Investasi Seni di Indonesia Belum Baik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Analis pasar modal Lin Che Wei mengatakan, dalam kondisi sekarang karya seni bukan sarana investasi yang baik. Penyebabnya adalah kondisi pasar atau art market di Indonesia belum baik.


    "Saya mengatakan ini berdasar analisis data. Ke depan, art bisa menjadi sarana investasi yang baik jika infrastruktur market dibenahi," ujar Che Wei dalam diskusi Apakah Seni Rupa Indonesia Baik Untuk Investasi? yang digelar di Jakarta Art Design, Grand Indonesia Shopping Mall, Senin lalu.


    Menurut Che Wei, infrastruktur pasar yang baik jika tiga hal terpenuhi. Di antaranya, nominal harga terhadap karya seni mengacu pada kualitas karya. Dengan harga yang sesuai ini seniman yang juga disebut issuer sebagai kreator mendapatkan harga yang pantas dengan dedikasinya.


    Galeri seni maupun balai lelang harus mempunyai integritas tinggi. Mereka sebagai intermediaries harus memiliki kemampuan membaca pasar, membaca integritas seniman, dan memberi pelayanan maksimal kepada konsumen sehingga konsumen tidak tertipu saat memilih karya seni. Terakhir, kehadiran investor yang tidak mendominasi pasar seni.


    "Market harus dibentuk dengan baik agar ada kepercayaan,” kata Che Wei. “Struktur market kita belum membuat nyaman. Ini tanggungjawab kita semua.”


    Perkembangan art market di Indonesia tidak bisa lepas dari perkembangan art market dunia. Kurator seni rupa Jim Supangkat mengatakan, pada 1980-an di Eropa dan Amerika terjadi komodifikasi karya seni modern, yaitu menilai karya berdasarkan sejarah seni rupa. "Puluhan juta publikasi dibuat untuk menominalkan karya seni," ujar Jim.


    Selain itu pada rentang tahun yang sama, karya kontemporer mulai diangkat. Terjadi banyak benturan nilai karena seni rupa kontemporer masih sangat muda. "Waktu itu terjadi kekacauan. Balai lelang yang semula sangat berhati-hati memilih karya, tidak lagi seperti itu. Banyak permainan disana, bahkan sampai pada penjualan tertutup," Jim menjelaskan.


    Inilah yang menjadi kekhawatiran Jim, art market Indonesia akan mencontoh kekacauan semacam itu, betapapun kondisi pasar di Indonesia dalam kondisi tidak nyaman saat ini. Namun, menurut Jim, perkembangan global seni rupa ke depan akan lebih jelas. Yang belum terjadi adalah pengakuan dunia internasional terhadap karya seni di luar Eropa dan Amerika belum berimbang. "Karya seni kita punya peluang," katanya.


    Jim menambahkan, jika kondisi art market kita yang terus saja keruh, bisa terjadi ketidakpercayaan dengan pasar. Jim sangat sepakat bahwa infrastruktur market harus diperbaiki agar ada kepercayaan terhadap pasar di Indonesia. Kondisi ini membantu seniman muncul ke dunia internasional agar mereka mau berinvestasi ke Indonesia.



    ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.