Jay Subiyakto: Idealisme dalam Berkarya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jay Subiyakto. TEMPO/ Yosep Arkian

    Jay Subiyakto. TEMPO/ Yosep Arkian

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Untuk ketiga kalinya Jay Subiyakto terlibat dalam festival seni budaya Gempita Gianyar. Jay bertindak sebagai art director dari salah satu pergelaran musik dalam gelaran festival yang diselenggarakan selama dua hari di Ubud, mulai besok.

    "Saya prihatin melihat fakta bahwa ternyata sebagian besar masyarakat Indonesia tidak mengenal kebudayaan dan keseniannya sendiri.” kata Jay dalam jumpa pers Gempita Gianyardi Sudirman City Walk, baru-baru ini.

    Menurut Jay, keterlibatannya ini merupakan cara sederhana untuk memperkenalkan kembali kesenian Bali. “Bagi saya, filosofi yang ingin disampaikan sebenarnya sangat sederhana dan niatnya tidak perlu muluk, yang penting adalah bagaimana menarik perhatian masyarakat untuk mau mengenal seni budaya negeri sendiri.” katanya.

    Pria kelahiran Ankara, Turki, 49 tahun lalu ini dikenal sebagai sosok yang mengedepankan idealisme dalam berkarya. Meski setuju dengan pemberdayaan industri wisata yang berbasis seni budaya, ia menegaskan bahwa tidak semua aspek kebudayaan bisa dikuantifikasi dan diperhitungkan secara ekonomi.

    Jay justru menganjurkan pola pikir yang tidak linier. “Jika negeri kita makmur, kebudayaan akan hidup. Bukan sebaliknya mengeksploitasi kebudayaan demi kemakmuran bangsa. Pemerintah harusnya menyadari bahwa berkesenian adalah proses yang resiprokal. Regulasi harus yang melindungi seni budaya – bukan membiarkan seni budaya dilindas zaman,” katanya

    AMANDRA MM


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada Generalized Anxiety Disorder, Gangguan Kecemasan Berlebihan

    Generalized Anxiety Disorder (GAD) adalah suatu gangguan yang menyerang psikis seseorang. Gangguannya berupa kecemasan dan khawatir yang berlebih.