Gesang, Anak Juragan Batik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tempo/Andry Prasetyo

    Tempo/Andry Prasetyo

    TEMPO Interaktif, Jakarta -  Gesang belajar musik secara otodidak. Ia lahir di kota Surakarta, Jawa Tengah pada 1 Oktober 1917. Ayahnya seorang pengusaha batik, saat Gesang beranjak remaja pabrik batik milik ayahnya bangkrut. Gesang yang berbakat di bidang musik kemudian mencari cara untuk membantu ekonomi keluarganya dengan membuat lagu dan menyanyi di berbagai acara termasuk acara pernikahan.

    Pada usia 23 tahun, Gesang yang tidak bisa membaca notasi musik menciptakan lagu Bengawan Solo, lagu keroncong tersebut langsung populer di Jawa. Saat itu, Bengawan Solo kerap diputar di radio. Karena sering diputar, tentara Jepang yang sedang menjajah Indonesia pun ikut gandrung. Bahkan lagu Bengawan Solo dialihbahasakan ke Bahasa Jepang. Pada 1947, Toshi Matsuda membuat rekaman lagu ini dalam bahasa Jepang, Bengawan Solo pun semakin populer.

    Saat peluncuran album karya emas Gesang, dua tahun lalu, Tempo sempat mewawancarai khusus. “Keroncong harus tetap eksis,” ujarnya dengan intonasi tegas. Dia tidak rela jika keroncong yang berasal dari Indonesia kemudian hilang karena sudah tidak disukai masyarakat.

    Menurut Gesang, orang-orang usia 40 tahun ke atas sudah tidak cocok dengan lagu pop, apalagi dangdut. “Keroncong inilah yang pas, yang sebenarnya digemari segala bangsa,” katanya dengan pengucapan yang agak terbata-bata.

    Gesang menutup usia pada hari ini, pukul 18.10 di Surakarta, Jawa Tengah. Selamat Jalan, Gesang.

    UKKY PRIMARTANTYO I PGR



     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.