Cockpit Merayakan Genesis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Pertunjukan grup musik Cockpit di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, Ahad malam lalu, seakan melontarkan para penonton ke era 1970. Malam itu Cockpit memainkan lagu-lagu beraliran progressive rock dari album Seconds Out milik band legendaris Genesis.

    Seconds Out, album live yang dirilis pada Oktober 1977, berisi 12 lagu. Malam itu Cockpit membawakan semua nomor dari album tersebut. Cockpit--beranggotakan Oding Nasution (gitar), Raidy Noor (bas), Yaya Moektio (drum), Krisna (kibor), dan Ari Safriadi (vokal)--tampil cukup menarik. Kita seolah bernostalgia dengan suguhan musik progressive rock-nya Genesis.

    Dahaga para penggemar berat Genesis, yang telah antre sejak sekitar dua jam sebelum konser digelar, seolah terbayar. "Saya suka nonton Cockpit, berhubung saya fanatik Genesis juga, jadi suka dengan band ini," kata Andre, remaja tanggung penggemar fanatik Genesis.

    Ya, Genesis memang menjadi benang merah mereka untuk bersatu dengan Cockpit. Dengan tata panggung yang sederhana, konser mini Cockpit dibuka dengan lagu Squonk. Lagu berdurasi sekitar enam menit ini menjadi nomor pemanasan. Setelah itu menyusul The Carpet Crawlers, berdurasi lebih singkat, sebagai nomor kedua yang dimainkan dengan cukup bagus.

    Kehadiran drummer Rama Yaya, putra penabuh drum Yaya Moektio, yang memperkuat sang ayah, menjadikan konser Cockpit terasa lebih asyik. Ornamen musiknya menjadi tak ala kadarnya. Sebagian besar penonton yang datang hafal betul musik, lirik, dan ketukan drumnya. Mereka hanyut dan memberikan aplaus yang meriah di setiap akhir lagu. Mereka benar-benar marayakan Genesis.

    Gemuruh tepuk tangan penonton kian heboh ketika nomor Supper's Ready meluncur. Lagu yang berdurasi sekitar 24 menit itu dibawakan dengan permainan drum ganda bapak-anak, Yaya Muktio dan Rama Yaya. Nomor unggulan dari album studio Genesis, Foxtrot, yang dirilis pada 1972, seolah menyihir para penonton. Tempik riuh, siul melengking, dan celoteh kekaguman mengalir spontan di akhir lagu tersebut.

    Aksi penabuh drum Rama Yaya dan sang ayah tak berhenti di situ. Keduanya kembali beraksi di tiga nomor lainnya, yakni Firth of Fifth, The Cinema Show, dan Lost Endos. Penonton begitu apresiatif terhadap aksi panggung Yaya yang begitu garang di balik perangkat drum. Energi pemilik tubuh atletis itu seperti tak pernah habis menggebuk drum dengan lincah. "Lagu aslinya memang dibawakan dengan drum ganda, jadi Cockpit harus berpatokan pada orisinalitasnya," ujar sang vokalis, Ari Safriadi.

    Gitaris Cockpit, Oding Nasution, menyatakan, di era 1970-1980, grup legendaris Genesis memberikan banyak pengaruh pada perkembangan musik di Indonesia. Tidak sedikit musisi di Tanah Air menjadikan musik Genesis sebagai acuan.

    "Kami pun awalnya sebatas senang memainkan lagu-lagu Genesis sewaktu latihan. Lama-lama makin asyik, serius, dan keterusan," kata Oding. "Buat saya, musik Genesis itu benar-benar indah. Meski cuma empat atau lima personel, mereka bisa buat komposisi lagu seperti konsep orkestra," tambah Oding menjelaskan.

    Album live Seconds Out sendiri menjadi album yang sangat mewarnai perjalanan Genesis pada era 1970. Menurut Oding, album ini tergolong tidak mudah dibawakan. Album yang direkam di Inggris ini lahir sebagai dokumen otoritatif suara Genesis dengan Phil Collins sebagai vokalis dan frontman.

    Seconds Out meraup sukses komersial dengan menjadi hit di posisi keempat di Inggris dan 47 di Amerika Serikat. Dan posisi Genesis pun kemudian kian populer. Album ini juga sering dianggap sebagai penanda akhir dari era progressive rock Genesis. Sebab, setelah itu mereka mulai menjelajahi lagu yang berdurasi lebih pendek.

    Aguslia Hidayah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?