Rekam Jejak Gus Dur Dalam Lukisan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO Interaktif, PASURUAN--Jupri Abdullah, seniman asal Pasuruan, menyiapkan pameran lukisan tunggal untuk memperingati 100 hari wafatnya bekas Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pelukis dari Desa Kejapanan Kecamatan Gempol Kabupaten Pasuruan ini menyiapkan 30 lukisan sosok Gus Dur dalam berbagai aktifitas dan gaya. "Lukisan ini merupakan rekam jejak Gus Dur selama ini," katanya, Jumat (9/4).

    Pameran lukisan bertema Gus Dur dalam peristiwa ini akan disuguhkan di Museum Istiqlal Taman Mini Indonesia Indah, pada 19-30 April. Dalam lukisannya ini, Jupri menggabungkan karya seni lukis kontemporer dengan foto teknologi digital. Salah satu lukisannya misalnya, menggambarkan sosok Gus Dur mengenakan pakaian batik bercorak etnis thionghoa. Dalam lukisannya, Jupri menampilkan Gus Dur sebagai tokoh yang menjunjung keragaman.

    Beberapa lukisan yang akan dipamerkan di antaranya karya terbaru Jupri berjudul Kesaksian Pluralisme. Lukisan ini dibuat di atas kain kanvas berukuran 100 sentimeter kali 120 sentimeter berbahan cat akrilik. Ada juga karya-karya lain, misalnya Jejak Semar dengan ukuran dan bahan yang sama.

    Menurutnya, Gus Dur merupakan tokoh bangsa yang tetap di kenang dan diidolakan rakyat. Terbukti, meskipun sudah wafat, pemikiran Gus Dur tetap mewarnai politik, demokrasi dan budaya bangsa. Untuk meramaikan pameran, Jupri juga mengundang seniman Sujiwo Tejo untuk turut bersama-sama memamerkan lima lukisannya.

    Ketua Dewan Kesenian Pasuruan, Roem Latif mengapresiasi karya Jupri ini. Menurutnya, para seniman harus lebih produktif untuk menyajikan karya-karya yang bermutu. "Ini bentuk sumbangsih seniman untuk negeri," ujarnya.

     

    EKO WIDIANTO


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.