Penyanyi Rap muslim Amerika Setelah 11 September  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Cyrus McGoldrick

    Cyrus McGoldrick

    TEMPO Interaktif, New York - Ketika Cyrus McGoldrick naik panggung, ia tidak tampil sebagai dirinya sendiri. McGoldrick menyanyi rap sebagai The Raskol Khan, sering kali bersama Freddy Fuego Sextet, sebuah kelompok musisi yang tengah berkembang di Harlem.

    Nama Raskol diambil dari nama Rodion Romanovich Raskolnikov, tokoh utama dalam novel Crime and Punishment karya penulis Rusia, Fyodor Dostoyevsky. McGoldrick menyebut bagian pertama nama samarannya sebagai “kekuatan memberontak dalam masyarakat yang tengah mencoba melakukan hal yang benar namun menghadapi masalah dengan lingkungan dan dirinya sendiri.” Khan, nama Arab yang berarti raja atau pimpinan, “mengalirkan sisa-sisa pola pikir kekaisaran, sebuah sejarah panjang penaklukan,” katanya. Sebuah sejarah dari mana McGoldrick berusaha membersihkan dirinya.

    McGoldrick tidak terkenal. Dia tidak revolusioner. Dia seorang mahasiswa, musisi dan penulis. Dia juga seorang muslim di Amerika. McGoldrick termasuk generasi pertama anak muda muslim Amerika yang melewati masa remaja dan masa menginjak dewasa setelah peristiwa 11 September.

    “11 September adalah hari pertama saya masuk sekolah menengah,” kenang McGoldrick. Di tahun-tahun sejak tragedi itu, ia merasa ada pelemahan identitas muslim.

    Ketika dipaksa untuk mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu, “Identitas kehilangan kebanggaannya pada diri,” kata McGoldrick. “Yang menjadi kekhawatiran adalah, demi menjadi muslim yang baik di Amerika, Anda terpaksa mau tidak menjadi apa saja, yang bertentangan dengan apa yang Anda bisa.” McGoldrick ingin mengabdikan diri dan membangun masyarakat muslim yang bersatu di Amerika.

    McGoldrick, putra dari seorang ibu Iran dan seorang ayah Amerika keturunan Irlandia, dilahirkan pada 22 Januari 1988 di Newport, Rhode Island, dan tumbuh besar di Perkasie, Pennsylvania. Ibunya dilahirkan dan tumbuh besar di Teheran, tapi meninggalkan negaranya saat berusia 17 tahun, menjelang Revolusi Iran pada 1979.

    McGoldrick tidak percaya bahwa suatu saat semua manusia dari berbagai budaya akan hidup rukun dan tentram, tapi ia sangat yakin bahwa kaum muslim seharusnya bisa lebih diterima.

    Pergeseran dari koeksistensi dan penerimaan ke ketakutan dan kebencian cukup jelas. Seharusnya memang tidak lagi dipermasalahkan dalam masyarakat kita, tapi McGoldrick berharap ada jalan untuk memulihkan keseimbangan. “Hanya dengan menjadi diri kita sendiri,” kata McGoldrick, “(kita bisa) membuat Islam bagian yang normal dari kehidupan masyarakat.”

    Kesalahpahaman tentang Islam membuat orang-orang muslim merasa terasing sehingga tak bisa mendefinisikan diri mereka menurut pandangan positif mereka sendiri. McGoldrick juga punya perasaan seperti itu; bahkan tampaknya menjadi sumber harapan sekaligus ketakpastiannya dalam hidup. “Terkadang saya merasa tersesat,” katanya. Terdiam sejenak dan memandang kedua tangannya “Saya yakin bahwa kebaikan akan muncul di masa ini -- (hanya) kadang kita tidak punya waktu untuk hening sejenak dan memahami siapa diri kita.”

    Ia akhirnya menemukan musiknya, dan The Raskol Khan menjadi jalannya untuk membahas isu-isu yang dihadapi oleh dirinya dan muslim Amerika sekarang. “Musik adalah bagian dari kerja saya,” kata McGoldrick.

    Ketika dia bernyanyi rap dengan Fuego Sextet, seperti sering dia lakukan, dia bicara tentang perjuangannya sendiri dan isu-isu politik dan sosial yang menurutnya paling penting. Setelah Angkatan Laut Israel menyerang kapal terbesar dalam armada bantuan ke Gaza pada 31 Mei lalu, yang menewaskan setidaknya sembilan orang dan melukai belasan lainnya, grup musik ini mengadakan sebuah pertunjukan untuk memperingati peristiwa itu.

    “Sebagian orang tidak setuju (dengan pesannya),” katanya tentang acara itu, “tapi setiap orang meresapi (musik ini) dan mengambil hikmah darinya.”

    McGoldrick percaya kekuatan musik hip-hop terletak pada peluang untuk menjangkau pendengar yang lebih progresif yang ia percaya “otomatis lebih bisa menerima”, mengingat sejarah genre musik ini yang menentang ketidakadilan politik, sosial dan rasial.

    Dan di situlah letak tujuan The Raskol Khan: dengan menampilkan McGoldrick dan sejarahnya, ia percaya penonton bisa melihat siapa mereka secara lebih lengkap.

    “Para penyanyi rap menunjukkan diri sebagai puncak pencapaian,” tukasnya. “Tapi tokoh yang satu ini barulah permulaan.”



    Madeline Dubus, penulis di Campus Progress dan lulusan jurnalistik dari The New School University. Artikel ini disebarluaskan oleh CGNews.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.