesin jahit untuk pengembangan usaha ibu-ibu dan satu unit sepeda untuk perpustakaan keliling bagi anak-anak jalanan di daerah Tegal Lega. 

    Ami berharap program itu bisa dilanjutkan adik-adik kelasnya setelah ia lulus. Aset dari kegiatan ini--termasuk sisa uang Rp 40 juta--akan diserahkan kepada adik-adik kelasnya. "Biar programnya lebih maju dari kami," ujarnya. Ia bertekad, kecerewetannya mengelola sampah bakal berlanjut di SMA. ANGGA SUKMA WIJAYA 
     
     
    BIODATA:

    Nama: Amilia Agustin
    Kelahiran: Bandung, 20 April 1996 
    Sekolah: SMPN 11 Bandung
    Nama Orang Tua: Agus Kuswara dan Elly Maryana Dewi

    Organisasi: 
    l Kelompok Ilmiah Remaja
    l Matematika Club
    l Komunitas Sahabat Kota
    l Balda Kuring
    l Kebunku
    l Archipelago

    Penghargaan:
    l Satu Indonesia Award 2010 Bidang Pendidikan

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.