Bandung World Jazz Bakal Hadirkan Genre Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bandung - Kolaborasi seni antara musisi, seniman, dan komponis akan ditampilkan selama dua hari, 6-7 November, pada Bandung World Jazz (BWJ) 2010. "Dasarnya kultural. Ini akan menampilkan genre baru," ujar Dzaelani, kurator acara sejak 2009 itu dalam konferensi pers di Hotel Aston Primera Pasteur, Rabu (3/11).

    Menurutnya, sekitar 70 komposisi jazz baru khas Indonesia akan lahir melalui gagasan "Mutual Project" yang melibatkan musisi, seniman, dan komponis mapan berkarya bersama musisi disiplin lain. Lewat karya yang tidak membatasi hasil kreasi grup terkenal saja ini pula cita-cita dunia musik Indonesia untuk menjadi model perkembangan jazz dunia bisa dibangun.

    "Salah satu gambaran warna musik jazznya kira-kira akan diperlihatkan dengan kolaborasi permainan kecapi, kendang, bass, dan drum. Misalnya, akan ada permain drum, tapi pola pukulnya kendang," terang Andar Manik, General Coordinator BWJ 2010.

    Di tahun kedua perayaan jazz yang kembali digelar di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ini akan hadir sekitar 40 penampilan dari kalangan musisi, seniman, dan komponis dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri, sebagai line up artist, di antaranya ada Euis Komariah, Gilang Ramadhan, Sarasvati, Karinding Collaborative Project, Jilly Likumahua and her Banda Bra-Ma, Syaharani, Tohpati Ethnomission, dan Balawan. Sementara dari mancanegara di antaranya akan diramaikan oleh Duo Maurino Taufic (Itali & Brasil), dan Yuri Honing Quartet(Belanda).

    Rencananya, ada pula duet Sujiwo Tejo dan pianis Imel Rosalin dalam pergelaran bertajuk "Sound Through the Dimension" ini. Gondang Batak yang dicampur dengan pola-pola tradisi Melayu pun bakal disuguhkan Kolegium Musikum Universitas Negeri Medan. Begitu juga dengan kolaborasi antara Karinding Attack dan Soni Akbar Trio.

    Selain itu, Children & Youth Concert akan digelar. Baik karya musikal maupun audio visual yang melibatkan anak-anak dan remaja ditampilkan.

    Melalui cerita epik "The Birth of Hanoman", kelahiran, semangat, dan perjalanan Hanoman bakal dikemas lewat karya multimedia. Ada unsur instrumen perkusif modern dan tradisional seperti kenong, kendang, djimbe, drum, dan lain-lain yang muncul dengan nuansa gamelan.

    Untuk drama musikal anak-anak "The Trilogy of Modjembe", penonton bisa menyaksikan pentas karya sekitar seratus anak-anak pemain musik, teater, perupa, dan penari dari lembaga swadaya nonprofit di bidang kebudayaan, Jendela Ide. Lewat kisah ini akan dilukiskan keragaman makhluk hidup, persahabatan, pertarungan kepentingan, dan kearifan lokal.

    Perkenalan genre 'world jazz' untuk kaum muda sendiri bisa ditengok lewat Bandung World Jazz Youth. Untuk merealisasikan konsep ini, sebanyak 35 remaja selama tiga bulan diaudisi terlebih dahulu untuk berpadu memainkan beragam alat perkusi, biola, kecapi, keyboard, bass, gitar, kendang, suling, dan vokal.

    Tak ketinggalan, juara pertama Singapore Performing Arts Junior Championship, Indonesian Youth Regeneration (IYR), juga hadir meramaikan acara. Pun dengan grup jazz Fifteen Plus asal Bandung - yang kebanyakan personilnya hampir berusia 15 tahun - dan Jazzy One.

    Ada juga pameran sejarah jazz, "The American Jazz Exhibition", dan workshop bertema pengenalan mengenai jazz beserta kolaborasi lintas dunia. "Dari sini kita bisa merefleksi dan merespons sejarah jazz," kata Marintan Sirait, fasilitator acara dari Jendela Ide.


    GILANG MUSTIKA RAMDANI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.