Memperbaiki Hubungan Irak-AS dengan Musik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • A Call to Heal

    A Call to Heal

    TEMPO Interaktif, Fort Worth, Texas - Irak kembali masuk berita utama karena serangan mengerikan ke sebuah gereja Katolik di Baghdad yang menewaskan 58 orang. Ini adalah satu lagi peristiwa yang semakin merenggangkan hubungan Amerika-Irak, dan yang, menurut saya, mengisyaratkan kembali perlunya lebih banyak kesempatan untuk pertukaran dan interaksi di antara kedua negara.

    Pada musim panas 2005, ketika suara-suara peluru meriam dan kaca-kaca pecah membahana di seantero Irak, saya mengambil beberapa gitar dari rumah saya di Charlottesville, Virginia, Amerika Serikat, dan menjualnya, sehingga saya bisa membuat CD tentang penyembuhan. Ketika uang itu habis, saya menggunakan sebagian besar simpanan pensiunan saya dan cek bantuan dari pemerintah George W. Bush untuk menyelesaikan CD itu, yang diluncurkan pada musim gugur 2008.

    Saat perang berlarut-larut pada 2005, saya menjadi putus asa tentang tujuan negara kami di Timur Tengah. Itulah saat saya memutuskan untuk membuat sebuah pernyataan, dan saya ingin pernyataan ini sebagai sebuah pesan yang positif.

    Pernyataan saya tersebut bertajuk “A Call to Heal”, sebuah CD musik yang saya buat bersama musisi Irak unggulan Grammy, Rahim AlHaj, dan sekumpulan musisi kenamaan dari Charlottesville. Kelompok ini kemudian dikenal sebagai Baghdad Rain Project. Sampai saat ini ratusan keping CD kami telah disumbangkan ke berbagai organisasi nonpemerintah dan organisasi nirlaba yang bekerja di atau dengan Timur Tengah. CD ini adalah cara kami untuk mengucapkan “terima kasih” kepada mereka yang mengupayakan perdamaian di kawasan ini, tapi kami juga ingin memberi mereka contoh nyata tentang seorang Amerika dan seorang Irak yang menjembatani perpecahan budaya dan bekerja bersama secara positif dan konstruktif.

    Pada mulanya saya ingin bekerja sama dengan sebanyak mungkin musisi Irak, tapi saya sadar bahwa hanya ada segelintir musisi Irak di Amerika Serikat. Kemudian saya membaca sebuah cerita di surat kabar lokal tentang seorang Irak yang piawai memainkan oud (alat musik mirip gitar), bernama AlHaj. Saya menyuratinya untuk menanyakan kemungkinan bekerja sama. Beberapa minggu kemudian kami bertemu di sebuah studio rekaman kecil dan menjadi teman sejak saat itu.

    Seperti halnya banyak orang di pengasingan, AlHaj punya kisah luar biasa: dia orang yang punya bakat seni, yang belajar di Institut Musik di Baghdad di bawah asuhan musisi legendaris Munir Bashir. AlHaj adalah tahanan politik pada masa rezim Saddam Hussein. Ia meninggalkan Irak saat Perang Teluk pertama, tapi para penjaga perbatasan Irak memaksanya meninggalkan oud kesayangannya di perbatasan Yordania.

    AlHaj akhirnya mendapat suaka di Amerika Serikat dan tinggal di Albuquerque, New Mexico, karena tempat ini mengingatkannya akan tanah airnya. AlHaj kembali ke Irak pada 2004 untuk menengok keadaan keluarga dan teman-temannya, dan kehilangan semangat begitu menyaksikan meningkatnya kekerasan sektarian dan kerusakan parah infrastruktur negaranya.

    Yang paling menjadi perhatian AlHaj adalah anak-anak Irak. Saat ia berkeliling Irak, ia bertanya kepada anak-anak muda yang ia temui tentang impian mereka di masa depan dan berulang kali mendapat jawaban bahwa mereka tidak lagi punya impian. Adanya negara di mana anak-anak tak punya impian membuat saya berpikir lebih dalam tentang dampak psikologis perang, yang mengilhami dua lagu terpenting di CD ini: When I Leave This Place dan The War In My Head.

    Orang-orang sipil dan para tentara yang mengalami perang harus hidup dengan bayangan dan emosi tentang perang sepanjang hayat mereka. Mereka tidak pernah bisa benar-benar meninggalkan tempat itu, meski pertempuran sudah usai.

    Sejak membuat CD ini, saya mengusung minat saya pada Timur Tengah ke dunia akademis. Saya seorang Penasihat Internasional di Texas Christian University, Fort Worth, Texas dan saya sedang meneliti Sejarah Timur Tengah. Meski masih ada kekerasan di Baghdad, saya berencana melakukan kunjungan pertama saya ke Irak pada musim panas 2011.

    Pergi ke Irak akan melengkapi petualangan saya. Saya memulai “perjalanan” ini lima tahun yang lalu dengan harapan bisa membangun jembatan pengertian antara orang Amerika dan Irak. Sekaranglah saatnya bagi saya untuk melintasi jembatan itu.

    ###

    * James English adalah Penasihat Internasional di Texas Christian University, Fort Worth, Texas. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.BaghdadRain.com dan www.RahimAlhaj.com. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.