Selasa, 20 November 2018

Konser Surabaya Symphony Orchestra bersama Teguh Sukaryo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Teguh Sukaryo. (TEMPO/Panca Syurkani)

    Teguh Sukaryo. (TEMPO/Panca Syurkani)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Surabaya Symphony Orchestra bersama pianis Teguh Sukaryo bakal menggelar konser di Ballroom Hotel Shangri-la, Surabaya, Jawa Timur, malam ini. Dalam konsernya tersebut Surabaya Symphony dan Teguh Sukaryo akan membawakan repertoar karya kompnis Franz Liszt, lagu-lagu Indonesia, etnis Tionghoa, kuartet geset, dan paduan suara.


    Dalam situs Internetnya (www.surabayasymphonyorchestra.com) disebutkan, Surabaya Symphony Orchestra adalah sebuah "Non-Profit Oriented Music Organization" , yang didirikan pada Desember 1996, diresmikan pada konser perdananya di Ballroom Hotel Westin, Surabaya, Jawa Timur.


    Orkestra ini mempunyai moto yang dilaksanakan dengan sepenuh hati: "Membawa musik kepada masyarakat dan menjadikan mereka masyarakat yang bermusik" yang disingkat menjadi "Let There Be Music."


    Dan, Surabaya Symphony Orchestra mempunyai komponen-komponen beberapa tiang penyangga kekokohan dan keseimbangannya, tiang-tiang penyangga tersebut ibarat ke empat sudut pondasi dari sebuah piramida, kokoh dibawah untuk menopang ke puncak piramida yaitu Surabaya Symphony Orchestra.


    Eksisnya Surabaya Symphony Orchestra merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi warga kota Surabaya, menjawab tuntutan dari persyaratan bagi sebuah kota metropolitan sekaliber Surabaya, sekaligus dapat memenuhi kebutuhan akan sajian acara musik yang bermutu melalui pendidikan dan pementasan konser musik klasik yang selama ini dilakukan oleh Surabaya Symphony Orchestra.



    Profil Pianis Teguh Sukaryo


    Adalah kecintaan yang sejati terhadap musik, yang dipadukan dengan talenta, hasrat artistik, cita rasa, kejujuran, dan kerendahan hati, yang telah membawa Teguh Sukaryo untuk tampil di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Misinya adalah untuk menyentuh setiap hati dengan lembut dan rasa kepedulian, seperti yang diimpikannya: “Dunia yang harmonis, berlimpah kedamaian, cinta dan suka cita”.


    Teguh Sukaryo lulus S1 pada bidang Piano Performance dari Newcastle Conservatorium of Music, Australia. Di sana ia mengambil Double Performance Strand dan selalu mendapat nilai tertinggi, yaitu High Distinction. Dikenal memiliki kemampuan artistry tinggi dan teknik yang handal, Teguh memperoleh beasiswa penuh dan berbagai penghargaan untuk melanjutkan seluruh studinya di Amerika, seperti di sekolah-sekolah terkemuka: Oberlin Conservatory, yang mana dia mendapat gelar Artist Diploma; Rice University/Shepherd School of Music, Master of Music; and Louisiana State University, tempat Teguh sedang menyelesaikan gelar Doktoralnya (DMA, Doctorate of Musical Arts).


    Pada 1997, Teguh memperoleh Top Prize di Armidale Open Piano Competition, NSW, Australia. Sekitar tiga tahun kemudian, ia meraih penghargaan Chamber Music Scholarship and award di Sewanee Summer Music Festival, Amerika. Dan pada 2005, ia menyabet “Beethoven Prize” di Grieg International Competition for Pianists, di Oslo.


    Teguh belajar dengan pianis kenamaan dan guru besar di Amerika, Eropa dan Australia, antara lain, Jon Kimura Parker, Peter Takacs, Michael Gurt, and Carmel Lutton. Teguh juga dilatih pianis legendaris Byron Janis dan Einar Steen-Nokleberg. Selain di bidang piano, Teguh juga menekuni dunia conducting. Guru-gurunya antara lain Prof. Paul Polivnick, Prof. Anton Krager, dan Prof. Frank Wickes.


    Bakat dan dedikasi Teguh dalam dunia pendidikan musik juga sangat kuat. Teguh sering memberi workshop dan masterclass di berbagai tempat, baik di dalam maupun luar negeri.


    Teguh meluncurkan album perdananya dalam format CD berjudul Teguh Sukaryo plays Mompou, Brahms, & Mussorgsky”. Rencananya, tahun ini Teguh akan segera meluncurkan tiga album sekaligus: Scenes of Childhood, Burgmuller Op. 100, dan Burgmuller op. 109. Ketiganya dilengkapi dengan partiturnya.


    Teguh lahir dan besar di Purwokerto, Jawa Tengah. Dia mencintai Indonesia, baik budaya dan manusianya. Teguh juga sangat mencintai alam, seni, dan kemanusiaan. Dia suka bergaul dengan siapa saja dan dengan semua kalangan.


    Pada 2010, Teguh mengadakan Nusantara Tour 2010 di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Denpasar, Makassar, Balikpapan, Purwokerto, dan Kupang, dalam rangka penyebaran musik klasik di tanah air tercinta Indonesia.



    Kalim/Pelbagai Sumber


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.