Menanti Sepuluh Kuda Satu Warna  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teater Mandiri mementaskan

    Teater Mandiri mementaskan "Kereta Kencana" mengenang WS Rendra, dalam rangkaian Festival Schouwburg IX, di Gedung Kesenian Jakarta, Jakarta, Sabtu (25/09). (TEMPO/Novi Kartika)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Dua abad sudah pasangan sepuh itu bersama, melewati hari-hari di sebuah rumah tua yang tampak sangat reot. Malam itu mereka menunggu kereta kencana yang siap menjemput. Ketika bulan sudah tak tampak di depan mata, kereta kencana itu akan datang dengan sepuluh kuda satu warna.

    Begitulah kisah penantian pasangan renta itu. Aktor gaek Putu Wijaya berperan sebagai lelaki tua yang berpasangan dengan aktor pilihan Festival Teater Jakarta, Lisa Ristargi. Berdua mereka menggarap drama W.S. Rendra, Kereta Kencana. Bersama Teater Mandiri, lakon ini dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta pada Sabtu (25/9) dan Ahad (26/9) lalu dalam Festival Schouwburg IX. Drama itu diadaptasi Rendra dari naskah The Chairs karya Ionesco. Kisah yang lembut dan romantis itu menggambarkan cita-cita, harapan, serta perjalanan yang amat panjang.

    Lakon ini sudah berkali-kali dipentaskan oleh aktor-aktor lain. Tapi tidak begitu yang dilakukan Putu Wijaya. Putu, yang sekaligus menyutradarai lakon ini, membaca naskah Rendra dengan caranya sendiri, meskipun ia berusaha tetap setia pada naskah. "Kalau latar tempat yang ditulis oleh Rendra adalah Prancis, dalam lakon ini saya mengacaukannya," ujar Putu seusai pentas.

    Putu mengaburkan lokasi dengan membangun dialog-dialog yang tak menjadikan Prancis sentral cerita. Mereka berdua, misalnya, memunculkan kisah nostalgia tentang kue ongol-ongol, yang mestinya tak ditemukan di negara itu. "Indonesia penuh dengan perbedaan. Lupakan sebentar perbedaan, bukan menghilangkannya," kata Putu.

    Menurut Putu, yang paling penting adalah perkabaran yang sarat dengan nilai moral. Bahwa naskah ini menggambarkan ketulusan cinta, kemanusiaan, gigihnya perjuangan seseorang, hingga sikap peduli yang berubah menjadi kepedulian tanpa syarat.

    Tak hanya itu. Sentilan-sentilan nakal dibubuhkan dalam dialog yang dibangun. Seperti saat mereka berdua harus berpamitan dan mengucap maaf kepada tamu-tamu yang diperankan tokoh imajiner. Lelaki sepuh itu memintakan maaf atas kesalahan anggota Dewan, polisi, aparat hukum, lalu kesalahan dirinya. Atau mereka juga menyinggung lagi kisah "cicak versus buaya" yang pernah menghangat di media massa beberapa waktu lalu. Putu mengolahnya agar tetap kontekstual. Apalagi mereka berdua memerankan lakon itu dengan sangat matang.

    Di akhir kisah, kedua orang tua renta itu bersimpuh. Dengan pasrah mereka menyambut datangnya kereta kencana sepuluh kuda satu warna sambil berucap, "Bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata."

    Ismi Wahid


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.