Ubud Writers & Readers Festival 2010 Dibuka  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sitor Situmorang.(TEMPO/Arif Fadilah)

    Sitor Situmorang.(TEMPO/Arif Fadilah)

    TEMPO Interaktif, Denpasar - p { margin-bottom: 0.08in; }Penyair senior Indonesia Sitor Situmorang meraih anugerah Saraswati Literary Award for Lifetime Achievement dari ajang Ubud Witers and Reader Festival (UWRF) 2010. Penghargaan diberikan spada rangkaian acara pembukaan festival di Puri Agung Ubud, Bali, hari ini.


    Penghargaan bagi Sitor merupakan penghormatan kepada para penulis Indonesia yang telah menorehkan karya besar di dunia sastra. "Perjalanan hidup dan perjuangan beliau menjadi teladan bagi penulis-penulis muda," kata Janet De Neefe, Direktur UWRF.


    Sitor dikenal sebagai sastrawan angkatan 45 yang terkemuka. Karyanya yang fenomenal adalah esai Sastra Revolusioner (1965) yang kemudian membuatnya dipenjara di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta, sepanjang 1967-1975. Esai sastra itu dinilai memuat kritikan tajam terhadap kekuasaan sehingga Sitor digolongkan sebagai bagain dari kelompok pemberontak. Namun saat dalam penjara ia justru menghasilkan dua buku yakni Dinding Waktu (1976) dan Peta Perjalanan (1977).


    Atas penghargaan itu Sitor merasa terkejut karena masih ada yang mengenang dirinya. "Ini tidak terlalu awal tapi juga tidak terlalu terlambat buat saya,"ujar penyair yang kini telah berusia 86 tahun. Dia berharap, penghargaan itu akan membuatnya tetap bersemangat untuk terus menulis. Ia lalu membacakan puisinya tentang Pura Besakih yang mulai dikenalnya sejak tahun 70-an saat masih dalam penjara.


    UWRF yang sudah berlangsung untuk ketujuh kalinya dibuka oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Tahun ini festival yang diikuti oleh ratusan penulis, antara lain, dari Australia, Iralndia, Spanyol, Singapura, Malaysia, Amerika Serika,t dan Indonesia itu mengambil tema "Bhinneka Tunggal Ika".


    Menurut Janet, tema itu diambil karena proses pencarian harmoni dalam perbedaan terus berlangsung di berbagai tempat. Dari Bali dia berharap, proses itu bisa berlangsung secara dialogis dan penuh semangat perdamaian.


    Sementara itu Gubernur Pastika mengatakan, UWRF merupakan simbol semangat masyarakat Bali untuk bangkit dari keterpurukan. Sebab Festival itu digagas dan dilangsungkan pertama kali setelah terjadinya peristiwa ledakan bom di Bali pada 2002. "Saat itu kita semua berpikir bagaimana membuat Bali segera pulih," ujarnya.


    Seiring waktu, UWRF telah mengukuhkan keberadaan Ubud dan Bali sebagai pusat kesenian dan tempat menebarkan benih perdamaian serta toleransi ke seluruh penjuru dunia.



    ROFIQI HASAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.