Kisah Petruk dan Kolonel Sanders  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Sembilan wayang membeku dalam latar hitam. Berdiri sebaris dalam jarak yang tak terlalu rapat, terproyeksi di layar 6x1,7 meter. Mereka adalah Gareng, Bagong, Petruk, Arjuna, Kresna, Hanoman, Pergiwati, Srikandi, dan Sinta. Sekitar satu menit kebekuan itu berlangsung. Diiringi dengungan bas dan gesekan biola satu nada, satu per satu wayang orang itu bergetar hingga badan mereka hanya berupa rangkaian garis yang bergerak cepat.

     

    Gambar berganti. Hanya tiga tokoh di layar yang masih hitam: Bagong, Kresna, dan Srikandi. Mereka bergerak kaku dengan teknik stop motion. Tiba-tiba saja tubuh mereka hancur seperti pecahan kaca, menghasilkan efek kejut, dramatis. Lalu sembilan tokoh itu kembali hadir dalam posisi memunggungi penonton. Secara bersamaan, tubuh mereka terurai, menampilkan materi tubuh yang halus, dan perlahan hilang. Layar pun gelap.

     

    Video berjudul Empty Theater itu berdurasi hampir empat menit dan ditayangkan di Bentara Budaya Jakarta, 14-18 Juli. Pembuatnya, Krisna Murti, menggelar pameran tunggal bertajuk Mute! Theater. Melihat perawakan para tokoh wayang itu, tak sulit menebak mereka semua diperankan oleh Krisna sendiri. Dan, tak sulit juga untuk menyimpulkan video itu sebagai penggabungan sekumpulan potret wayang.

     

    Melalui Video itu, Krisna seperti ingin menunjukkan kepunahan budaya wayang. Diamnya para wayang seolah merepresentasikan kediaman kita terhadap ancaman kepunahan itu. Budaya yang terancam itu berulang kali coba dibangun kembali, tapi ancaman kepunahan itu tetap ada.

     

    Dosen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung Aminudin T.H. Siregar dalam sambutannya di katalog menilai, melalui video singkat itu Krisna berhasil mewakili kegelisahan dalam wacana budaya kontemporer Indonesia yang selalu menempatkan tradisi sebagai obyek eksotik yang dipelihara. Video ini juga menampilkan tegangan antara tradisi dan modernitas yang tak terelakkan. “Empty Theater mengajak kita merenungkan kembali konsep umum tradisi sebagai kontinuitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Aminudin.

     

    Krisna sendiri menilai video itu merupakan kerinduannya atau nostalgia atas pertunjukan wayang yang digemarinya sebelum televisi berjaya. Ia menilai para pewayang masih setia pada budaya itu karena memiliki kesadaran kultural untuk tetap tampil, meski mereka harus berhadapan dengan gempuran era digital. “Ini bukan penafsiran wayang dalam etos Mahabharata atau Ramayana. Wayang hanya menjadi simbol untuk menunjukkan kondisi sekarang,” ujarnya.

     

    Selain video, Krisna juga memamerkan 21 foto olah digital. Sebagian besar masih menggunakan simbol wayang (sekali lagi, semua tokoh itu adalah Krisna sendiri). Salah satu tema yang dimunculkannya adalah kerusakan lingkungan. Dalam Hole in The Earth, ia menggambarkan tiga karakter punakawan – Petruk, Bagong, Gareng – memandang “kawah” hasil eksplorasi tambang batu bara. Sedangkan dalam Tropical Goddess #1 dan #2, Krisna mengenakan baju adat Dayak yang kaya warna, kontras dengan latar kayu-kayu hasil pembalakan dan bukit yang gundul.

     

    Krisna ingin merepresentasi diri sebagai penjaga nilai pelestarian lingkungan. Sikapnya yang memejamkan mata, menunjukkan ia tak menyalahkan kerusakan itu. Tapi, ia juga menjadi bagian dari kerusakan itu sendiri. “Ketika ada kritik atas kondisi lingkungan, sering kali kita menyalahkan, tapi tak sadar kita menjadi bagian dari kerusakan itu,” katanya.

     

    Pada karyanya yang lain, Krisna menampilkan para tokoh wayang berada di dunia moderen. Jadilah para wayang dengan pakaian tradisional berpose dengan latar iklan Calvin Klein, Burberry, Esprit, atau wajah Kolonel Sanders si penemu Kentucky Fried Chicken. Kali lain, ia menampilkan Pergiwati yang berkemban berada di antara perempuan berkerudung. Dalam Albino Karabao, ia menghadirkan sekumpulan sapi-kerbau dengan latar belakang bandara Changi, Singapura.

     

    Meskipun muncul kesan keterasingan para wayang di tengah kesibukan masyarakat moderen, Krisna sama sekali tak bermaksud membenturkan dua hal yang kontras. Ia justru menyandingkan modernitas dengan tradisi. Baik tradisi maupun modernitas memiliki keindahannya sendiri. “Memakai kerudung itu indah, dan menggunakan kemban juga indah,” ujarnya.

     

    Karya olah digital Krisna dihasilkan melalui penggabungan latar belakang—diperolehnya dalam perjalanan ke berbagai tempat—dengan tokoh wayang. Memang penggabungan ini terkadang terasa kurang lembut. Elemen cahaya yang menghasilkan bayangan kadang terkesan dilupakan. Tapi melihat tema yang diusung, bolehlah kita menganggap detail itu tak terlalu penting ditampilkan kali ini.

     

     

    PRAMONO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.