Yang Muda yang Menafsir Empu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta - Suara gemuruh ombak yang menderu-deru terdengar keras di ruangan belakang Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jalan Merdeka Timur Nomor 14, Jakarta Pusat. Suara ombak itu lalu disusul oleh suara percikan air menampar karang yang berpuncak pada dentuman ombak besar menghantam dinding.

     

    Suara badai itu keluar dari speaker yang tersambung ke sebuah pemutar video berproyektor, yang memproyeksikan potongan-potongan gambar ke di dinding. Potongan-potongan gambar itu sebenarnya pecahan dari lukisan Badai (1851) karya Raden Saleh. Seni video Berbadai pun Kemudian karya Hafiz ini adalah tafsir sang seniman terhadap Badai.

     

    Karya Hafiz itu dipamerkan bersama karya 117 seniman muda lain dalam Pameran Besar Seni Rupa Indonesia Manifesto 2010. Pameran bertema "Percakapan Masa" itu dibuka oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, yang diwakili oleh Direktur Jenderal Kesenian Sulistyo Tirtokusumo, pada Selasa malam pekan lalu, dan akan berlangsung hingga 31 Mei mendatang. "Pameran ini merupakan hasil dari tanggap kreatif seniman atas karya para maestro seni rupa Indonesia," kata Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus "Andre" Sukmana.

     

    Malam itu, Galeri Nasional juga meluncurkan buku Katalog Pameran Manifesto 2008, yang berisi katalog karya dan beberapa artikel mengenai pameran Manifesto pertama yang digelar dua tahun lalu di tempat yang sama. Pameran yang kala itu diikuti 347 seniman dan dikurasi oleh Rizki A. Zaelani, Jim Supangkat, Kuss Indarto, serta Farah Wardani itu belum menerbitkan buku katalog yang memadai saat pameran digelar. Pameran tahun ini pun sebenarnya merupakan kegiatan lanjutan dari Manifesto pertama, dan akan dilanjutkan dengan pameran serupa secara rutin setiap dua tahun sekali.

     

    Rizki A. Zaelani, kurator pameran kali ini, menjelaskan bahwa ide pameran itu lahir dari kegundahannya atas masih banyaknya seniman yang tak tahu soal sejarah seni dan koleksi Galeri Nasional yang jarang dilihat. Padahal Galeri Nasional mengoleksi 1.750 karya seniman Indonesia dan mancanegara yang dipamerkan secara bergiliran setiap dua tahun sekali. "Maka saya tantang mereka untuk melihat koleksi itu," kata kurator lulusan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung itu.

     

    Konsep pameran ini adalah mempertemukan seniman masa lalu dengan seniman muda angkatan 1990-an hingga kini. Selain itu, Rizki mengundang secara khusus beberapa seniman angkatan 1980-an, seperti Tisna Sanjaya dan Heri Dono. Para seniman itu diminta untuk "berdialog" dengan sejumlah karya empu seni rupa Indonesia yang dikoleksi Galeri Nasional dan mewujudkan hasil dialognya dalam bentuk karya seni rupa.

     

    Karya para empu yang menjadi teman dialog mereka itu antara lain Badai karya Raden Saleh, Pertemuan karya Otto Djaja, Cap Go Meh karya Sudjojono, Menguliti Pete karya Hendra Gunawan, Tiga Kawan karya Srihadi Soedarsono, dan Kucing karya Popo Iskandar.

     

    Hasilnya bermacam-macam, dari lukisan hingga instalasi, dan mengangkat tema yang beragam pula. Badai karya Raden Saleh, misalnya, mengilhami Hafiz untuk melahirkan karya seni video berupa deburan ombak. Sedangkan Heri Dono menggabungkannya dengan potret diri Raden Saleh dan lukisan-lukisan singanya, lalu melahirkan Raden Salehsaurus.

     

    Kucing karya Popo juga menjadi inspirasi beberapa seniman. Rudy St. Darma menghasilkan lukisan Beyond Act/Koko's Way, lukisan abstrak berobyek kucing hitam--mirip kucing Popo--dan sapuan-sapuan warna kuning dengan latar baris-baris tulisan "POPO'S WAY" dan "KOKO'S WAY" yang ditera berulang-ulang. Sedangkan Erwin Pandu Pranata mengubahnya menjadi Play Popo, berupa boneka kucing hitam berbentuk kapsul setinggi satu meter. Boneka Erwin ini dilengkapi peralatan elektronik yang menghasilkan bunyi-bunyian, dan bila didorong akan bergoyang-goyang.

     

    Ibu Menjahit (1935) karya Sudjojono ditafsirkan berbeda-beda oleh para seniman. Triyadi Guntur membuat Ibu Menjahit dalam tiga panel yang menggambarkan seorang ibu sedang menyulam dan pada panel terakhir menunjukkan hasil sulamannya, berupa tulisan "Punks Never Die". Sedangkan Gigih Wiyono mengangkatnya menjadi isu energi lewat Mother and National Energy, yang menggambarkan seorang ibu dan beberapa tabung gas ukuran 3 kilogram serta jeriken minyak.

     

    Adapun Budi Adi Nugroho seakan menggelindingkannya lebih jauh lewat I Like Contemporary, but Contemporary Likes It Shiny (Bapak Menganggur), berupa patung Homer Simpson, tokoh dalam film kartun The Simpsons, yang sedang duduk termangu. "Karya itu seakan meneruskan pemikiran bahwa bila ibu menjahit, maka bapak menganggur," kata Rizki.

     

    Semua hasil karya para seniman muda itu dipamerkan di Gedung A dan lantai satu Gedung B dan C di Galeri Nasional. Pengunjung dapat pula menikmati karya-karya para empu yang menjadi sumber inspirasinya yang dipajang di ruang sebelah kanan di Gedung A. Selain itu, pengunjung bisa menikmati sekitar 100 karya seniman Indonesia yang menjadi koleksi Galeri Nasional yang dipamerkan di lantai dua Gedung B dan C.

     

     

    KURNIAWAN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Olahraga Pada Puasa Ramadan Saat Pandemi, Dapat Mencegah Infeksi Covid-19

    Olahraga saat puasa dapat memberikan sejumlah manfaat. Latihan fisik dapat mencegah infeksi Covid-19 saat wabah masih berkecamuk di Ramadan 1442 H.