Para Penggemar Protes Pembungkaman Diva Arab Fairouz

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Beirut - Para penggemar Fairouz, penyanyi paling terkenal di dunia Arab, kini bergandengan tangan menghadapi sengketa hukum yang telah menghentikan pertunjukannya. Dari Beirut sampai Teluk--dan jauh hingga Australia--para pendukung diva itu berteriak bahwa dia sedang dibungkam dengan kejam.

    Ratusan orang bergaya "Fairouziyun" yang dipimpin para seniman Arab terkenal berkumpul di tangga museum di ibu kota Libanon pada Selasa lalu untuk menyanyikan lagu-lagu terkenalnya dan menunjukkan solidaritas dan kecintaan mereka. Kalimat "Suara Para Malaikat Sedang Melawan Kerakusan" terpampang di salah satu plakat mereka.

    Sebuah konser protes juga digelar paa penggemar di Mesir. "Hari ini adalah hari kesunyian," kata Rima, direktur sang diva. "Mari kita memeluk perdamaian dan hanya mendengar suara Fairouz," katanya. Al-Ittihad, surat kabar di Uni Emirat Arab, memasang berita utama dengan judul satu kata: "Memalukan!"

    Suara kristal Fairouz--nama panggungnya itu berarti "batu pirus" dalam bahasa Arab--dan lirik-lirik lagunya tentang cinta, kehidupan, Libanon, dan Yerusalem, telah membuatnya menjadi ikon kedua setelah penyanyi Ummi Kulsum, penyanyi legendari Mesir yang diangisi jutaan orang ketika meninggal. Seperti Ummi, Fairouz, yang berasal dari Libanon dan kini berusia 75 tahun, dicintai dan dihormati sebagai kekayaan nasional di seluruh negeri berbahasa Arab--dan dikenal dan dihormati jauh melampauinya.

    Masalahnya muncul bulan lalu ketika pengadilan Beirut melarang sang bintang menyanyikan satu dari operet klasiknya, Ya'ish, Ya'ish (Panjang Umur, Panjang Umur) karena sengketa soal royalti.

    Banyak dari karya Fairouz ditulis bersama dan digubah oleh almarhum suaminya, Assi al-Rahbani, dan saudaranya, Mansour. Ketika Mansour meninggal, anak-anaknya mengajukan tuntutan hukum terhadap Fairouz, yang mendorong pengadilan melarang Fairouz membawakan lagu yang turut diciptakan oleh Mansour.

    Bila masalah hukum kasus ini rumit, emosi yang muncul sederhanda dan kuat. "Fairouz bukan penyanyi biasa," kata bintang film Mesir, Ilham Shaheen, yang terbang ke Beirut untuk bergabung dalam aksi duduk di museum itu. "Dia adalah pribadi artistik besar yang telah menghibur jutaan orang selama puluhan tahun. Dia tak bisa dibungkam dengan perilaku yang mencederai dia, dan kepada seni dan para artis secara umum. Fairouz bagiku berada di atas hukum. Dia seperti ibu, yang bahkan ketika di salah, sangat mau minta maaf," katanya.

    Elias Harfoush, komentator surat kabar Arab Al-Hayat, sedih atas sengketa keuangan yang "meninggalkan luka di hati kita karena masalah yang dihadapi suara malaikat ini". Julia Boutros, bintang Libanon, berkata: "Tak ada yang dapat menghentikan atau membungkam Fairouz karena dia adalah simbol kebebasa."

    Semua komunitas orang Libanon bangga terhadap perempuan yang mereka sebut "duta kita untuk para bintang" itu. Tak biasanya, Fairouz mendapat kritik di kampung halamannya ketika tampil di Damaskus, yang menjadi ibu kota kebudayaan Arab pada 2008, saat kenangan tentang pendudukan Suriah masih segar. Ratusan penggemarnya menjeritkan namanya kala dia berkendara melintasi perbatasan--dan dia masih menerima resepsi penyambutan hebat ketika dia kemudian bernyanyi di hadapan massa Ortodoks di Beirut barat.

    Kemarahan atas pembungkamannya menjadi pengingat dari kesetiaan hebat yang dia ilhamkan di seluruh kawasan. Wael al-Semary, jurnalis Mesir, mengumumkan pembentukan klub penggemar global yang akan menggunakan pendapatannya untuk membeli atau membayar kompensasi atas hak Rahbani. Melihat komentar-komentar di halaman Facebook resmi Fairouz--yang beranggotakan lebih dari setengah juta orang--tidaklah terlalu sulit untuk mengumpulkan dana itu. "Tak ada orang sepertimu di bumi ini," tulis seorang penggemar, Christina. Fatima menyebutnya "Ratu seni dan keindahan". Adapun pesan Mohammed Samy adalah contoh kekaguman buta: "Fairouz adalah hidupku".


    iwank | Guardian


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.