Film Porno Pun Berlomba Pakai Teknologi 3D  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • www.indofamily.net

    www.indofamily.net

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Di sebuah studio film lusuh di pinggiran Hongkong, seorang aktor dengan rambut poni berbaring telanjang bersama kekasihnya beralaskan sehelai kulit hewan. Kamera terus merekam adegan dengan setting kota Cina tua.

    "3-D Sex & Zen: Extreme Ecstasy", itulah judul yang akan diberikan untuk film itu. Ini bukan film porno biasa. Film yang disutradarai oleh Christopher Sun itu akan menjadi film porno berformat IMAX-3-D pertama di dunia.

    Film dewasa produksi Hongkong itu diharapkan akan menjadi pendobrak lesunya industri film syur setelah kehadiran Internet yang memberikan para penggemar film biru itu akses gratis. Dengan teknologi 3D, industri film porno diharapkan kembali menghasilkan uang, meniru jejak sukses dari 'Avatar' karya James Cameron.

    "Kadang ketika mengerjakan film 3D, Anda ingin membuat gambar yang menakjubkan karena para penonton akan membeli tiket bahkan dengan harga dua kali atau tiga kali lipat untuk membawa mereka ke dunia yang belum pernah mereka kunjungi," kata Sun.

    "Ini bukan sekedar sesuatu yang erotis, mereka butuh beberapa faktor 'wow'," sambung Sun.

    Mengadaptasi naskah erotis Cina klasik, 'The Carnal Prayer Mat', film berbiaya US$ 3 juta (Rp 27 miliar) itu bertutur tentang seorang pemuda yang bersahabat dengan seorang bangsawan dan memasuki dunia istana yang penuh fantasi, penuh dengan pesta seks.

    Para produser film itu berharap drama erotis itu akan memancing para penonton yang berkacamata 3D dan membantu membangkitkan kembali pasar film porno. Sang produser berharap film ini bisa memenuhi rasa haus para penonton film dari cina.

    "Itu karena film porno dilarang di Cina, (meski) di sana banyak yang berminat pada film ini," ucap Stephen Shiu, yang pada 1991 membuat film 'Sex and Zen'.

    'Sex and Zen' selama lebih dari satu dekade meraih keuntungan tertinggi di Hong Kong dengan keuntungan mencapai US$ 2,6 juta (Rp Rp 23,4 miliar).

    Karena memimpikan laba yang lebih banyak, para sutrada film porno 3D itu relah bekerja lebih keras. Maklumlah, pembuatan film berformat 3D memang membutuhkan waktu dua kali lebih lama dari film konvensional. Film ini juga perlu biaya yang lebih tinggi, peralatan yang lebih canggih, dan pencahayaan yang lebih rumit.

    "Kami harus mengganti lensa-lensa (kamera) dalam waktu yang lama, settingnya, pencahayaan, kami butuh waktu yang lebih lama dari film normal," ujar bintang film porno Jepang, Saori Hara.

    Meski demikian film porno 3D lainnya sedang diproduksi juga. Perusahaan film dewasa, Hustler, dilaporkan sedang menyelesaikan sebuah film tiga dimensi tentang alien biru dalam 'Avatar' sementara Tinto Brass berencana membuat versi 3D dari 'Caligula', sebuah film erotis dari tahun 1979.

    Sementara itu film Hong Kong itu direncanakan akan dipasarkan di seluruh Asia dan Eropa.

    "Adegan seksnya sangat eksplisit dan kadang menampilkan kekerasan, tetapi tema utama dari cerita ini adalah cinta," tukas Sun.

    REUTERS

    BERITA TERPOPULER LAINNYA:

     
     
     
     

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.