Dari Jazz Gunung II : Sigit Pramono Luncurkan Buku Fotografi Kelima

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Festival Jazz Gunung II di puncak Bromo, Probolinggo, Jawa Timur (3/7). TEMPO/ Wahyuana

    Festival Jazz Gunung II di puncak Bromo, Probolinggo, Jawa Timur (3/7). TEMPO/ Wahyuana

    TEMPO Interaktif, Probolinggo - Bankir yang juga fotografer andal, Sigit Pramono, kembali meluncurkan karya buku fotografinya yang kelima yang berjudul Bromo, A Perpetual Reminder (2010), Sabtu (3/7) sore, disela-sela acara festival jazz tahunan, Jazz Gunung II, di Wonotoro, Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

    “Sengaja diluncurkan bersamaan dengan festival jazz untuk semakin memeriahkan Jazz Gunung,” ujar Sigit Pramono.

    Buku setebal 158 halaman itu berisikan foto-foto karya Sigit tentang Taman Wisata Gunung Bromo dan Suku Tengger yang mediaminya. Sigit selama ini telah dikenal sebagai salah seorang fotografi lanskap yang banyak memfokuskan karya-karyanya pada Bromo.

    “Kalau buku Bromo yang dulu lebih mengeksplorasi keindahan lanskap alam Gunung Bromo, karya ini lebih bercerita tentang manusia Tengger, tradisi, dan tanah kehidupannya,” ujar Sigit menjelaskan karyanya pada sejumlah kolega undangan yang hadir dalam peluncuran buku.

    Sisi-sisi human interest dari kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger banyak dieksplorasi Sigit dalam buku ini. Di antaranya sebuah feature fotografi dari keluarga Martejam, seorang suku Tengger, beserta anak cucunya. Buku ini dicetak dalam edisi yang cukup ekslusif dan dijual Rp 500 ribu per eksemplar. Buku diberi kata pengantar dan banyak dihiasi dengan ilustrasi puisi-puisi Goenawan Muhammad dan versi bahasa Inggris.

    Acara Jazz Gunung sendiri berlangsung meriah. Festival jazz yang unik ini diadakan di panggung terbuka di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut di lereng Bromo, dihadiri banyak penggemar jazz dari berbagai kota. Acara dibuka sejak pukul 14.00 WIB namun sejak siang sejumlah pengunjung sudah menyemut menuju lokasi.

    Hingga kini acara masih meriah berlangsung dengan menampilkan sejumlah musisi jazz seperti Syaharani, Balawan, Jaduk dkk, band-band jazz dari Malang dan Surabaya, dengan dipandu oleh pelawak Butet.

    Festival masih akan terus berlangsung hingga tengah malam nanti, ditengah suhu dingin udara Bromo yang malam ini mencapai sekitar 8 derajat celcius.

    WAHYUANA


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia dapat Belajar dari Gelombang Kedua Wabah Covid-19 di India

    Gelombang kedua wabah Covid-19 memukul India. Pukulan gelombang kedua ini lebih gawat dibandingkan Februari 2021.