Surat buat Tubuh yang Terlupakan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO InteraktifTiga lampu sorot bergantian menyemproti panggung kosong yang pekat. Gerakannya cepat mengikuti irama musik yang mengentak. Dari balik layar, tujuh lelaki kurus berkepala plontos, yang cuma mengenakan celana pendek, berjalan berbaris. Kaki, tangan, dan kepala mereka terus bergerak. Bebas, lepas, dalam gerakan tak seragam. Kadang tenang, lentur, dan meliuk lemah gemulai. Tak jarang kaku, kejang, dan patah-patah.

    Mereka berjalan, berlari, melompat, berjinjit, berjongkok, berguling, bahkan mematung dengan posisi tubuh terbalik (kepala di bawah, kaki di atas) seolah merayakan kebebasan. Sebuah kebebasan untuk bergerak sesuai dengan keinginan tubuh itu sendiri.

    Melalui kelenturan dari bahasa tubuh yang universal itulah koreografer dan sutradara M. Aidil Usman menyampaikan kegelisahan mereka tentang tubuh yang sering dipinggirkan. Kegelisahan, refleksi, sekaligus renungan itu dirangkum dalam pertunjukan The Body Nothing Performance: Surat untuk Tubuh Tradisi di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat malam pekan lalu. Pementasan ini merupakan bagian dari rangkaian Jakarta Anniversary Festival 2010.

    Dalam pertunjukan selama satu jam itu, tubuh dibiarkan melakukan eksplorasi gerak menghasilkan sebuah cerita yang multitafsir. Dalam satu adegan, misalnya, tampak seorang perempuan berbusana kantoran--lengkap dengan jas dan sepatu hak tinggi--berjalan berhati-hati menapaki “jembatan” yang terjalin dari tubuh-tubuh lelaki yang berbaring di lantai. Begitu selamat sampai tujuan, sang perempuan langsung mencari tempat duduk yang pas dan sibuk berdandan.

    Dengarkan juga rintihan seorang laki-laki yang tubuhnya dililit lampu hias. “Aku adalah luka yang mulai membesar di dalam sejarahmu yang kecil,” ucapnya berkali-kali sambil berjalan beringsut. Di sampingnya, seorang perempuan dengan belasan tangkai bunga di pinggang, berkali-kali pula menyuapi sang lelaki dengan segenggam kelopak bunga mawar.

    The Body Nothing Performance merupakan suatu pertunjukan untuk mendengar kekuatan dan cara-cara tubuh mengobati luka-luka sosialnya. Awalnya, Aidil berniat mementaskan The Body Monologue: Tubuh Mengambang di Tiang-tiang. Judul ini pula yang tetap terpampang di poster dan katalog promosi Gedung Kesenian Jakarta, hingga pertunjukan berlangsung. Sayang, setelah tiga bulan latihan, mereka tidak siap. “Terlalu pretensius,” ujar Aidil.

    Perubahan itu sendiri tak menyurutkan semangat Aidil dan timnya. “Dalam kondisi apa pun, kami tetap enjoy,” kata Aidil, yang mengaku tak sempat memberi tahu perubahan itu ke pihak Gedung Kesenian Jakarta.

    Melalui The Body Nothing Performance, Aidil menyajikan sebuah konsep teater tari tentang tubuh. Gerakan-gerakan jadi ajang untuk mengenal dan merayakan tubuh. "Biasanya pikiran yang mengontrol tindakan tubuh. Kita tak sadar bahwa sebetulnya tubuh punya kehendak sendiri," ujarnya.

    Pentas yang memadukan seni pertunjukan teater dan tari ini juga merefleksikan kegundahan Aidil terhadap situasi yang berkembang di masyarakat saat ini. Tubuh, menurut dia, menyimpan kesadaran dan pikirannya sendiri yang tidak terduga. Sayangnya, saat ini orang lebih mengedepankan intelektualitasnya, tapi lupa menyapa tubuhnya.

    Padahal intelektualitas itu cenderung mengelabui, sekadar retorika untuk meyakinkan orang lain. Dia mencontohkan, bagaimana seorang koruptor yang baru keluar dari penjara tak malu merayakan kebebasannya dengan euforia. “Situasi ini aku lihat sebagai tubuh yang munafik, tubuh yang hipokrit,” katanya.

    Melalui pementasan The Body Nothing Performance ini, Aidil mencoba membuat representasi dari situasi tubuh-tubuh yang hipokrit itu, tubuh-tubuh yang tergilas oleh pasar, hegemoni uang, dan kapitalisme yang diterjemahkan dalam gerakan serta sedikit dialog.

    Uniknya, para pemain yang terlibat dalam pementasan tersebut sebagian besar bukan penari profesional atau orang-orang yang mumpuni di dunia teater. “Dari delapan pemain, cuma satu yang profesional,” katanya. Pemain lainnya rata-rata datang dari jalanan, mulai pengamen hingga pedagang bubur yang biasa mangkal di pelataran Taman Ismail Marzuki. Mereka sama sekali awam dengan koreografi, gerak, ataupun teknik. “Mereka memang datang kepadaku untuk minta dilatih, mereka tidak dilibatkan tapi melibatkan, ikhlas tanpa mengharap honor,” Aidil menjelaskan.

    Toh, setelah berlatih keras selama enam bulan, kemampuan mereka layak diacungi jempol. Lihat saja bagaimana Pepeng, 43 tahun, salah seorang anak asuhan Aidil, tampil di atas panggung. Pengamen jalanan yang biasa wira-wiri di bus kota rute Slipi-Blok M itu tampil luwes layaknya penari profesional. Padahal, jangankan mengecap kursus tari, sekolah formal pun tidak pernah. “Saya ingin jadi penari dan yakin Aidil bisa melatih saya,” kata Pepeng.

    The Body Nothing Performance merupakan proyek eksperimen kedua Aidil, peraih penghargaan penata tari terbaik untuk koreografer kontemporer Gedung Kesenian Jakarta Award, untuk membuktikan bahwa setiap orang bisa tampil di atas panggung.

    Tahun lalu, Aidil melibatkan orang-orang bertubuh mini atau yang sering disebut cebol sebagai pemeran utama dalam pementasan teater bertajuk Semesta Tubuh di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pentas yang merefleksikan narasi mengenai keterpurukan ekonomi, globalisasi, pemanasan global yang melahirkan petaka, dan harapan menunggu kelahiran generasi baru, sekaligus sebuah upaya menghentikan eksploitasi terhadap orang cebol yang marak terjadi.

    NUNUY NURHAYATI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.