Tobatnya Aji Killip  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (TEMPO/Aryus P Soekarno)

    (TEMPO/Aryus P Soekarno)

    TEMPO Interaktif, “Aji, berhentilah mengganggu pohon-pohon! Jika tidak, penghuni yang ada di dalam pohon akan marah!” hardik sang nenek kepada cucunya, Aji Killip, si anak nakal. Pohon-pohon tersebut jadi pelampiasan anak badung itu lantaran kalah main kelereng dengan teman-temannya. “Ugh, aku selalu kalah!” keluh Aji.

    Petang pun datang, malam menyambut, dan berganti gelap. Aji yang masih kesal menolak ajakan makan malam bersama sang nenek. Saat malam bertambah larut dan semua orang telah terlelap, perut Aji terserang lapar. Ia pergi ke luar rumah lalu menuju dapur. Alamak, di semak-semak pohon ternyata sudah ada yang menunggu Aji, bersiap memangsanya hidup-hidup.

    Kawanan makhluk bertopeng seram itu tak lain adalah arwah penunggu pohon yang ditebangi Aji sore tadi. “Benar juga kata Nenek, mereka marah dan hendak menghukum aku,” kata Aji gemetar ketakutan. Anak itu dikejar-kejar kawanan makhluk tersebut dan berteriak histeris. Aji belingsatan dan lari tak keruan, lalu jatuh pingsan, dan lampu sorot pun meredup.

    Itulah kisah kejailan si anak badung, lakon dalam pentas drama musikal berjudul Aji Killip, yang dimainkan oleh Opera Jelajah Anak Indonesia (OJAI) di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, pada Ahad sore lalu.

    Pentas yang diangkat dari cerita rakyat Kalimantan Timur itu tak lain adalah sebuah dongeng yang merakyat di sana. Seperti pementasan lakon sebelumnya beberapa waktu lalu, bertajuk Batu Belah Bertangkap, OJAI tetap konsisten mengangkat budaya Nusantara lewat drama dan tari tradisional.
    Kawanan makhluk dengan topeng seram itu tak lain adalah kawan-kawan Aji sendiri. Ide tersebut datang dari sang nenek yang hendak memberikan pelajaran kepada cucu semata wayangnya yang badung itu. “Ampun, aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi,” ujarnya.

    Esok paginya, Aji mengumpulkan teman-temannya. “Ada apa sih, Aji, ada yang penting sampai pagi-pagi kami harus kemari?” tanya sang kawan. Keempat kawan Aji, yang ikut membantu misi sang nenek, masih berpura-pura tak tahu. “Semalam aku bertemu arwah-arwah pohon. Mereka ingin memakanku hidup-hidup,” cerita Aji. Dari pengalaman buruk itu, Aji kemudian meminta maaf kepada kawan-kawannya atas keusilannya selama ini.

    Selain drama musikal, sore itu OJAI menyuguhkan empat tarian anak sebagai tontonan edukatif, yakni tari Kanjet Temenggang, tari Hutan, tari Gantar Belian, dan tari Kanjet Pepatai. Tari Kanjet Pepatai merupakan tarian khas Kalimantan yang dibawakan oleh penari senior Deddy Luthan. Dalam drama, Deddy berperan sebagai kepala suku Dayak. Di antara tari lainnya, hanya tari Hutan yang dikreasikan secara modern sebagai pendukung cerita. Tarian ini dilakoni beberapa bocah dengan kostum pohon.

    Adapun tari Gantar Belian digambarkan sebagai tarian upacara menanam padi. Tongkat yang digunakan para penari remaja berperan sebagai kayu penumbuk. Dan bilah bambu kecil berisi biji-bijian yang digenggam penari tak lain sebagai benih padi dan wadahnya.

    Tari Kanjet Temenggang menggambarkan keelokan burung enggang sebagai penghuni hutan Kalimantan. Burung ini merupakan lambang keperkasaan, kebijaksanaan, dan keteladanan. Dalam pentas kali ini, Direktur Artistik Tom Ibnur juga menyelipkan beberapa permainan bocah, seperti gendong-gendongan, sumpit buru burung, dan main tali.

    Ya, menikmati pentas OJAI boleh dibilang bisa menjadi sarana hiburan yang mendidik bagi anak-anak. Konsep kesenian yang menghibur, tata panggung dan artistik yang menarik, serta kostum tari khas Kalimantan yang bertabur gemerlap manik-manik membuat sajian ini terlihat menyenangkan bagi bocah. Belum lagi lakon anak-anak yang dimainkan secara natural, kesalahan-kesalahan kecil pun akhirnya mampu menebar tawa para orang tua yang menonton.

    OJAI sendiri baru terbentuk setahun lalu. Kehadiran kelompok tari ini adalah untuk mendedikasikan diri pada pelestarian khazanah pengetahuan Nusantara dan ekspresi kebudayaan pada generasi muda. Kelompok seni ini menyajikan pendidikan nonformal lewat seni tari, musik, kriya, boga, dan busana, kemudian merefleksikannya dalam bentuk pertunjukan di atas panggung.

    AGUSLIA HIDAYAH


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.