Pelajaran tentang Cinta dan Kesetiaan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Richard gere bersama Hachiko

    Richard gere bersama Hachiko

    Hachiko: A Dog’s Story
    Sutradara: Lasse Hallstrom
    Pemain: Richard Gere, Joan Allen, Sarah Roemer
    Penulis skenario: Stephen P. Lindsey

    ***

    Lewat seekor anjing, kita bisa memetik pelajaran berharga tentang sisi-sisi humanis yang menyentuh hati nurani. Sebuah pelajaran tentang cinta dan kesetiaan yang bisa jadi kian tergerus kemajuan zaman. Kisah kesetiaan tanpa pamrih inilah yang ditawarkan sutradara Lasse Hallstrom dalam filmnya, Hachiko: A Dog’s Story, yang diadaptasi dari kisah nyata seekor anjing yang hidup pada kurun waktu 1930-an di Jepang bernama Hachiko.

    Hachiko adalah anjing ras akita asli Jepang yang lahir pada November 1923 di Odate, Jepang. Begitu tersohornya kisah mengenai kesetiaannya, sampai-sampai dibangun sebuah patung Hachiko di sebuah taman di depan pintu Stasiun Kereta Api Shibuya, tempat Hachiko dulu menanti kedatangan tuannya. Hachiko menjadi salah satu perlambang kesetiaan bagi orang Jepang.

    Dengan model flashback, film bergenre drama ini menggunakan latar masa kini. Diceritakan seorang dosen seni, Parker Wilson (diperankan dengan apik oleh Richard Gere), menemukan seekor anak anjing di Stasiun Kereta Api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, sepulang bekerja. Awalnya sang profesor bermaksud mencari pemilik anjing kecil itu. Namun, karena usahanya tak menemui jalan, Parker akhirnya membawa anjing tersebut ke rumah dan memeliharanya.

    Anjing itu kemudian diberi nama Hachi--sesuai dengan simbol yang tertulis di kalung yang melingkar di lehernya, yang dalam bahasa Jepang berarti delapan, angka yang, menurut budaya setempat, diasosiasikan dengan keberuntungan. Istri Parker, Cate (Joan Allen), yang tadinya geram karena tidak suka ada binatang peliharaan di rumah mereka, akhirnya luluh melihat bagaimana Parker mencintai anjing itu.

    Hachi yang tumbuh besar makin terikat dengan Parker. Setiap pagi, anjing cerdas yang paling emoh mengejar bola yang dilemparkan seperti anjing pada umumnya tersebut setia mengantar Parker ke stasiun kereta api dan menyongsong tuannya itu saat pulang bekerja. Tak pernah telat, setiap pukul lima sore Hachi duduk manis di taman, tepat di muka pintu stasiun, bersiap menyambut kedatangan tuannya. Bahkan ketika majikan tersayangnya itu tak pernah lagi muncul. Parker terkena serangan jantung dan meninggal di tempat kerjanya.

    Kisah Hachiko sendiri bukan pertama kali ini diangkat ke layar lebar. Sebelum Hachiko versi Hollywood dibuat, film versi Jepangnya sudah dirilis pada 1987 berjudul Hachik¨­ Monogatari. Walaupun pernah dirilis dalam Seattle International Film Festival, Sony Picture tidak merilis Hachiko: A Dog’s Story secara luas di Amerika, tapi langsung mengedarkannya dalam format DVD.

    Seperti film tentang kesetiaan anjing lainnya, sebut saja Lassie (2005) dan Marley and Me (2009), film ini menyentuh sisi halus perasaan manusia. Bahkan yang bukan penggemar anjing yang menonton film ini pun bisa meneteskan air mata. Hallstrom, yang juga menggarap film percintaan Dear John--yang sempat menduduki tangga box office--berusaha memberikan banyak waktu kepada penonton untuk mencermati keterikatan emosional antara Parker dan Hachi dengan plot yang berjalan sangat pelan di pertengahan cerita. Bagi sebagian penonton mungkin terasa sedikit membosankan.

    Interaksi Profesor Wilson dengan Hachi kadang mengundang tawa, tapi juga kerap mengundang haru. Tengoklah adegan ketika Parker, yang tidak tega, turun dari tempat tidur malam hari untuk menemani anjingnya menonton Yankees bersama sambil mengemil berondong jagung, berguling di lantai, hingga mandi bersama. Acting Richard Gere memang terlihat makin matang. Tapi bintang dalam film ini adalah Hachi. Salut untuk tim pelatih arena, yang kerja kerasnya mampu menghadirkan sosok anjing dengan ekspresi dan emosi yang membuat penonton terpesona.

    Dengan perlahan, Hallstrom juga membangun hubungan emosional antara penonton dan Hachi. Beberapa kali pula gambar di layar berubah menjadi hitam-putih dengan gambar miring ke kiri atau ke kanan, bahkan terbalik. Ini cara Hallstrom mengajak penonton memahami perasaan anjing tersebut dengan cara melihat "dunia" dari kacamata Hachi. Tak mengherankan, meskipun dalam trailer penonton sudah tahu Parker bakal meninggal, adegan kematiannya tetap saja menyesakkan. Penonton pun makin menyayangi Hachi, mengagumi kesetiaannya, dan mungkin kembali terkenang akan anjing kesayangan di masa lalu.



    Nunuy Nurhayati

    ***

    Film-Film Persahabatan Manusia dan Anjing

    Berikut ini beberapa film yang juga menggambarkan persahabatan antara manusia dan anjing.

    101 Dalmatians

    Film yang diangkat dari novel anak-anak karya Dodie Smith ini bercerita tentang seekor anjing dalmatian bernama Pongo. Pongo dan pemiliknya, seorang penulis lagu, adalah bujangan seumur hidup. Ketika hari-hari mulai membosankan dan Pongo berpikir sekarang adalah waktunya mencari pasangan hidup, datang seorang wanita cantik dengan anjing dalmatian-nya yang cantik pula, Perdita. Konflik dimulai ketika Cruella De Vil, seorang wanita kejam dan menakutkan yang merupakan teman lama pemilik Perdita, datang ke rumah mereka dan sangat mengharapkan kelahiran anak-anak anjing yang berpola bulu indah itu. Tidak hanya lima belas anak anjing mereka, melainkan juga dalmatian lainnya di London, akan dia ambil.

    Eight Below

    Film ini dibuat berdasarkan kisah nyata tiga ilmuwan Jepang yang melakukan penelitian di kawasan Antartika yang terkenal dengan cuacanya yang sangat ekstrem. Ketiga ilmuwan ini mengendarai kereta yang ditarik oleh anjing-anjing Siberian husky. Suatu ketika, gerombolan ini mengalami kecelakaan dan mereka harus memutuskan meninggalkan kawanan anjing penarik kereta ini agar bisa bertahan hidup di tengah serangan cuaca yang sangat buruk.

    Lassie

    Berlatar¡¡tahun 1938, seekor anjing bernama Collie melakukan perjalanan lebih dari seribu mil dari utara Skotlandia ke Yorkshire untuk kembali ke majikannya. Anjing tersebut sebelumnya telah dijual kepada orang kaya, karena sang ayah sudah tidak bekerja lagi. Anjing itu berjalan jauh, kelaparan, dan menghadapi bahaya hanya untuk¡¡kembali kepada keluarga yang mencintainya.

    Marley & Me¡

    Film yang diangkat dari kisah nyata ini memotret kisah seekor anjing labrador bernama Marley yang mengiringi kehidupan John Grogan dan istrinya, Jenny, sepasang penulis yang bekerja di Philadelphia Inquirer. Pasangan suami-istri tanpa anak ini kemudian pindah dari Philadelphia ke Miami karena pekerjaan yang mengharuskan mereka pindah. Belum dikaruniai anak membuat pasangan ini kemudian membeli seekor anjing labrador agar mereka berdua bisa "belajar" menjadi orang tua yang baik.

    Nunuy Nurhayati


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.