Dari Acapella hingga Musik Cerita Minang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penampilan Subono bersama grup karawita. (TEMPO/Andry Prasetyo)

    Penampilan Subono bersama grup karawita. (TEMPO/Andry Prasetyo)

    TEMPO InteraktifSolo - Seniman Indonesia yang tampil di perhelatan Solo International Contemporary Ethnic Music (SIEM) Festival 2010 tak kalah memukau dengan penampilan musisi luar negeri. Simak penampilan Blacius Subono dari Solo, Jawa Tengah, yang bereksperimen dengan gamelannya. Subono mengajak 40 personel ke atas pentas untuk memainkan alat musik tradisional Jawa tersebut.

     

    Pada penampilan pertama bertajuk Kahanan Jaman Edan, Subono tak menyuguhkannya dalam iringan gamelan. Komposisi itu dimainkan secara acapella. Gamelan baru dimainkan dalam repertoar keduanya: Surya Gumlewang. Komposer yang memiliki segudang pengalaman itu mencoba memasukkan unsur-unsur baru dalam musik karawitan tersebut. Salah satunya, penggunaan alat musik modern berupa saksofon.

     

    Musisi asal Makassar, Sulawesi Selatan, Hamrin Samad, justru menampilkan musik tradisional yang orisinil dari daerahnya. Dalam sajian berjudul Bulang Keke, Hamrin mengangkut 19 macam alat musik tradisional ke atas panggung, antara lain kecapi, pui-pui, gambus, dan gendang Makasar.

     

    Yang tak kalah menarik adalah penampilan dua musisi dari Padang, Sumatera Barat: Muhammad Halim dan Elizar Koto. Keduanya mencoba memasukkan unsur kekinian dalam musik tradisional Minang.

     

    Muhammad Halim membuka pementasannya dengan senandung khas anak surau, tanpa alunan alat musik apa pun. Nyanyian itu kerap didendangkan anak-anak ketika tengah belajar di surau. Bagi masyarakat Minang, surau merupakan tempat segala aktifitas untuk anak-anak. Tak hanya mengaji, mereka juga bermain dan bernyanyi bersama.

     

    Selanjutnya, Halim menyuguhkan lagu rakyat berjudul Sabai nan Aluih. Lagu itu diirngi alat musik khas Minang berupa Saluang. Halim lalu mencoba memadukan alat musik mirip seruling itu dengan alat musik modern, klarinet. Menurut Halim, alat musik tradisional harus mampu beradaptasi dengan perubahan jaman. Salah satunya harus mampu berkolaborasi dengan alat musik modern.

     

    Penampilan serupa juga ditampilkan oleh Elizar Koto. Dia mencoba membawakan sebuah hikayat yang diceritakan melalui sebuah lagu berjudul Si Jobang. Menurut catatan, kesenian ini sudah hampir punah dari Ranah Minang.

     

    Dulunya, Cerita Si Jobang kerap dimainkan saat upacara pernikahan. Cerita ini baru dapat diselesaikan dalam pementasan selama tujuh malam. Dalam SIEM Festival, Elizar memangkas cerita itu dipangkas, dan dimainkan dengan beberapa alat musik khas Minang, yaitu saluang, sampek, genggong, dan string boe. Dengan tambahan alat musik modern, seperti drum membuat penampilan Elizar sekitar satu setengah jam itu sangat rancak.

     

     

    AHMAD RAFIQ (SOLO)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sel Dendritik dan Vaksin Nusantara Bisa Disuntik Berulang-ulang Seumur Hidup

    Ahli Patologi Klinik Universitas Sebelas Maret menjelaskan proses pembuatan vaksin dari sel dendritik. Namun, vaksin bisa diulang seumur hidup.