Mengenang Tragedi Berdarah Mei 1998

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +

  • TEMPO interaktif, Jakarta-Alvi sudah meninggal sekitar 12 tahun lalu. Nyawanya terenggut saat tragedi kemanusiaan Mei 1998 terjadi. Tiap tahun, Suryati, ibunda Alvi, pergi ke pemakaman massal Pondok Rangon Jakarta Timur. “Kalau masih hidup, umurnya kira-kira sepantaran siapa yah,” gumam Suryati mengenang almarhum anaknya. Tak sekedar berdoa, Suryati bersama keluarga korban lainnya dan lembaga kemasyarakatan pun terus memperjuangkan keadilan atas tragedi itu. Saat ini, Ibu Suryati menyambung hidup dari bisnis kecil berjualan bantal.

    Perjuangan dan luka perih itu terangkum dalam sebuah film dokumenter panjang berjudul Di Samping Takdir, yang diputar di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (HAM), Jum'at (21/5) sore. Film yang dijahit dari potongan-potongan dokumentasi perjalanan beberapa LSM dan perorangan ini merupakan kolaborasi karya wartawan dan aktifis HAM.

    Dalam film berdurasi 77 menit ini, para aktifis dan keluarga korban meminta pertanggungjawaban Wiranto. Dari penggalan dokumentasi berbeda, rekaman deklarasi partai baru Wiranto yang di hiasi dengan menyanyi bersama, membuat kontroversi miris dengan kondisi para keluarga korban yang hidup seadanya.

    Meski pemutaran ini di gelar untuk memperingati lagi tragedi berdarah tersebut, tak ada kebaruan dari kasus ini. Seolah tetap berjalan di tempat, seperti pada bagian dokumentasi para demonstran yang tak berhasil bertemu Wiranto saat itu. Sebuah fakta pun hanya mampu diurai dari seorang dokter yang pernah menangani para korban pelecehan tragedi tersebut. “Sekarang, mereka lebih memilih untuk tidak di tanyai lagi soal itu, karena ingin lepas dari trauma dan hidup sewajarnya,” jawab sang dokter pada seoranga aktifis perempuan dari Solidaritas Nusa Bangsa, dalam penggalan film.

    Flim ini pun kurang dikemas dengan baik karena diambil dengan kamera amatir dengan pencahayaan minim,. Namun setidaknya film ini membubuhkan informasi tentang siapa yang sedang dikisahkan, sehingga untuk penonton yang tak mengamatinya sejak awal masih bisa mengikuti jalan ceritanya.


    Aguslia Hidayah


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.