Tafsir Tembang Diana  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pentas musikal

    Pentas musikal "Diana" di JCC, Jakarta. Foto-foto:TEMPO/Aryus P Soekarno

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Helikopter makin menderu. Suaranya terasa begitu dekat melintas di atas kita. Tak lama berselang desing peluru berentetan tiada henti. Orang-orang merunduk dengan cepat, berusaha menghindar dari hunjaman hujan peluru itu.

     

    Di tengah situasi chaos, lima anak muda tampak panik. Kelima anak muda dari Jakarta yang menenteng koper itu baru saja menginjakkan kaki di Tilore, sebuah wilayah konflik yang tengah bergolak. Kelimanya adalah personel band yang nekat menerima tawaran manggung di daerah tersebut.

     

    Kepanikan itu tergelar di panggung drama musikal Diana, yang dipentaskan di Jakarta Convention Centre pada Rabu dan Kamis malam kemarin. Pertunjukkan drama musikal itu merupakan puncak perayaan 45 tahun harian Kompas.

     

    Diana, yang naskahnya ditulis Bre Redana dan Agus Noor, berkisah tentang sebuah kelompok musik bernama The Band. Kisah percintaan di dalamnya menjadi bumbu di tengah latar belakang wilayah konflik yang dikunjungi band itu. Yoko, sang vokalis yang dimainkan oleh Ariyo Wahab, menjalin cinta dengan seorang pekerja infotainmen bernama Mariska (Sheila Marcia), yang mengikuti band itu ke Tilore.

     

    Di dalam band itu sendiri, Yoko dinilai personel lainnya – Ian (Rezanov Gribs), Ebon (Dana Galistan), dan Jojo (Reuben Elishama Hadju) – sebagai pimpinan yang mau menang sendiri. Keretakan kecil di tubuh band itu sudah mulai terjadi semenjak mereka masih di Jakarta. Namun suasana menjadi keruh saat Yoko bertemu Diana, seorang gadis Tilore, dan mulai mencintainya. Band itu pun terancam pecah. Para personel band memilih pulang ke Jakarta bersama Mariska, yang patah hati karena Yoko berpaling kepada Diana.

     

    Diana, yang diperankan oleh penyanyi Anindya Yandirest Ayunda atau Nindy, adalah putri kesayangan pemimpin Tilore, Da Silva (Andi/rif). Dan hari itu, seluruh warga Tilore tengah menantikan kebebasan pemimpin mereka dari pengasingan. Dalam situasi itu, Yoko harus mengambil sikap: tetap bersama Diana di Tilore atau pulang ke Jakarta dengan anggota band lainnya.

     

    Begitulah. Seluruh plot cerita Diana kemudian mengalir dalam alur musikal. Bre Redana menjatuhkan pilihan pada lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara. “Karya Koes Plus itu sangat kaya, baik dari tema maupun genrenya," kata Bre yang ditemui saat latihan di Solo, Jawa Tengah, pekan lalu.

     

    Dari segi tema, tutur Bre, lagu-lagu band legendaris itu sangat beragam. Temanya membentang dari cinta remaja hingga cinta tanah air telah mereka ciptakan. Lalu, dari segi genre, band asal Tuban, Jawa Timur itu juga beragam: dari pop, rock, keroncong, hingga irama Melayu.

     

     

    Sutradara Garin Nugroho merasa sangat tertantang menggarap drama musikal ini. “Pertunjukkan ini live, beda dengan film. Tentu tantangannya berbeda," ujar Garin saat mendampingi latihan bersama di Solo.

     

    Untuk musiknya digarap oleh Yockie Suryoprayogo. Dalam drama musikal ini Yockie mengaransemen ulang 20 lagu ciptaan Tony Koeswoyo. "Kalau bicara Koes Plus, kita bicara konten. Karena sebetulnya seorang Tony Koeswoyo tak pernah peduli dengan desain penampilan musiknya," ujar Yockie saat latihan di Solo. Menurut Yockie, meski lagu itu memakai kulit dangdut atau rock, isi pesan menjadi utama.

     

    Bertolak dari situlah, Yockie kemudian menyuguhkan komposisi musik yang tak selalu seperti bentuk aslinya. Ia menggubah lagu, misalnya, yang semula pop menjadi sangat rock. Bahkan lagu yang aslinya dibawakan dengan vokal tunggal, kemudian diurai dan dibawakan oleh paduan suara Paragita Universitas Indonesia. "Saya harus mampu menerjemahkan karya-karya Tony Koeswoyo menjadi kekinian. Dan itu tantangan bagi saya," katanya.

     

    Malam itu, di atas pentas Yockie memainkan piano. Adapun musik pengiringnya dari orkes Sa'unine. Lagu yang dipilih dalam drama musikal itu tak hanya hits Koes Plus dan Koes Bersaudara, antara lain, Diana, Pelangi, Nusantara, atau Dara Manisku. Tapi dimunculkan juga lagu-lagu yang kurang populer seperti Da Silva, Lontjeng Kecil, maupun Bunga dan Remaja.

     

    Selain musik, drama Diana ini juga menggandeng koreografer Eko Supriyanto untuk menggarap tata gerak dan tariannya. Lakon ini melibatkan 25 penari dari Insititut Seni Indonesia, Surakarta, Jawa Tengah. Para penari itu ini mengimbangi gerak para pemeran lakon, yang memang tidak secara khusus memiliki kemampuan tari.

     

    Malam itu, hadir juga bintang tamu seperti Elfonda Mekel atau Once, Aning Katamsi, Eet Syahranie, dan Tohpati. Duet maut gitaris Eet Syahranie dan Tohpati menjadi sajian spesial yang sungguh memukau, selain akting Andi /rif yang memerankan tokoh Da Silva.

     

    Personel Koes Plus Yok Koeswoyo yang datang menyaksikan pertunjukkan malam itu mengaku takjub dan bangga. “Saya terpukau, apakah kami memang sudah pantas seperti itu,” kata Yok usai pertunjukkan.

     

    Pentas drama musikal Diana ditutup dengan tembang Nusantara. Lagu itu dinyanyikan Yok Koeswoyo bersama para pemeran drama tersebut.

     

     

    ISMI WAHID dan NUNUY NURHAYATI (SOLO)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.