Glen Fredly, Suara Hati Untuk Timor Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Nickmatulhuda

    TEMPO/Nickmatulhuda

    TEMPO Interaktif, Yogyakarta - Kesenjangan sosial kawasan Timur Indonesia dengan wilayah lain di Indonesia mengetuk hati penyanyi Glen Fredly.

    Oktober mendatang, pria berdarah Maluku ini akan menggelar Festival budaya dengan tema,” Melihat Indonesia dari Timur” di Kupang Nusa Tenggara Timur.

    "Festival ini akan menggabungkan diplomasi tiga daetah seni dan budaya yani Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur," kata Glen kepada Tempo, sebelum tampil dalam konser jazz World Drug Campaign yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia, Ahad, (27/6).

    Selain dirinya, penyanyi asal Papua Edo Kondologit dan penyanyi asal ambon, Franky Sahilatua akan tampil dalam pentas budaya ini.

    Gagasan menampilkan festival seni dan budaya ini berangkat dari keprihatinan Glen terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kawasan Indonesia Timur. "Kemiskinan, kebodohan, dan pendidikan yang terjadi di Timur Indonesia kesenjangannya terlalu jauh," katanya.

    Padahal kawasan timur merupakan aset bangsa Indonesia yang hingga ini belum terolah dengan baik. Menurut Glen menjadi tanggung jawab semua pihak untuk memakmurkan Indonesia kawasan Timur. "Sebab selama ini kawasan Timur Indonesia tidak diperhatikan," kata Glen.

    Dia berharap festival ini menjadi titik awal bagi generasi muda untuk lebih memperhatikan kawasan Timur Indonesia. "Semoga ini menjadi oase bagi generasi muda," kata Glen yang sejauh ini swadaya menyelenggarakan acara ini. Dia mengaku lantaran kecintaannya terhadap Indonesia-lah yang membuat Glen menggagas acara festival ini.

    Rencananya festival akan dilakukan selama tiga tahun berturut-turut. Festival pertama akan digelar di Kupang, selanjutnya Papua, dan Maluku.


    BERNADA RURIT


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.