Selera Resonansi Gitar Elektrik Masa Kini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung melihat-lihat gitar listrik di area Java Jazz Festival 2010. [TEMPO/ Panca Syurkani]

    Pengunjung melihat-lihat gitar listrik di area Java Jazz Festival 2010. [TEMPO/ Panca Syurkani]

    TEMPO Interaktif, Bandung - Pemilihan gitar elektrik oleh gitaris masa kini secara umum karena mereka gemar mengejar kepuasan untuk memunculkan nuansa akustik dan elektrik secara berbarengan dari instrumen dawai ini.

    "Gitaris sekarang kebanyakan senang dengan tangkapan suara lebih sensitif dari pick up neck (leher gitar) yang bisa mengeluarkan resonansi dari kayu gitar," kata Fadli Arisandi, penata suara sekaligus product specialist instrumen musik saat berbincang-bincang dengan Tempo, Kamis (4/11) dini hari dalam acara Flying with Ibanez.

    "Makanya gitar elektrik tipe modern itu yang perlu dilihat sekarang dari pick up-nya," tuturnya melanjutkan obrolan ketika beberapa gitaris muda Bandung melangsungkan aksinya di Butterfly Cafe, Planet Dago itu.

    Jika merunut karakter suara gitar elektrik modern dari segi noise, tambah Fadli, "Sekarang lebih noiseless. Distorsi lebih tebal. Untuk gitar modern, perbedaan hasil suara ini bisa jelas dilihat jika membandingkan antara keluaran sekitar 2010 dan generasi gitar 1980-an yang noise-nya itu masih bisa terdengar."

    "Kalau dari segi material seperti kayu, tremolo, atau bridge sih tidak begitu banyak berubah. Yang jelas, yang perlu diperhatikan untuk tremolo (sekarang) itu jika satu senar putus jangan sampai berpengaruh fals ke senar lainnya," ujar Danu Erlangga, perwakilan dari Ibanez.

    Pun dengan gaya inovasi titanium yang ditanam di dalam leher pada gitar elektrik high-class. Komposisi material tubuh masih menggunakan kayu-kayu seperti mahogany, basswood, dan maple. Begitu juga dengan maple atau walnut untuk leher gitar.

    Untuk tren selera gitaris terhadap gitar elektrik hollow body - yang condong identik digunakan mencipta lagu beraliran jazz dan blues - menurut Fadli juga sama seperti gitar elektrik metal dan hard rock. "Karakter (resonansi) 'kayu'-nya sama-sama dicari. Namun, kalau soal distorsi itu lebih dikesampingkan," jelasnya.

    Selera seperti ini tidak hanya teramati pada genre hard rock, rock and roll, jazz, atau blues. "Band-band sekarang yang 'arah'-nya Melayu atau pop-pop begitu juga begini. Soal gitar, mereka mengikut saja dengan pakai gitar elektrik metal," terang Fadli.

    Instrumen boleh jadi sama, tetapi setiap genre maupun gitaris memiliki karakter. "Apapun, mau dibawa rock atau Melayu, yang penting kreasi bermainnya," kata Beng Beng, gitaris Pas Band ketika membahas trik seputar gitar dalam acara malam itu.

    Perihal warna gitar elektrik metal, tahun ini produsen gitar mengusung nuansa cerah seperti biru laser dan kuning. Mengingat jika melihat keluaran tahun lalu, sentuhan hitam, putih, dan merah masih mendominasi.

    Sementara untuk gitar hollow body tahun ini, kemunculan warna ternyata kembali lagi ke era 1960-an. Nuansa gading, sunburst, atau dark sun di antaranya yang bisa dijumpai.


    GILANG MUSTIKA RAMDANI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.