Fatima Mernissi, Srikandi Dialog Muslim-Barat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fatima Mernissi

    Fatima Mernissi

    TEMPO Interaktif, Rabat - Terlepas dari apa yang dia tulis--entah itu tentang hak-hak perempuan di dunia Arab, ketakutan terhadap Islam di Barat, atau globalisasi budaya--Fatima Mernissi, seorang intelektual dan penulis asal Maroko, tidak saja berhasil memberikan pengetahuan pada orang-orang, tapi juga dalam membuat mereka berpikir.

    Buku-bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa. Dia pun pernah menerima sejumlah penghargaan internasional yang prestisius atas perjuangannya, termasuk Penghargaan Erasmus (Eropa) dan Penghargaan Pangeran Asturias (Spanyol).

    Mernissi memulai pendidikannya di sebuah madrasah Al Quran di Fez, di mana ia mulai diperkenalkan dengan Islam. "Menulis berarti merayu, dan merayu itu lawan dari kekerasan,” katanya dalam sebuah wawancara di rumahnya di Rabat, ibukota Maroko. “Saya belajar itu di madrasah tersebut. Menurut Anda, mengapa kitab-kitab seperti Al Quran dan Injil menjadi yang terlaris selama seribu tahun? Jawabannya sederhana: karena kitab-kitab itu mencoba merayu pembacanya lewat bahasa, dan bukan dengan kekerasan.”

    Mernissi tumbuh dalam arus mistisisme Islam yang dipraktikkan secara luas di Maroko. Dan meskipun keluarganya setia pada tradisi, mereka cukup punya pandangan jauh ke depan sehingga menyekolahkannya di salah satu sekolah Prancis-Arab modern pertama di Fez.

    Ia kemudian bekerja di Inggris dan Prancis, lalu berlabuh di Amerika Serikat, di mana ia mendapat beasiswa untuk menempuh studi doktoral.

    Era 1960-an menjadi era gerakan hak-hak sipil. Perjuangan gerakan perempuan di Amerika Serikat untuk mendapatkan hak-hak yang setara dan kebebasan seksual, mengajarkan pada sosiolog muda Maroko ini bahwa penindasan terhadap perempuan tidak terjadi di dunia Arab saja.

    Meskipun demikian, Mernissi menyadari bahwa ia dianggap tak beruntung lantaran berasal dari Afrika Utara dan dari kalangan Muslim. Mernissi ingin menguak hal-hal yang menyebabkan adanya persepsi distortif ini, sehingga menulis disertasi tentang jender dan perempuan di Timur dan Barat.

    Disertasinya, Beyond the Veil, yang diterbitkan pada 1975, dan diterjemahkan ke 30 bahasa, kini dipandang sebagai karya standar penelitian jender lintas budaya di banyak negara mulai dari Amerika Serikat hingga Malaysia. Karya Mernissi yang lain, The Veil and the Male Elite, yang diterbitkan di Prancis pada 1987, juga dianggap sebagai kitab rujukan klasik.

    Teori pokok bukunya adalah bahwa Al Quran sebenarnya tidak membenarkan penindasan terhadap perempuan. Pandangan yang menyudutkan perempuan sebenarnya berasal dari para ulama laki-laki, yang selama ribuan tahun, telah menafsirkan Al Quran sesuai dengan apa yang mereka mau dan menyalahgunakannya untuk menindas perempuan.

    The Veil and the Male Elite juga diterjemahkan ke sejumlah bahasa dan diterbitkan di banyak negara. Namun, di Maroko, bukunya ini dijual secara sembunyi-sembunyi selama bertahun-tahun. "Saya telah mencuri perhatian dari para ulama konservatif dan para penguasa," papar Mernissi.

    "Bayangkan saja Anda hidup dalam sebuah monarki absolut yang mengklaim kekuasaannya berakar pada Islam. Lalu ada seorang perempuan yang menyatakan bahwa siapa pun yang menentang kebebasan seseorang berarti menentang Nabi Muhammad. Aparat polisi negara Sultan Hasan II tentu tak akan tinggal diam.”

    Kendati begitu, Mernissi bisa berkarya di Maroko tanpa gangguan. Dia secara aktif menggunakan nama dan posisinya untuk mendukung prakarsa-prakarsa demokrasi. Sejak akhir 1980-an, cara yang ia sukai untuk melakukan itu adalah melalui lokakarya-lokakarya penulisan bersama para pengarang independen.

    Beberapa lokakarya yang diprakarsai Mernissi tersebut melahirkan publikasi-publikasi yang inovatif: korban penyiksaan menulis tentang kesengsaraan dalam batin mereka, aktivis HAM mengadukan pelecehan seksual anak sekolah, prakarsa warga di Maroko selatan melaporkan tentang demokrasi akar rumput, dan penenun karpet menulis tentang impian-impian mereka.

    Kini, generasi baru yang lebih tertarik dengan internet ketimbang buku tengah muncul di Maroko. Namun, lokakarya penulisan masih dibutuhkan, dan Mernissi juga sangat tertarik dengan media sosial. Ia menganggap YouTube, Twitter dan yang sejenisnya akan memperbaiki demokrasi di negara-negara Arab dalam jangka panjang, karena para penguasa tidak akan lagi memonopoli sumber daya yang paling penting: komunikasi dan informasi.


    * Martina Sabra, penulis lepas. Artikel ringkasan ini disebarluaskan oleh CGNews


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.