Christine Hakim Mengasah Empati  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Christine Hakim. TEMPO/ Santirta M

    Christine Hakim. TEMPO/ Santirta M

    TEMPO Interaktif, Bergelut di bidang seni budaya bukan hal baru bagi Christine Hakim, 54 tahun. Artis senior itu mengaku sudah kenyang makan "asam garam" menekuni manis-pahitnya di bidang ini. Toh, semangat Christine tak pernah padam. Bahkan pemeran film layar lebar Tjoet Nyak Dhien ini mendirikan Festival Film Balinale, yang sudah berlangsung empat tahun. "Bidang ini mengasah empati saya. Akan terus ada selama napas masih di kandung badan hingga saya mati," ucapnya, bijak.

    Christine pun menuturkan, Balinale merupakan ajang pertemuan para pembuat film yang akan berlangsung di Bali pada 12-17 Oktober mendatang. Dia mendirikan festival ini bersama temannya, Deborah Gabinetti. Balinale diyakini wanita kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, ini sebagai wadah bagi para pembuat film dunia untuk mengeksplorasi Indonesia bagi karya-karya film mereka.

    Dia menyebutkan, Indonesia tidak hanya bisa dilihat dari sisi kekayaan alam Nusantara, tapi juga inspirasi cerita. "Festival ini boleh disebut mengasah empati perfilman dunia terhadap Tanah Air. Bali hanya sebagai pintu masuknya," dia memaparkan.

    Selama tiga tahun penyelenggaraan, Balinale berhasil menggaet Brad Pitt dan Dede Gradner untuk memproduksi film Eat, Pray, Love di Bali. "Film ini bercerita tentang perjalanan Elizabeth (diperankan Julia Robert) di Ubud, Bali," kata Christine, yang di film tersebut berperan sebagai Wayan. Sekali lagi tekadnya adalah menginginkan Indonesia menjadi referensi dan rekomendasi penting bagi perfilman dunia. "Kiprah ini tentunya akan meningkatkan berbagai sektor, mulai perekonomian, pariwisata, hingga investasi dan pengembangan sosial," ujarnya. HADRIANI P


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.