Gelombang Baru Sinema Turki Singgung Tema Pelik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film dari Semih Kaplanoglu

    Film dari Semih Kaplanoglu

    TEMPO Interaktif, Istanbul - Ketika film besutan sutradara Turki, Semih Kaplanoglu, Honey, memenangi anugerah Golden Bear pada Festival Film Berlin Februari lalu, para kritikus film internasional mulai mengalihkan perhatian mereka ke sinema Turki.

    Honey adalah bagian terakhir dari trilogi Kaplanoglu, yang menceritakan tiga babak hidup seorang lelaki dalam kronologi terbalik. Ketiga film itu, yang menyindir mitos dan ritual agama, menyinggung isu-isu universal menyangkut eksistensi manusia, seperti makna hidup dan mati, kehilangan orang tercinta, keyakinan, dan takdir.

    Kaplanoglu, salah satu sutradara penting dari gelombang baru sinema Turki, menyatakan dalam konferensi pers usai upacara penganugerahan itu bahwa triloginya mencoba menjelajahi sisi spiritual dari hidup manusia, sesuatu yang sering tak disinggung dalam masyarakat Turki yang memang sekular.

    Film-film yang berasal dari Turki dalam beberapa tahun belakangan ditonton oleh lebih banyak orang di seluruh dunia ketimbang masa sebelumnya--sebagai hasil dari pemutaran di berbagai festival dan universitas, dan oleh organisasi-organisasi masyarakat sipil. Film-film ini menyorot kehidupan orang-orang biasa di Turki dan di luar Turki dalam iklim politik Turki yang bergolak dewasa ini.

    Setelah kemunduran di bidang film selama dua dasawarsa, pada pertengahan 1990-an muncullah gelombang baru sinema Turki, yang meninggalkan mode-mode lama dalam pembuatan film di negeri itu. Sinema gelombang baru terdiri atas dua sub-genre: sinema populer baru, yang umumnya didominasi oleh komedi yang penjualan tiketnya sangat sukses, dan sinema artistik yang film-filmnya banyak dipuji dan mendapat penghargaan bergengsi dalam festival-festival nasional dan internasional.

    Sinema artistik independen terbukti sangat popular di kalangan penikmat film internasional, dan film-film jenis ini telah sering diputar dalam berbagai kompetisi dan festival film di Eropa. Sinema ini menghadirkan dua tipe film: film-film personal yang mengeksplorasi jiwa manusia--seperti film Honey--dan film-film politik yang menyinggung isu-isu yang tidak banyak tergali dalam sinema Turki sebelumnya: periode hukum darurat perang (menyusul kudeta militer pada 27 Mei 1960; 12 Maret 1971; dan 12 September 1980); kebijakan-kebijakan di masa lalu yang diskriminatif terhadap minoritas agama dan etnis, seperti terhadap orang-orang Yunani atau keturunan Armenia; dan konflik dengan gerilyawan separatis Kurdi di wilayah tenggara. Film-film semacam inilah yang membantu memicu diskusi publik tentang isu-isu tertentu yang sebelumnya dianggap tabu.

    Genre film yang baru ini juga punya dampak signifikan terhadap masyarakat, dan turut menanamkan memori kolektif baru yang dengannya masyarakat Turki bisa mulai menghadapi babak-babak masa lalunya yang menyedihkan dan sebelumnya tidak pernah diungkapkan.

    Misalnya film Autumn menyinggung kekerasan yang dilakukan negara di penjara-penjara Turki, dan memperlihatkan dalam pembukaannya segmen-segmen gambar yang diambil ketika berlangsung campur tangan berdarah polisi sebagai respon terhadap aksi mogok makan para tahanan politik pada tahun 2000, ketika 30 tahanan terbunuh. Karya debutan pembuat film muda Ozcan Alper pada 2008 ini adalah salah satu film politik yang paling dipuji dalam beberapa tahun belakangan ini.

    Film ini menggambarkan dengan mengesankan tentang perjalanan pulang seorang tahanan politik sayap kiri yang dipenjara ketika masih mahasiswa dan belakangan dibebaskan dari penjara Turki karena sakit keras (yang disebabkan oleh siksaan yang ia terima di penjara) untuk kembali ke kampungnya di kawasan timur Laut Hitam.

    Autumn adalah salah satu dari banyak film yang menunjukkan kecenderungan baru sinema Turki yang memungkinkan orang-orang Turki menghadapi realitas politik dan sosial yang mereka hadapi selama beberapa dasawarsa belakangan. Tanpa menawarkan solusi yang jelas, film-film ini secara simultan memberi tahu orang-orang di luar Turki tentang seluk-beluk yang ruwet dari masyarakat Turki, dan membantu warga Turki berdamai dengan masa-masa yang rumit itu.

    Asuman Suner, guru besar madya di Jurusan Humaniora dan Ilmu Sosial Universitas Teknik Istanbul dan pengarang buku New Turkish Cinema: Belonging, Identity and Memory. Artikel ini disiarkan oleh CGNews.


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.