Opera Sutawijaya, Tafsir Baru Berdirinya Mataram

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO InteraktifYogyakarta - Siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Yogyakarta, yang tergabung dalam Teater Jubah Macan, mementaskan Opera Sutawijaya di Taman Budaya Yogyakarta, Jumat dan Sabtu malam kemarin. Mereka mencoba menafsir ulang sejarah tentang berdirinya kerajaan Mataram.

     

    Pentas kolosal yang melibatkan 80 pemain ini diawali adegan di istana Kerajaan Pajang, ketika Danang Sutawijaya memperoleh hadiah Alas Mentaok dari Sultan Hadiwijaya. Dibantu Ki Juru Mertani, Danang Sutawijaya berhasil membangun Alas Mentaok menjadi sebuah daerah otonom yang maju bernama Mataram.

     

    Kemajuan Mataram itu menimbulkan kecurigaan sejumlah petinggi Kerajaan Pajang. Mereka menuduh Dadang Sutawijaya hendak memberontak terhadap kekuasaan Pajang. Namun gempuran prajurit Pajang yang menggelobang, tak mampu mengalahkan Danang Sutawijaya. Bahkan gempuran itu kemudian semakin surut seiring dengan wafatnya Sultan Hadiwijaya, penguasa Pajang.

     

    Sejarah mencatat, Danang Sutawijaya kemudian mengangkat dirinya sebagai Raja Mataram pertama dengan gelar Panembahan Senapati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Satanah Jawa. Namun penulis naskah pentas Opera Sutawijaya, Purba Negara alias Popo, sengaja ingin menafsir ulang sejarah. Danang Sutawijaya bukan menobatkan diri sebagai raja Mataram, tapi justru dinobatkan oleh para adipati dan demang yang bersimpati dengan prestasinya dalam membangun Alas Mentaok menjadi daerah otonom yang sangat maju bernama Mataram.

     

    “Faktanya tetap sama, yakni Danang Sutawijaya menjadi raja Mataram pertama bergelar Panembahan Senapati, namun prosesnya yang berbeda. Ia tidak menobatkan diri, namun dinobatkan oleh para adipati dan demang menjadi raja Mataram. Inilah yang saya maksud dengan tafsir sejarah,” kata Popo.

     

    Pentas Opera Sutawijaya ini berlangsung hampir tiga jam. Sutradara Bagus Suitrawan sudah berupaya maksimal agar penonton tak jenuh dengan memasukkan unsur-unsur budaya masa kini seperti hip hop dan street dance ke dalam alur cerita. Namun, upaya itu tak sepenuhnya berhasil. Melewati waktu dua jam pementasan, sebagian penonton mulai meninggalkan ruang pertunjukan karena jenuh.

     

    Opera Sutawijaya ini justru pentas dengan durasi terpendek,” ujar Bagus. “Biasanya, Teater Jubah Macan selalu pentas dengan durasi empat jam.”

     

    Pentas Opera Sutawijaya ini dipersiapkan sejak Januari lalu. Mereka meningkatkan intensitas latihan dari seminggu dua kali menjadi setiap hari pada satu bulan menjelang pementasan. Latihan dilakukan pada pukul 15.00 hingga 21.00. Opera Sutawijaya merupakan pementasan ke-36 Teater Jubah Macan sejak berdiri pada sekitar 1990.

     

     

    HERU CN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto