Sindiran Ayah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Astrid Tiar. TEMPO/Yosep Arkian

    Astrid Tiar. TEMPO/Yosep Arkian

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Setelah lima tahun berhenti tampil di layar televisi, Astrid Tiar Yosephine Panjaitan kembali ke panggung hiburan. Ingar-bingar Piala Dunia 2010, yang hak siarnya dipegang oleh stasiun televisi RCTI, membawa berkah bagi Astrid. Dia ditawari menjadi pembawa acara siaran langsung.

    Selain program sepak bola, Astrid diminta menggantikan Luna Maya sebagai pembawa acara program musik, Dahsyat, sejak Selasa dua pekan lalu. Banyaknya tawaran manggung dinilai Astrid sebagai rezeki. "Tuhan yang memberi," katanya di kompleks RCTI, Jakarta Barat, Rabu lalu.

    awaran ini datang secara kebetulan karena dia sedang "menganggur" setelah Juli tahun lalu lulus kuliah di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Sebenarnya Astrid memilih melanjutkan kuliah strata-2 jurusan hukum. Tapi sayang, dia terlambat mendaftar. "Saya tunggu tahun ajaran berikutnya," katanya.

    Astrid memang berfokus pada pendidikannya. Gadis yang telah meraih gelar sarjana hukum ini terpacu untuk kuliah karena ingin membuktikan kepada ayahnya, W. Panjaitan, bahwa dia mampu berpendidikan tinggi. "Ayah menginginkan saya kuliah," ujarnya.

    Ayahnya memang kurang sreg Astrid meraih juara pertama Gadis Sampul sepuluh tahun lalu. Astrid dinilai lebih mengutamakan karier sebagai artis ketimbang sekolah. Menjadi fotomodel, main sinetron, dan membawakan acara merupakan kesibukannya setiap hari. Meski Astrid berpenghasilan dan mampu hidup mandiri, sang papa kurang merestui pola hidup putri bungsunya itu. "Saya tidak didukung," katanya.

    Menurut Astrid, sikap ayahnya--pejabat di pemerintah DKI Jakarta--itu wajar. Ketiga kakaknya merupakan dokter spesialis mata, spesialis penyakit dalam, dan profesional di bidang teknologi informasi. Bahkan ibunya, T. Silaen, juga seorang dokter.
    Astrid selalu mengingat sindiran ayahnya. Pernah, pada suatu acara, ayahnya memperkenalkan anak-anaknya. Ayahnya tampak bangga memperkenalkan tiga abangnya sekaligus keahlian masing-masing. Namun, giliran Astrid, ayahnya tak memperkenalkan bahwa putri tunggalnya itu adalah artis.

    Astrid memberanikan diri bertanya tentang sikap Ayahnya. Tapi jawabannya menyakitkan. "Papa tidak bangga kamu sebagai artis," ujar Astrid menirukan ayahnya. Tidak cuma itu. Di rumah, Astrid disindir lewat foto pajangan. Foto-foto kakaknya mengenakan toga wisuda terpasang di ruang tamu.

    Sebenarnya foto Astrid juga ada. Terlihat cantik. Tapi ayahnya menorehkan satu tulisan: "kapankah Anda sekolah?". Foto ini menarik perhatian pengantar pizza yang membawa pesanan Astrid. Si pengantar pizza bertanya, "Mbak... Mbak... belum sekolah, ya?" ujar Astrid menirukan.

    Astrid tak berkecil hati, bahkan dia melayangkan pujian. "Sindiran yang keren," katanya. Sindiran sang ayah, menurut Astrid, ada benarnya. Menurut dia, artis lebih dikenal karena paras cantik dan sosok seksi ketimbang cerdas dan pintar. Padahal artis era 1980-an dan 1990-an banyak yang pakar di bidang seni. Dia menyebutkan di antaranya Christine Hakim dan Lula Kamal. "Saya ingin seperti mereka," katanya.

    Keinginan itu, menurut Astrid, bisa diwujudkan jika dia berpendidikan tinggi. Namun keinginan ini sering dicibir oleh para pelaku dunia hiburan. Misalkan, saat Astrid menolak mengisi acara karena harus mengikuti ujian masuk kuliah, ia disindir. "Ngapain sekolah?" Astrid menirukan koleganya itu.

    alimat itu dinilai Astrid melecehkan. Tapi dia tak berlarut-larut menyalahkan koleganya. Menurut dia, artis banyak dicibir karena tingkah lakunya yang kurang simpatik, seperti kawin-cerai dan menggunakan narkoba.

    Perilaku kurang baik ini, menurut Astrid, akibat kurangnya pendidikan. "Tidak hanya (pendidikan) formal, tapi juga kesantunan," katanya. Cibiran dan stigma buruk itu menjadi salah satu faktor Astrid memutuskan diri hengkang dari dunia hiburan lima tahun lalu.

    Keputusan ini mengagetkan orang tua dan terutama manajer Astrid. Padahal, saat itu, dara cantik ini banyak terikat kontrak kerja, seperti main sinetron dan membawakan program acara. "Beberapa kontrak saya bayar kembali, ini pilihan saya," katanya.
    Perubahan ini berakibat pada penurunan pendapatan. Tapi Astrid merendah. "Saya butuh uang, tapi itu bukan tujuan hidup," katanya. Menurut dia, pendidikan memberikan harapan saat dia tidak lagi mendapat tawaran di dunia hiburan. Astrid mengatakan tak ingin berlama-lama di dunia hiburan. "Saya berhenti kalau sudah bersuami," ujarnya tersenyum. Siapa calon suaminya? "Belum punya, tapi pacar punya," katanya tersipu.

    AKBAR TRI KURNIAWAN

    Biodata

    Nama: Astrid Tiar Yosephine Panjaitan
    Tempat dan tanggal lahir: Jakarta 12 Juli 1986
    Orang tua: W. Panjaitan dan T. Silaen (bungsu dari empat bersaudara)
    Pekerjaan: Pembawa acara, pemain sinetron

    Pendidikan:
    - SMA 78 Jakarta (2001-2004)
    - Sarjana Hukum Universitas Tarumanagara, Jakarta (2004-2009)

    Penghargaan:
    Juara I Gadis Sampul (2000)


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.