Gigi Palsu Winston Churchill Terjual Rp 200 Juta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gigi Palsu Winston Churchill (foto: cnn.com)

    Gigi Palsu Winston Churchill (foto: cnn.com)

    TEMPO Interaktif, Jakarta -London - Sepasang gigi palsu rusak milik Wisnton Churchill, pemimpin Inggris pada perang Dunia II, terjual dalam lelang senilai US$23,000 atau sekitar Rp 207 juta.

    Untuk menjaga penampilanya, Churchill dikenal suka berpidato berapi-api pada Perang Dunia II, memiliki beberapa set gigi palsu yang dibikin khusus dari plat dipasang di bagian atas agar nampak alami.

    Menurut dokumen yang ada di Royal College of Surgeons, mantan perdana menteri ini  "hidup dalam ketakutan karena kehilangan gigi palsu" dan senantiasa membawa satu set cadangan dibawa oleh sekretaris pribadinya, kata juru kunci kantor lelang Andrew Bullock di Ayslam, Inggris timur kepada CNN.

    Gigi palsu tersebut laku Rp 207 juta, Kamis, dibeli oleh Nigel Cudlipp putra tukang gigi yang membuatnya Derek Cudlipp.

    "Menurut Nigel Cudlipp, ayahnya senantiasa bercerita bagaimana perang berlangsung ketika Churchill melemparkan gigi tersebut dari jarak dekat," kata Bullock. "Mereka cenderung melanggar, terutama ketika Churchill marah."

    Bullock mengatakan Churcill menderita sakit gigi dan gusi sejak kecil, serta mengalami komplikasi masalah gigi. Dia akhirnya menobatkan dokter giginya menjadi seorang ksatria.

    Menurut Allen Packwood direktur Pusat Arsip Churchill di Churchill College, Cambridge, dalam gedung tersebut tersimpan berbagai benda pribadi Churcill. Salah satunya, jelas Packwood kepada CNN, adalah surat-surat Churchill kepada dokter giginya Erich Fish yang ditulis pada 1936 berisi keluhannya karena sakit gigi sehingga tak bisa merasakan nikmatnya makanan.

    "Ini mengagumkan," kata Packwood.

    CNN | CHOIRUL


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.