AT Mahmud, Kisah Pelangi dan Aset untuk Anak  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AT Mahmud. TEMPO/Rendra

    AT Mahmud. TEMPO/Rendra

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Suatru hari, 43 tahun lalu, Abdullah Totong (AT) Mahmud mengendarai sepeda motor untuk menjemput putra sulungnya, Ruri Mahmud, yang sekolah di SD Perguruan Cikini. Siang itu, Jakarta diguyur hujan, membuat Ruri kecil meringis kedinginan saat membonceng motor sang ayah. Di tengah perjalanan, AT Mahmud tiba-tiba menghentikan motornya. Ia menyuruh Ruri menengadah ke langit. Sambil mengangkat telunjuknya sang ayah berkata, "Itu ada pelangi," kata Ruri, kini 50 tahun, menirukan perkataan sang ayah.

    Setelah menikmati sejenak pelangi di langit Jakarta, keduanya melanjutkan perjalanan menuju rumah di kawasan Tebet. Setiba di rumah, kata Ruri, ayahnya lalu mengambil gitar dan bersiul-siul. Tak lama berselang, AT pun bersenandung,  "Pelangi-pelangi."

    Ternyata, pelangi yang baru dilihat sang ayah, telah berubah menjadi sebuah lagu. "Saat itulah, lagu Pelangi Pelangi diciptakan," kata Ruri. 

    Ia tak menyangka, lagu itu kini dinyanyikan di hampir seluruh Taman Kanak-Kanak di seluruh Indonesia. Lagu lainnya karya AT Mahmud yang biasa dinyanyikan anak-anak adalah Cicak-Cicak di Dinding, Kunang-Kunang, Naik Kelas, Pada Hari Minggu, Anak Gembala, Amelia, Layang-Layangku, Kereta Apiku, Timang Adik Timang, Ambilkan Bulan, dan masih banyak lagi.

    Menurut Ruri, semasa hidup, AT Mahmud cukup keras pada anak-anak dan cucu-cucunya. Misal saat anak-anak dan cucu-cucunya sedang menonton televisi bersamanya. "Ia tiba-tiba bisa mematikan TV saat melihat ada anak-anak menyanyikan lagu cinta," kata Ruri.

    Itu dilakukan AT Mahmud, karena miris. Hatinya tersayat. Dia berharap, anak-anak tumbuh secara alami dengan lagu anak-anak, bukan dengan lagu cinta dewasa. Itu salah satu alasan, AT Mahmud tidak berhenti berkarya mencipta lagu anak-anak.

    Bahkan sebelum meninggal, dia ingin lagu-lagu karyanya terus dinyanyikan anak-anak Indonesia sebagai aset. "Dia sudah menganggap, lagu-lagu ini sebagai warisan untuk anak dan cucu," kata Ruri.

    Sayangnya, semasa hidup, tidak banyak royalti yang diterimanya. Tapi AT tak terlalu mengeluhkan hal iti. Bagi dia, asal karya-karyanya masih dinyanyikan anak-anak Indonesia, sudah lebih dari cukup. "Saya tidak masalah dengan uang, yang penting lagu saya didengar anak-anak," kata Ruri menirukan pernyataan sang ayah.

    Lahir di Palembang pada 3 Februari 1930, AT Mahmud meninggal di kediamannya di Jalan Tebet Barat 2A Nomor 18 Jakarta Selatan, kemarin (6/7). Jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Umum Menteng Pulo pagi tadi.

    FEBRIANA FIRDAUS


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.