Komunitas Cibubur Tinggalkan Lukisan Realistik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lukisan Grass Chopper (acrylic on canvas 172x190cm) karya Dirman Saputra, anggota Komunitas Cibubur, dalam  pameran inagurasi Green Artspace di Jakarta,  26 Juni-24 Juli 2010

    Lukisan Grass Chopper (acrylic on canvas 172x190cm) karya Dirman Saputra, anggota Komunitas Cibubur, dalam pameran inagurasi Green Artspace di Jakarta, 26 Juni-24 Juli 2010

    Lukisan Grass Chopper karya Dirman SaputraTEMPO Interaktif, Jakarta - Kemunculan seni rupa kontemporer membuat sebuah “ledakan” yang memungkinkan terjadinya pembebasan seni rupa, termasuk pembebasan bahasa ungkapnya, yang berawal pada penentangan terhadap proses penyempitan seni rupa modern yang berkembang sebelumnya. "Karya-karya anggota Komunitas Cibubur memperlihatkan pembebasan fungsi komunikasi bahasa visual yang direduksi pada perkembangan seni rupa modern," kata Jim Supangkat dalam catatan kuratorial pemeran komunitas ini.

    Jim menyampaikan hal ini dalam pembukaan pameran inagurasi Green Artspace, galeri yang mendukung karya seni yang menginspirasi kecintaan pada alam, yang terletak di Jalan Abdul Majid Raya 46 A, Cipete Selatan, Jakarta Selatan. Pameran yang berlangsung sejak 26 Juni hingga 24 Juli 2010 mendatang ini menampilkan karya-karya mutakhir anggota Komunitas Cibubur, yakni Bonyong Munny Ardhie, Haris Purnomo, Moelyono, Umbu LP Tanggela, Bambang Sudarto, Dirman Saputra, Tri Sapta Anggoro, dan Alex Kela Susanto.

    Komunitas Cibubur terbentuk pada 2007 atas praksa Haris, Umbu dan Bambang dengan dasar kedekatan dan perkawanan di antara anggotanya. Kehadiran mereka sebenarnya terkait dengan memunculkan seni rupa kontemporer di Indonesia pada dekade 1970-an. Dua anggotanya, Bonyong dan Haris, terlibat Gerakan Seni Rupa Baru, yang muncul pada 1975 dan dikenal sebagai tanda awal kemunculan seni rupa kontemporer di Indonesia. Selain itu, sebagian anggota komunitas ini juga pernah menjadi anggota Kelompok Pipa (kependekan dari Kepribadian Apa). Seperti Gerakan Seni Rupa Baru, kelompok ini menggelar pameran-pameran kontroversial di Jakarta dan Yogyakarta pada 1977-1980.

    Namun, lukisan-lukisan realistik Komunitas Cibubur, kata Jim, sudah jauh dari seni lukis realistik konvensional yang masih diterapkan pada Gerakan Seni Rupa Baru dan seniman-seniman Kelompok Pipa. "Para pelukis Komunitas Cibubur ini menggunakan fotografi dan teknologi komputer dalam menghasilkan citra realistik," katanya.

    Kurniawan


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.