Jago Tak Selalu Ditonton

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Miguel Trapaga

    Miguel Trapaga

    TEMPO Interaktif, Jakarta - p { margin-bottom: 0.08in; }Tak salah menyebut Miguel Trapaga sebagai salah satu gitaris nomor wahid Spanyol. Permainan gitarnya terasah saat menempuh pendidikan di Royal Conservatory of Music di Madrid. Di sana, ia lulus dengan predikat summa cum laude, yang terbaik.

     

    Setelah itu, berbagai kompetisi gitar dimenanginya. Bukan hanya di Spanyol, melainkan juga lintas benua. Sebut saja Arturo Sanzano Competition pada 1988; Concurso Permanente de Juventudes Musicales de España (1992); XVIth Andres Segovia International Guitar Competition, Palma de Mallorca (1993); Third Great Lakes Competition, Oberlin, Ohio (1994); dan XII International Solo Guitar Competition, Guitar Foundation of America, Quebec, Canada (1994).

     

    Ia juga menginspirasi dan bekerja sama dengan para komponis terkemuka dunia dalam dunia gitar, seperti Leo Brouwer dan David del Puerto. Karya Ananda Sukarlan, Drupadi, turut dipentaskannya di kalangan internasional.

     

    Toh, Miguel mengatakan tak selamanya permainan gitar klasiknya di negeri sendiri, Spanyol, bisa dinikmati. Orang Spanyol, kata dia, kadang memadati konser gitar klasik, "Tapi kadang juga tak ramai."

     

    Ketika Tempo bercerita kondisi yang sama juga terjadi dalam konser gitar klasik di Indonesia, yang bahkan sangat sepi penonton, Miguel tak heran. Menurut dia, permainan gitar klasik belum bisa dinikmati semua orang. "Perlu waktu supaya bisa diterima," ujarnya.

     

    PRAMONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?