Rock Progresif ala Demit Kembar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gitaris kembar Twin Demon, Dody (kiri) dan Didy saat berlaga pada pembukaan festival Salihara. (TEMPO/Dwianto Wibowo)

    Gitaris kembar Twin Demon, Dody (kiri) dan Didy saat berlaga pada pembukaan festival Salihara. (TEMPO/Dwianto Wibowo)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Mereka dijuluki “Si Demit Kembar”. Mereka duo gitaris yang memang kembar itu tampil dalam pembukaan Festival Salihara Ketiga semalam. Dan Twin Demon – begitu nama grup dua gitaris rock progresif itu – bakal kembali menghentak panggung Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, malam ini dengan ramuan musik yang mereka sebut progressive neo-classical metal.

    Twin Demon – yang teridiri dari Didy Santosa dan Dody Waskita – menggandeng tiga pemain cabutan untuk membuat sajian musiknya kian menghentak. Ketiga pemain yang memperkuat Twin Demon adalah kibordis Suherman Widi Asmoko, pemain bas Yopi Kristian, dan penabuh drum Bangkit Mahandika. Semalam, mereka membawakan empat nomor, antara lain, Sahara dan Virtual Odyssey.

    Terbentuk di Semarang, Jawa Tengah, pada 2006, duo ini boleh dibilang belum terlalu banyak dikenal. Keduanya lebih dulu muncul dalam formasi band beraliran death metal lokal bernama Morbiddust. Selain musik keras, Dody-Didy ternyata juga menyenangi musik klasik. Dari kecintaan terpendam yang tak tercurahkan di Morbiddust itulah, mereka kemudian membentuk Twin Demon.

    Menurut Dody, warna musik klasik mereka terinpirasi oleh Mozart dan Beethoven. Lalu, komposisi-komposisi klasik karya dua komponis besar itu mereka kawinkan dengan komposisi musik beraliran metal yang keras dan menghentak.

    Dody menambahkan, proyek musik mereka ini awalnya lahir dari sebuah keisengan belaka. Karena begitu banyak ide berdesakkan di benak, akhirnya mereka pun tak kuasa membendungnya lagi. “Makanya kami kemudian membentuk Twin Demon,” katanya. Nama Twin Demon sendiri merupakan julukan yang diberikan para penikmat musik mereka di Semarang.

    Di awal-awal terbentuk, Twin Demon merangkak dari panggung ke panggung. Pada 2007, tiga lagu yang berhasil mereka rampungkan – Virtual Odyssey, Sahara, dan Egypt – kemudian diperkenalkan lewat situs musik MySpace. “Responnya lumayanlah,” kata Dody.

    Dari sanalah kemudian mereka mencoba merilis album mini sebagai penanda eksistensi Twin Demon. “Album itu bernama Virtual Oddyssey dan berisi lima lagu,” tutur Dody. “Semua pemasaran dilakukan sendiri dan dibuat sesuai permintaan saja.”

    Dan tahun ini, mereka merilis album bertajuk The Adventure Journey, yang berisi sebelas lagu. “Mayoritas lagu kami memang berbahasa Inggris, ada satu lagu yang khusus berbahasa Indonesia, judulnya Putri,” Dody menjelaskan.

    Dalam penampilan yang kedua kalinya di Festival Salihara malam ini, Twin Demon akan lebih banyak memainkan lagu yang dicomot dari album The Adventure Journey. “Ada satu lagu yang kental dengan progressifnya, yakni Be Kit The Adventure Journey, dengan durasi sebelas menit,” kata Dody.

    AGUSLIA HIDAYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.