Ayam dan Mimpi Jadi Wartawati

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta -Dengan langkah malu-malu, Ni Wayan Mertayani, 14 tahun, menemui sejumlah wartawan di Radio Netherlands Training Centre di Hilversum, Belanda, Kamis pekan lalu. Dia hanya mengenakan jumper--jaket tipis bertutup kepala--berwarna abu-abu, kaus oblong, dan sepatu kets. Matanya langsung berbinar melihat para kuli tinta menyingkirkan udara dan angin dingin yang berembus kencang menggigit kulit. Maklum, Wayan amat terobsesi menjadi wartawati.

    Buku The Diary of Anne Frank, cerita tentang Annelies Marie Frank alias Anne Frank, menginspirasinya untuk mematri cita-cita tersebut. Dolly Amarhoseija, turis asal Belanda, adalah orang yang memperkenalkan gadis asal Banjar Biasiantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, itu dengan sosok Anne yang menjadi korban Holocaust di Amsterdam, Belanda.

    Tak cuma buku, Wayan juga meminjam kamera foto milik Dolly. Dia membuat 15 foto dengan kamera itu. Jepretan terakhirnya adalah sebuah potret pohon ubi karet dengan dahan tanpa daun yang tumbuh di depan rumahnya. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan, serta handuk berwarna merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.

    Tak dinyana, foto sederhana itu memikat 12 fotografer kelas dunia dari World Press Photo yang menjadi juri lomba foto internasional 2009 yang digelar Yayasan Anne Frank di Belanda. Tema lomba yang yang diikuti 200 peserta itu adalah "Apa Harapan Terbesarmu?"

    Wayan menjelaskan, ayam itu simbolisasi diri dan kehidupannya. "Ayam itu kalau panas kepanasan, hujan kehujanan. Sama seperti saya," ujarnya.

    Sulung dari dua bersaudara ini memang berasal dari keluarga miskin. Ibunya, I Nengah Kirem, 52 tahun, sudah bertahun menderita ginjal dan harus bekerja serabutan. Ayah Wayan telah meninggal. Mereka tinggal di gubuk berdinding bilik bambu dengan satu kamar tidur.

    Untuk menopang kehidupan, tiap sore hingga gelap menyergap, pelajar kelas III SMP Negeri 2 Abang, Karangasem, itu berjualan kue jajanan di Pantai Kadang. Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50 ribu. Tapi lebih sering dia rugi karena banyak yang tidak bayar. "Ätau kalau tak habis saya makan sendiri, jadi ya rugi," ujar Wayan tersipu.

    Dia mengaku punya puluhan ayam dan bebek serta beberapa ekor kambing. Ayam-ayamnya pun dibiarkan berkeliaran tak dikandangkan. Terkadang Wayan harus menyabit rumput untuk memberi makan kambingnya sebelum berjualan. Namun, di sela kehidupan keras yang dilaluinya, Wayan biasa meluangkan waktu dengan membaca di perpustakaan milik Marie Johana Fardan, tetangganya yang warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di Pantai Amed.

    "Sudah dua tahun dia menjadi langganan tetap perpustakaan. Dia menyukai buku Anne Frank itu," ujar Marie, yang mengantar Wayan dan adiknya, Ni Negah Jati, terbang ke Belanda.

    Negeri Kincir Angin menjadi tempat pertama Wayan mengenal dunia di luar Bali. Dia mengaku senang bisa menjejakkan kaki di Belanda, yang menurut dia bersih, ramai, meski cuacanya kurang bersahabat. "Senang tapi makanannya tidak enak, mentah-mentah. Lebih enak jajanan saya," ujarnya disambut tawa hadirin.

    Dari Yayasan Anne Frank, Wayan menerima hadiah berupa kamera saku dan sebuah komputer jinjing dari Radio Netherlands Wereldomroep. Rencananya, jika Yayasan Anne Frank mengadakan acara di Bali, dia akan diundang untuk memamerkan foto-fotonya. Radio Netherlands juga menawarkan tempat untuk Wayan mengirim cerita pendek atau tulisan-tulisannya untuk disiarkan.

    Wayan berharap bisa menyelesaikan sekolah dan mewujudkan cita-citanya menjadi jurnalis. Sepulangnya dari Belanda, ia mendapat kabar gembira berupa kelulusannya dari ujian nasional. "Saya ingin membahagiakan ibu saya," ujarnya sendu. Matanya bulat menerawang. Dia sangat sadar kemiskinan mengancam kelanjutan pendidikannya. "Anne Frank lebih susah hidupnya. Jika dia tak mengeluh, saya juga seharusnya tidak," ujarnya kemudian.

    l Dian Yuliastuti (Hilversum, Belanda)

    BIODATA

    Nama: Ni Wayan Mertayani

    Umur: 14 tahun

    Status dalam keluarga: sulung dari dua bersaudara

    Ayah: I Nengah Sangkrib (almarhum)

    Ibu: Ni Nengah Sirem

    Adik: Ni Nengah Jati

    Pendidikan: Kelas III SMP Negeri 2 di Karangasem

    Penghargaan: Pemenang Lomba Foto Internasional Yayasan Anne Frank 2009


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi dan Tantangan Jozeph Paul Zhang, Pria yang Mengaku Nabi Ke-26

    Seorang pria mengaku sebagai nabi ke-26 melalui media sosial. Selain mengaku sebagai nabi, dia juga melontarkan tantangan. Dialah Jozeph Paul Zhang.