Agenda Seni Hari Ini  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ine Febriyanti.(TEMPO/Mazmur A. Sembiring)

    Ine Febriyanti.(TEMPO/Mazmur A. Sembiring)

    TEMPO Interaktif, Jakarta

    Pentas Monolog “Surti dan Tiga Sawunggaling”

     

    Waktu: 12 & 13 November 2010, Pukul 20.00 WIB

    Tempat: Teater Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta

     

    Naskah: Goenawan Mohamad

    Sutradara: Sitok Srengenge

    Aktor: Ine Febriyanti

     

    HTM Rp 50.000 & Rp 25.000 (Pelajar/Mahasiswa)

     

     

    Sudah sekitar tujuh tahun Aktris Ine Febriyanti tidak tampil dalam panggung teater. Kita ingat perempuan ini sebelumnya pernah terlibat pementasan-pementasan yang cukup berbobot. Ia pernah menjadi pemeran utama memainkan karya August Strindberg: Miss Julie (1999), lalu karya Riantiarno, Opera Primadona (2000), dan ikut ambil bagian dalam kolaborasi bersama Teater Rin Ko Gun di Jepang (2001) menampilkan kisah pemburu ikan paus Lamalera: The Whalers of South Sea. Kemudian dalam arahan sutradara Eka D. Sitorus, ia menjadi protaganis utama Ekstremis (2003).

     

    Dan kini, setelah lama absen, seorang diri dengan disutradarai Sitok Srengenge ia bakal memainkan Surti, monolog karya Goenawan Mohammad, di Teater Salihara, Jakarta, pada 12-13 November 2010.

     

    Karakter tokoh dalam monolog ini berbeda jauh dengan peran-peran yang pernah dilakoni Ine. Dalam naskah-naskah sebelumnya, Ine tampil sebagai sosok seorang perempuan yang keras, binal, bahkan jalang. Kini ia menjadi Surti¯seorang wanita Jawa biasa¯seorang ibu rumah tangga, yang mengisi hari-harinya dengan membatik setelah suaminya, Jen, seorang aktivis pergerakan mati dieksekusi Belanda karena dituduh seorang komunis.

     

    Tapi, drama ini bukan drama realis biasa. Bahkan boleh dikatakan drama ini setengah surealis. Tingkat kesulitan monolog ini cukup tinggi karena isinya bergerak antara kenyataan sehari-hari dan imajinasi. Saat membatik dan mengenang detik-detik terakhir suaminya, Surti melihat tiga burung Sawunggaling yang digambarnya hidup dan terbang keluar dari kain batikannya. Dan menjelang dini hari, ketiga burung itu kembali masuk ke kain mori.

     

    Dramaturgi monolog ini tak menyajikan konflik secara konvensional. Konflik terjadi saat bagaimana Surti berdialog, menerima informasi dari burung-burung imajinasinya itu setelah terbang malam. Dari mereka Surti mendapat cerita-cerita yang mendebarkan batinnya. Burung-burung itu ternyata menguntit suaminya sebelum sang suami mati, burung itu menyaksikan bagaimana anak buah suami Surti atas perintah Jen, sang suami menyerbu sebuah bivak Belanda, namun tiga di antaranya tewas. Salah satu burung itu juga melaporkan bahwa sang suami memiliki kekasih gelap, seorang pejuang, yang jauh lebih muda.

     

    Tantangan Sitok Srengenge adalah bagaimana menghidupkan naskah yang berlapis-lapis ini. Bagaimana ia mampu menjadikan Ine Febriyanti memerankan lebih kurang 10 karakter yang berbeda. Pertama sebagai Surti sendiri, kemudian tiga karakter burung: Cawir, Anjani, dan Baira. Karakter kekasih gelap Jen. Lalu juga karaker laki-laki, antara lain, Zen, dan tokoh-tokoh lain yang semuanya berada dalam dunia antah berantah.

     

    Ine harus mampu menampilkan lapis-lapis cerita ini secara mengalir. Maka dari itu, teknik cerita dan penghayatan Ine harus bagus. Salah penanganan penyutradaraan, Surti akan terlihat lebih sebagai seorang perempuan yang tak waras. Padahal bukan itu yang dimaksudkan naskah. Naskah ini ingin berkisah mengenai dunia batin perempuan Jawa yang terluka.

     

    Selama sebulan lebih Sitok bersama asisten sutradara Seno Joko Suyono menggembleng Ine Febriyanti. Mereka membedah bagaimana monolog ini sesungguhnya berjalan dengan struktur penuh ulang alik waktu, antara dunia kongkrit dan dunia rekaan. Dalam proses semakin ditemukan bahwa alam khayali Surti dalam naskah Goenawan ini penuh dengan penglihatan akan kematian. Misalnya, saat dalam alam khayalnya Surti menceritakan bagaimana burung bernama Baira bagai Jatayu menabrak tiga ekor Mandar untuk menyelamatkan dirinya. Itu sesungguhnya sebuah tindakan heroik sang burung untuk mencegah agar dalam alam kenyataan Surti tidak ikut dibunuh tentara Belanda.

     

    Untuk dramatika pemanggungan, Sitok menambah detail-detail kepada naskah. Tembang yang dilantunkan Surti di atas itu, misalnya, tak ada dalam naskah asli Goenawan. Tembang itu ditambahkan untuk menyajikan bagaimana pada suatu momen saat hendak membatik Surti tiba-tiba dilanda kesunyian yang amat sangat, ketakutan tanpa sebab yang berbaur firasat buruk. Sehingga ia meredam kecemasan dengan menembang.

     

    Tambahan utama lain adalah pada unsur tari. Sitok meminta koreografer Hartati untuk membuat koreografi ketiga Sawunggaling itu. Hartati menciptakan gerakan-gerakan burung yang unik dan berbeda untuk Ine. Sitok juga menginginkan cahaya tak sekadar menjadi ilustrasi panggung tapi juga sebagai aktor. Maka penata cahaya Clink Sugiharto – memanfaat tiga warna Sawunggaling itu merah kembang sepatu, biru laut selatan, warna ungu – menjadi unsur-unsur cahaya yang dalam adegan bisa menjadi penanda dialog.

     

    Bunyi-bunyian dan suara yang ditata komposer Jeffar Lumban Gaol juga diarahkan lebih alegoris. Suara ketiga Sawunggaling itu misalnya. Sawunggaling sesungguhnya makhluk mitologis yang tak ada referensinya. Maka dari itu Sitok meminta kepada Jeffar agar suara burung yang muncul adalah suara burung asosiatif bukan burung tertentu seperti Burung Gagak atau Burung hantu. “Ini suara burung entah,” kata Sitok.

     

    Instrumen utama yang digunakan Jeffar adalah rebab. Tapi, alat musik gesek ini juga diperlakukan tidak biasa. Kita akan mendengar rebab ini digesek –bagai sebuah sayatan yang panjang tanpa putus makin tinggi makin mengiris muram. Sebuah bunyi yang berupaya menyelami dunia dalam¯seorang perempuan yang merasakan kepedihan pembunuhan.

     

    Tantangan yang lain adalah setting panggung. Sitok menginginkan panggung yang minimalis, tapi mampu mewakili dunia mistis, dunia gaib Surti. Maka Sitok memilih lantai, kursi semua berwarna serbaputih. Putih menurutnya mewakili ketakterbatasan imaji. Kedua, dengan bantuan arsitek Avianti Arman ia menginginkan latar panggung berupa cermin. Dalam naskah Goenawan, Sawunggaling adalah makhluk cermin. Segala wajah, kata-kata burung itu akan dipantulkan kembali. Dengan backdop berupa cermin ini, maka kita bisa melihat segala gerak-gerik Ine Febriyanti yang menjadi Surti seolah dipantulkan .

     

    Setting juga menghadirkan keranda. Penonton bisa melihat ada keranda putih yang sepanjang pertunjukan seolah tergantung. Pada klimaks – setelah Surti bercerita panjang lebar tentang kematian suaminya ¯dan agar menghalau tragedi lain yang bakal terjadi, ia harus menuntaskan membatik, memperbaiki sayap-sayap burungnya yang cacat, penonton akan melihat seorang laki-laki telanjang melintas di bawah keranda.

     

    Seluruh tubuh laki-laki itu putih. Apakah itu arwah Jen? Silahkan Anda menonton.

     

     

     

    Pameran Nyoman Sujana dan Soegiono "Mind Scape"

     

    Waktu: 11 – 18 November 2010

    Tempat: Gedung B, Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta

     

    Kurator : Eddy Soetriyono

     

     

     

     

    11.11 From Duality to Oneness : Diddi Agephe + Andy Ayunir

     

    Waktu: 11 November 2010

    Tempat: Planetarium Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, Jakarta

     

     

    Dua tokoh terdepan dan aikon musik elektronik Indonesia Didi Agephe dan Andy Ayunir menyatu memainkan beberapa komposisi mereka yang berkaitan dengan frekuensi, vibrasi, resonansi dan kesadaran semesta. Duet Diddi & Andy akan menghantarkan komposisi musik melalui media elekronik, selain tentunya juga peralatan standar seperti softsynth, digital sampler, workstation, dan synthesizer itu sendiri. Sesuai dengan temanya, yang mengajak penonton memahami ruang semesta sambil berkontemplasi, pergelaran musik ini digelar di Planetarium, Jakarta, sehingga sayang untuk dilewatkan!

     

    Repertoires :

    • Big Bang 14,000,000,000 BC - Universe Created

    • Outer and Inner Journey - Knowing Yourself in the Universe

    • The Dark Age of the Universe

    • The Ambassador of Light – Awakening

    • The Hadean Era

    • Heavy Meteoric Bombardment - Cosmic Rain

    • 2,500,000,000 - 543,000,000 BC - The Proterozoic Phase of the Precambrian Eon

    • 245,000,000-210,000,000 BC - The Triassic Period of the Mesozoic Era

    • Message from Pleiadian

    • 11:11 to the Cosmic Consciousness

     

    TEMPAT TERBATAS.

    Harga tiket : Rp. 100.000,-

    Atau dapatkan tiket spesial Rp. 125.000,- sudah termasuk buku best-seller “The Power of Sound” + CD!

     

    Pemesanan tiket / informasi lebih lanjut hubungi : 0818-720830 / 0816-1351122

    Pemesanan tiket melalui : 021-97959286 (SMS) / 021-60306373 (Telp / SMS) format: Nama Pemesan / Harga / Jumlah pesanan

     

     

    Konser musik “Accoustic Jazz: The Maurino Taufic Duo”

     

    Waktu: 11 November 2010

    Tempat: Lembaga Indonesia Prancis, Jalan Sagan, Yogyakarta

     

    Tiket gratis diambil di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta, mulai 4 November 2010 (tiket terbatas)

     

     

     

     

    Pameran Sketsa “Soerabaia 1945: Exhibition of Sketches and Caricatures by Australian Artist Tony Rafty”

     

    Waktu: 10 – 20 November 2010

    Tempat: Galeri AJBS, Jalan Taman Ratna 14, Surabaya, Jawa Timur

     

    Kedutaan Besar Australia turut merayakan Hari Pahlawan dengan mempersembahkan pameran sketsa, surat dan karikatur penting berjudul “Soerabaia 1945: Exhibition of Sketches and Caricatures by Australian Artist Tony Rafty”. Pameran itu dibuka oleh Rafty sendiri pada Rabu (10/11) di Galeri ABJS, Surabaya, Jawa Timur, dan berlangsung hingga 20 November mendatang.

     

    Koleksi Rafty itu mengungkap pengamatannya tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia dan peran pendukung yang dimainkan oleh Australia dalam membantu perjuangan tersebut. Kebanyakan sketsanya dibuat selama ia tinggal di Indonesia pada 1945, ketika bekerja untuk harian The Sun, Sydney. Ia menjadi saksi mata sejumlah peristiwa bersejarah, termasuk Pertempuran Surabaya-- pertempuran yang membantu memobilisasi dukungan Indonesia dan internasional untuk kemerdekaan Indonesia--yang sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

     

    Surat-surat Rafty, yang ditulis pada waktu itu, mengungkapkan simpatinya terhadap perjuangan Indonesia dan rasa hormatnya kepada sahabat dan pemimpin yang sedang muncul pada waktu itu: Presiden Soekarno. Ia juga berteman dengan sejumlah tokoh penting Indonesia, termasuk sesama seniman, seperti Basuki Abdullah dan Affandi, yang banyak di antara mereka tercermin dalam koleksi ini. Selama Perang Dunia Kedua, Rafty menjadi seniman perang resmi untuk Angkatan Bersenjata Kekaisaran Australia di Papua Nugini, Kalimantan, dan Singapura.

     

    Selama perjalanan karir Rafty, karyanya itu telah dipamerkan di seluruh dunia dan lebih dari 15 ribu karikatur telah diterbitkan di surat kabar dan majalah besar. Pada 1990 Rafty menerima penghargaan Order of Australia Medal atas jasa-jasanya kepada media.

     

    "Saya gembira menyambut kembali kedatangan salah satu kartunis dan karikaturis ternama Australia ke Indonesia, negara yang sangat ia sayangi. Melalui karyanya, warga Indonesia dan Australia bisa belajar tentang hubungan antarwarga yang kukuh antara kedua negara kita dan bagaimana hal ini memainkan peran yang signifikan selama perang kemerdekaan Indonesia," ujar Kuasa Usaha Kedutaan Besar Australia, Paul Robilliard, dalam pernyataan persnya.

     

    Sebagai bagian dari pameran ini, Kedutaan Besar Australia juga akan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan lain di Jakarta dan Surabaya dengan para seniman Indonesia, mahasiswa, pelajar sekolah kembar BRIDGE dan alumni Australia.

     

    Pameran dan kunjungan Rafty ke Indonesia disponsori oleh Kedutaan Besar Australia dalam kolaborasi dengan harian Jawa Pos dan Garuda Indonesia. Banyak koleksi Indonesia dari masa 1945 karya Rafty yang masih tersimpan di Perpustakaan Nasional Australia di Canberra.

     

     

     

    Konser Gadjah Mada Chamber Orchestra : A Journey from Classic to Modern

     

    Waktu: 14 November 2010, Pk. 19.00 - 22.00 Wib

    Tempat: Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada (Gedung Purna Budaya UGM), Bulaksumur, Yogyakarta

     

    Bintang Tamu: Singgih Sanjaya (konduktor tamu), Anggito Abimanyu (solois flute)

     

    Sebuah Konser yang mempersembahkan repertoar-repertoar dari zaman klasik hingga modern, seperti La Primafera (Spring) by A.Vivaldi, Nessun Dorma (Turandot) by Giacomo Puccini, August's Rhapsody from OST August Rush, Cloud Smile from OST Final Fantasy VII, Tanah Jawi, Jali-Jali

    dan repertoar lainnya.

     

    Tiket: Rp. 15.000

    Pemesanan: Pandu (085743552259), Nessya (085735036637)

     

     

    Pameran Tunggal Teguh Ostenrik "Sarong, Identity?"

     

    Waktu: 6-20 November 2010 Pukul 10.00-22.00 WIB

    Tempat: Exhibition Hall Jakarta Art District, Lower Ground East Mall, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta

     

    Kurator: Jean Couteau

     

    Pameran ini menyajikan karya dua dan tiga dimensi, yaitu sembilan lukisan dan dua belas patung life size yang masing-masing bertautan secara keseluruhan merujuk pada tema utama yang mencoba mengkritik kehidupan sosial dan pola beragama di Indonesia.

     

     

    Pameran Bersama "Silent Victim"

     

    Waktu: 05-28 November 2010

    Tempat: Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space, Bukit Pakar Timur No.100, Bandung, Jawa Barat

    Kurator: Syarifuddin

     

    Bale Tonggoh Selasar Sunaryo Art Space menghadirkan lima orang perupa yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Mereka adalah Bambang B.P., Dhudung, Isa Ansory, Jonny Ramlan dan Keo Budi Harijanto. Tema Silent Victim pada pameran ini membingkai persoalan korban yang terbisukan. Tema ini sengaja tidak dibingkai secara spesifik atau ketat pada satu korban di wilayah tertentu, semisal wilayah politik. Sehingga diperoleh perspektif yang beragam mulai dari soal sejarah, rumah tangga, pembunuhan yang seperti rutin membayang di pelbagai media serta tekanan struktur sosial yang menggapai ruang psikologis.

     

     

    Pesta Seni Multidimensi Bulungan (Seni Rupa, Tari, dan Teater)

     

    Waktu: 5-12 November 2010

    Tempat: Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan

     

     

    Pameran Tunggal Abas Alibasyah "Gema Waktu"

     

    Waktu: 4-14 November 2010

    Tempat: Galeri Nasional Indonesia, Jalan Medan Merdeka Timur 14, Jakarta

    Pameran buka setiap hari, dari pukul 09.00-19.00 WIB

     

    Pameran ini juga disertai peluncuran buku Gema Waktu - Lukisan-lukisan Abas disusun oleh Agus Dermawan T.

     

     

    Pameran Seni Visual "Novemberan" DKV UK PETRA

     

    Waktu: 4-28 November 2010

    Tempat: Galeri Seni House of Sampoerna, Surabaya, Jawa Timur

    Kurator: Agus Koecink

    Produser: Obed Bima Wicandra & Anang Tri Wahyudi

     

    Peristiwa yang sangat heroik pada 10 Nopember 1945 di Surabaya, telah tercatat dalam sejarah bangsa ini sedemikian melekatnya sehingga menjadi tidak wajar ketika Indonesia, apalagi masyarakat Surabaya lupa bahwa sejengkal tanah yang dipijak adalah tanah bersejarah yang berdarah-darah. Setelah sekian lamanya peristiwa itu tercatat dalam literatur yang menjadi tugas dari penghuni Surabaya adalah bagaimana mereka mengingatnya dan menjadi refleksi dalam kehidupan kota.

     

    Para seniman: Anang Tri Wahyudi, Aristarchus Pranayama, Anvin Kurniawan, Arghubi Rachmadia, Asthararianty, Benny Wicaksono, Bertono Adi, Bing Bedjo Tanudjaja, Budi Prasetyadi, Celcea Tiffany, Nani Designani, Dhany Wijaya, Emka Satya Poetra, Erandaru, Ivan "Skinhead", Komunitas Tiada Ruang, Luri Renaningtyas, Maria Nala Damayanti, Martien Ardiyanto, Miki Rasta, Novi Irawan, Ang Siau Fang & Merry Sylvia, Obed Bima Wicandra, Victor

     

     

    Pameran "Poisonous Mollusk with a Single Spiral Shell into which the Whole Body can be Withdrawn"

     

    Waktu: 30 Oktober-13 November 2010

    Tempat: Edwin's Gallery, Kemang Raya No.21, Jakarta Selatan

     

    Dalam pameran yang dikurasi Agung Hujatnikajennong ini, dua seniman, Cinanti Astria Johansjah dan Endira Fitriasti Julianda, menampilkan kenangan, ingatan dan obsesinya di atas kanvas tentang dunia hewan dengan bantuan atau teknik digital.

     

     

    Pameran Tunggal Dodit Artawan "Sneakerhead Painting: Double Fetishism"

     

    Waktu: 6-12 November 2010

    Tempat: SIGIarts, Jalan Mahakam I No. 11, Blok M, Jakarta Selatan

    Kurator: Asmudjo J. Irianto

     

     

    Pameran Seni Rupa "Passage to the Future: Art From New Generation in Japan"

     

    Waktu : 28 Oktober - 16 November 2010, Senin-Sabtu pukul 11:00-20:00 WIB, Minggu pukul 11.00-18.00 WIB (Hari libur nasional tutup).

    Tempat: Galeri Salihara, Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

     

    Pameran ini berfokus pada karya seni yang muncul di Jepang pada awal abad ke-21. Pada tahun 1990-an terlihat perubahan besar dalam tatanan ekonomi dan politik dunia, dan banyak orang meresponnya dengan berpaling dari isu-isu besar dan berkonsentrasi pada bagian hidup yang lebih kecil dan lebih intim. Dalam seni kontemporer di seluruh dunia pun tampak kecenderungan para seniman untuk menaruh perhatian pada kehidupan sehari-hari dan berfokus pada ekspresi perasaan dan persepsi personal.

     

    Pameran ini menampilkan lukisan, patung, instalasi, foto, dan video karya sebelas seniman Jepang yang merupakan tanggapan serupa terhadap kondisi dunia saat ini. Soal-soal yang mereka angkat berasal dari lingkungan sekitar dan karya yang mereka hasilkan sangat mencerminkan realitas pribadi seniman. Karya mereka memiliki efek visual yang kaya dan menunjukkan ketertarikan yang kuat pada proses pembuatan artefak.

     

     

    Pameran Matahati Jogja oleh Kelompok Matahati

     

    Waktu: 1 - 20 November 2010

    Tempat: Sangkring Art Space, Nitiprayan, Rt 1/20 No. 88 Ngestiharjo Kasihan, Bantul, Yogyakarta

     

     

    Mois de la Photo 2010: "Elements" Exhibitions

     

    Waktu: 2 - 19 November 2010

    Tempat: LIP/CCF Yogyakarta, Jalan Sagan No. 3, Yogyakarta

     

     

    Akademi Samali Versus Fight for Rice

     

    Waktu: 26 Oktober-26 November 2010

    Tempat: Fight For Rice Store, Jalan Parangtritis No. 26, Yogyakarta

     

    Akademi Samali bekerja sama dengan FFR (Fight For Rice) & Lanting studio, Penerbit Cendana Art Media, Indinesian Art Archive serta Penerbit Gajah Jambon, mengadakan acara di Yogyakarta:

     

    Workshop Komik Bersama Akademi Samali (untuk pelajar)

     

    Pameran Komik Normal (Akademi Samali) | 26 Oktober-26 November 2010 | 10.00-21.00 wib | FFR Store | Jl. Parangtritis no. 26 Yogyakarta | Buka Selasa-Minggu. Hari Senin Tutup.

     

    Informasi Errie: 0816 18 31 384 Ratna: 0817 277 7679 E: daging.tumbuh@gmail.com | http://dgtmb.blogspot.com/

     

     

    Pameran Alat Musik Tradisional Nusantara "Harmoni Nusantara"

     

    Waktu: 12 Oktober - 12 November 2010

    Tempat: Museum Nasional, Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakarta


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.