Perempuan Putus Sekolah Dilatih Menjadi Penari Gandrung Profesional  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sumardi 40 tahun mengecat miniatur kayu penari gandrung di pusat kerajinan kayu kelurahan mojopanggung, giri banyuwangi jawa timur Selasa (17/03). miniatur tari gandrung dijual berbagai ukuran dengan harga Rp 15 ribu - Rp 800 ribu per biji.dipasarkan ke denpasar dan di ekspor ke Malaysia dan Singgapura. (TEMPO/Aman Rochman)

    Sumardi 40 tahun mengecat miniatur kayu penari gandrung di pusat kerajinan kayu kelurahan mojopanggung, giri banyuwangi jawa timur Selasa (17/03). miniatur tari gandrung dijual berbagai ukuran dengan harga Rp 15 ribu - Rp 800 ribu per biji.dipasarkan ke denpasar dan di ekspor ke Malaysia dan Singgapura. (TEMPO/Aman Rochman)

    TEMPO Interaktif, BANYUWANGI - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Mulai Kamis (18/11), melatih 25 perempuan muda putus sekolah untuk menjadi penari Gandrung profesional.

    Mereka melaksanakan latihan di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, selama 40 hari hingga 27 Desember mendatang. "Selama 40 hari itu mereka harus menginap di rumah warga," kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Salehuddin, saat membuka acara di Pelinggihan Museum Blambangan, Kamis siang (18/11).

    Menurut Salehuddin, pelatihan bagi penari Gandrung profesional itu sudah dilaksanakan sejak 2006 lalu. "Saat ini merupakan angkatan keempat," ujarnya.

    Kepala Seksi Adat Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Agus Siswarso menjelaskan, 25 perempuan berusia 15-20 tahun itu dilatih menari Gandrung supaya mereka nantinya menjalani profesi sebagai penari Gandrung. Selain mencetak generasi baru, pelatihan itu bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja.

    Menurut dia, materi pelatihan tidak hanya meliputi seni gerak melainkan juga seni vokal karena seorang penari Gandrung juga harus mampu melantunkan gending-gending Gandrung dalam bahasa Banyuwangi. "Mereka dilatih oleh 8 instruktur dari kalangan penari Gandrung senior," tuturnya.

    Temu Misti, 56 tahun, salah satu instruktur mengatakan, saat ini generasi muda yang mau menjadi penari Gandrung profesional sangat langka. Gandrung profesional, kata dia, adalah Gandrung yang menari sesuai pakem selama semalam suntuk hingga menjelang fajar.

    Menurut dia, saat ini banyak penari Gandrung yang menari tidak sampai semalaman dan terkadang diselingi mabuk-mabukan. "Malah ada yang menjual bir di panggung," ucapnya.

    Gandrung merupakan kesenian khas Banyuwangi yang kemunculannya sebagai perwujudan rasa syukur masyakat setiap habis panen. IKA NINGTYAS.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.