Krisna Murti: Semua Orang Bisa Jadi Sutradara

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Seniman Krisna Murti mulai berkecimpung dalam video art sejak tahun 90-an. Bagi dia, video art memiliki karakter berbeda dibandingkan dengan sinema konvensional. Meski sama-sama menampilkan gambar bergerak dan suara, video art menggabungkan beberapa disiplin ilmu seperti visual art, sound, dan seni pertunjukan.

     

    Menurut Krisna, selama ini banyak orang terjebak pada definisi video sebagai gambar bergerak dan harus memiliki aktor serta narasi. “Dalam pandangan lama, produksi, penggandaan, dan distribusinya tersentral,” kata lulusan Fakultas Seni dan Desain Institut Teknologi Bandung ini.

     

    Media jenis baru justru menghapus konsep sentralisasi itu. Ia mencontohkan, teknologi telepon genggam dengan fasilitas kamera atau video menjadikan semua penggenggamnya sebagai fotografer, aktor, atau sutradara. Akibatnya, jarak antara pembuat dengan gambar yang dibuat pun menjadi hilang. Inilah, tutur Krisna, yang terjadi dalam video panas sejumlah artis yang beredar belakangan ini. “Tak perlu kuliah sinema untuk menjadi sutradara,” ujarnya.

     

    Selain itu, media baru ini juga mengubah pola editing, penggandaan, distribusi, dan tempat menonton. Jika pada film konvensional dengan seluloid penggandaan dan distribusinya tak mudah dan hanya bisa disaksikan di bioskop, media baru justru editing, penggandaan, dan distribusi bisa berjalan simultan. Menontonnya pun bisa dilakukan di semua tempat.

     

    Apalagi, saat ini banyak sekali fasilitas yang bisa digunakan untuk menjadi sutradara atau aktor dadakan. “Simaklah situs YouTube, di situ terlihat sekali semua orang bisa menjadi sutradara,” katanya menjelaskan.

     

     

     

    PRAMONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.