Pameran Tunggal Krisna Murti  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pameran tunggal Krisna Murti yang bertajuk

    Pameran tunggal Krisna Murti yang bertajuk "Mute Theater" di Bentara Budaya Jakarta. (ANTARA/Wildan Anjarbakti)

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Masa kecil dengan segudang romantikanya ternyata begitu membekas di pedalaman batin seniman Krisna Murti. Salah satu yang membekas bagi Krisna adalah Wayang Orang, sebuah bentuk teater tari yang populer di Jawa sejak sebelum Perang Dunia II.


    Puluhan tahun silam, hari-hari Krisna kecil dilaluinya dengan menyaksikan pertunjukan Wayang Orang Bharata di Semarang, Jawa Tengah. Wayang Orang yang acap ditontonnya ketika bocah itu menjadi landasan karya kreatifnya pukuhan tahun kemudian: Mute ! Theater – yang semuanya dikerjakan pada 2010 itu.


    Sebagai seniman media baru, Krisna menziarahi bagian dari masa lalunya itu. Ia kemudian memanfaatkan “pengalaman masa kecil yang begitu membekas” itu sebagai medium ungkap untuk menyatakan pikiran dan tafsir tentang bermacam fenomena kebudayaan.


    Krisna dipotret di dalam pelbagai karakter wayang. Setelah itu, ia kemudian menggarapnya dengan bermacam latar, dari dataran luas tanah yang hancur secara ekologis hingga lanskap industrial maupun atmosfir konsumtif di tengah pertokoan mewah di negeri makmur.


    Dengan karya kreatifnya itu, Krisna mengaktualkan wayang, masuk ke dalam kehidupan hari-hari ini. Di dalam kostum wayang ia berziarah ulang alik antara masa lalu dan masa kini. Penggunaan diri sendiri sebagai aktor tunggal memicu perenungan ulang tentang “tubuh”: personal maupun sosial, yang mampu mencuatkan beragam persoalan kekinian oleh permainan dari bermacam konteks yang melatarinya.


    Dalam pameran bertajuk Mute ! Theater yang digelar di Bentara Budaya Jakarta, sepanjang 14 – 18 Juli ini, Krisna memamerkan 21 karyanya dalam bentuk digital prints. Selain itu, satu karyanya disajikan dalam video instalasi berjudul Empty Theater.



    Kalim/Pelbagai Sumber


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.