Coretan Dinding Jakarta-Paris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Di sebuah dinding, Bujangan Urban seakan mengajak semua berdendang. Dia bilang, "Goyang sampai melayang tak terbayang." Sebab, di sini tengah ada pesta dari dua kota beda negara, Jakarta dan Paris. Dikocok lalu tekan ujungnya, goyangkan, dan berkreasilah seheboh mungkin.

    Bujangan Urban bukan tengah mengadakan pesta ngibing. Dengan gambar berwarna mencolok di sebuah tembok dinding, ia menjadi bagian dari pesta cat semprot dan akrilik para seniman jalanan (street artist) yang berkreasi sebebasnya dalam Ekshibisi Grafiti Jakarta-Paris.

    Ekshibisi yang merupakan pameran bersama bertajuk "Wall Street Arts" itu digelar di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, hingga 2 Agustus mendatang. Pameran ini diikuti tujuh seniman grafiti dari Jakarta--Bujangan Urban, Darbotz, Kims, Nsane5, Popo, Wormo, dan Tutu--serta enam seniman asal Paris--Ceet, Colorz, Gilbert, Kongo, Lazoo, dan Sonic.

    Goyang Sampai Melayang merupakan salah satu grafiti menggelitik karya Bujangan Urban atau lebih dikenal dengan sebutan "Jablay". Ia tak bekerja sendiri, karena gambar tiga cewek seksi yang tengah asyik berjoget di bawah kata-kata "Goyang Sampai Melayang" itu adalah guratan Lazoo, seniman grafiti dari Paris, Prancis. Kolaborasi ini terpampang di dinding toilet Salihara yang semula polos.

    Sejumlah gambar kolaborasi grafiti yang menghiasi dinding-dinding gedung Salihara itu tampil sebagai pemanasan visual bagi pengunjung yang akan naik ke galeri di lantai dua. Memasuki pintu galeri, kita disuguhi sensasi liar gambar jalanan yang terimajinasi oleh cat penuh warna dan gambar menarik. Karya grafiti yang dipajang di galeri tak lagi bermedium dinding, tapi kanvas dengan ragam ukuran.

    Kolaborasi warna terang hijau, ungu, biru, dan kuning hadir bak pelangi berjudul Fantasonic, yang digoreskan Sonic, seniman asal New York, Amerika Serikat, yang berkarier di Paris. Sonic memang punya gaya sendiri dalam meramu warna. Ia menggunakan warna manis, seperti gulali. Pada karya lainnya, NYC Subway 1979, Sonic menggambar kereta usang yang penuh kemilau warna.

    Seniman grafiti dari luar negeri yang tampil dalam pameran itu banyak menyuguhkan gambar klasik bergaya abstrak. Boleh dibilang, gaya klasik yang dikemas abstrak memang menjadi ciri khas kebanyakan seniman grafiti Barat, termasuk Paris. Simak karya Lazoo berjudul Drippin' Obama. Gaya dalam karya Lazoo itu kemudian diadaptasi seniman grafiti dari Jakarta, Tutu, dalam karya berjudul Prime Sinister.

    Menurut kurator pameran, Alia Swastika, perbedaan antara seni grafiti yang berkembang di Asia dan Barat ada pada cita rasanya. Tahun ini, grafiti lokal banyak yang berkiblat pada pengaruh desain modern dan tokoh Manga. "Adapun gaya Barat lebih mengikuti perkembangan seni rupa dunia, lukisan abstrak, dan realisme," Alia menjelaskan. Dari kolaborasi dua negara ini, dia menambahkan, diharapkan bisa tercipta sebuah gaya grafiti baru.

    Alia menyatakan pameran kolaborasi seniman Jakarta-Paris itu terinspirasi oleh Bienale Grafiti di Paris, yang dikunjunginya pada September tahun lalu. Di sana, Alia melihat perkembangan grafiti yang lebih pesat ketimbang di Indonesia.

    Sepulang dari melihat seni jalanan (terjemahan bebas dari street art) dalam skala global, Alia tergiur membedah grafiti lokal dengan mengajak para seniman Paris melakukan studi banding. "Saya akui grafiti Paris memang sudah dilirik oleh institusi dan galeri yang mumpuni, sedangkan grafiti lokal masih berada pada posisi sebagai subkultur," ujarnya.

    Pendapat ini tentu saja ada benarnya. Bila melihat perkembangan grafiti di Tanah Air, masih banyak yang menggunakan medium ekspresi di dinding-dinding di pinggir jalan. Para senimannya juga sebagian besar belajar secara otodidaktik, sehingga masih dianggap sebagai karya seni yang tidak profesional.

    Karena itu, selain menghadirkan para seniman dari Paris sebagai studi banding, dalam pameran tersebut digelar diskusi bertema "Grafiti Sebagai Bagian dari Gerakan Subkultural" dan peluncuran buku Graffiti in Asia. Plus pemutaran video tentang perkembangan grafiti, yang diadakan pada Selasa lalu.

    Yang jelas, menurut Alia, pameran itu tak menjamin akan mengubah nasib grafiti lokal dengan cepat. Tapi pameran ini setidaknya akan mengangkat nilai seni grafiti lokal dan bisa punya unsur komersial seperti di New York dan Paris. "Bukan untuk mengkomersialisasikan seni ini, tapi lebih menjadikannya tren hingga nilai seninya juga naik," katanya.



    AGUSLIA HIDAYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.