Ruang Kelahiran Perupa Eksentrik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bob Sick.(TEMPO/Jacky Rachmansyah)

    Bob Sick.(TEMPO/Jacky Rachmansyah)

    TEMPO Interaktif, "I have many bar, discotecue and casino. The name are dragon and crocodile. Yes, that very real when i am the preshident on this republice."

    Itulah ungkapan seorang Bob. Sejumput kalimat yang tak lain adalah impiannya. Ia menuliskannya pada lukisannya dengan kata-kata bebas dan tanpa beban gramatika umum. Bahkan tak sekali pun ia menilik ejaan dalam setiap kata: discotecue, preshident, dan republice. Ia membiarkan begitu saja dan menganggap semua orang memahaminya.

    Ia adalah Bob Yudhita Agung--akrab dipanggil Bob Sick--seorang perupa eksentrik yang menyebut dirinya sebagai sang presiden tato. Sebanyak 15 karyanya terpajang dalam pameran tunggal bertajuk "Bobvarium" di Srisasanti Arthouse, Kemang, Jakarta Selatan.
    "Bobvarium" berasal dari kata "Bob" dan "Ovarium". Itu merupakan analogi terhadap proses kreatif Bob: sebagai ruang motivasi, kreasi, dan inkubasi dalam menciptakan karya-karya baru. Ya, semacam kelahiran kembali atas pencitraan Bob yang baru. Pameran yang bertepatan dengan ulang tahun Bob ke-39 ini akan berlangsung sepanjang sebulan penuh, dari 26 Mei hingga 26 Juni mendatang.

    Boleh dibilang, serangkaian karya perupa kelahiran 26 Mei 1971 itu merupakan cermin hasrat, pemikiran, dan gagasan liar Bob. Ambil contoh Dragon & Crocodile Bar Discotique and Casino. Lukisan besar itu memperlihatkan ornamen-ornamen tak lazim. Ada rumah bergaya Cina, lalu buaya yang beradu pandang dengan naga yang meliuk panjang dan melilit-lilit, yang dikelilingi manusia-manusia bertampang sangar, bertopi koboi bak penghuni bar di perkampungan Texas, Amerika. Tersemat pula daun ganja di sudut lukisan--yang tetap terlihat meski kecil dan membaur dengan goresan garis yang lain.

    "Itu obsesiku. Aku ingin membangun bar, diskotek, kasino, sekaligus galeri. Agar kita tak menjadi bangsa yang munafik," kata Bob di sela pembukaan pameran pada Rabu malam pekan lalu.

    Bob cenderung menampilkan sisi bermainnya yang kental dalam setiap karyanya. Dengan kekhasannya menuangkan ide dalam goresan garis yang tegas, meliuk-liuk. Bahkan tak ragu pula ia menarik garis panjang seperti sulur-sulur yang tak berkesudahan. Kadang garis-garis itu memenuhi bidang kanvas.

    Tampaknya ia banyak menggunakan kuas besar. Garis menjadi porsi yang dominan bagi Bob. Pun pilihan warna, yang cenderung gelap, memenuhi citra keseluruhan karyanya. Lukisannya menjadi ramai dan penuh sesak oleh garis-garis. Terkadang lelehan cat ia biarkan begitu saja. Tak ada ruang kosong tersisa, semuanya diisi oleh ornamen-ornamen imajinasi Bob.

    Lihat saja dalam karya Interaksi. Lelehan-lelehan cat basah tampak jelas dan tegas. Seluruh bidang ia penuhi dengan benda hasil bentukan dari garis yang menyatu dan terkumpul. Garis-garis yang saling berimpit, bahkan menindih obyek satu dengan lainnya.

    "Bob tak mencari musuh atas karyanya," ujar penulis pameran, Fery Oktanio. Apa yang Bob lukis adalah cerminan atas pengalamannya sendiri. Pengalaman atas kesakitannya di masa lalu. Bukan sekadar respons atas permasalahan lingkungan yang dihadapi.

    Gagasan yang muncul sangat spontan. Apa yang ia bayangkan, yang diinginkan, dan diimpikan terekspresi pada lukisannya. Mau tak mau, itu mengesankan ketidakfokusan. Bahkan Fery, dalam tulisannya, menyatakan banyak perupa yang menengarai karya Bob sebagai eksotisme belaka, tak lebih dari ekspresi tanpa ideologi.

    Tapi Bob mampu menunjukkan seberapa jauh keartistikannya diterima oleh khalayak. Setiap lukisan memiliki cerita. Bob tak hanya menyajikan sebuah budaya dalam konteks sosial, tapi juga filosofi yang tak terduga. Ketika ia menginginkan sebuah bar dan diskotek, pada ranah yang lain muncul obyek religius. Karya berjudul Tiga Biksu ia lukis dengan pilihan warna-warna terang. Mereka adalah sahabat Bob: S. Teddy D., Ugo Untoro, dan Bob sendiri.
    "Kadang aku menjadi sangat super, sangat hebat, bahkan terpuruk. Lalu aku bangun dengan energi pesimistisku," kata Bob. Ia menaruh hormat kepada kedua sahabatnya dan menjadikannya setengah dewa dalam imajinasinya--termasuk dirinya.
    Yang jelas, bagi Bob, tak ada karya seni yang jelek. "Semua memiliki sektenya sendiri," dia menegaskan.
    l ISMI WAHID


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Empat Macam Batal Puasa

    Ada beberapa macam bentuk batalnya puasa di bulan Ramadan sekaligus konsekuensi yang harus dijalankan pelakunya.