Pertentangan Menjelang Tugas Akhir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Bandung - Lima belas pohon yang hanya menyisakan ranting tanpa daun itu berjejer di kertas terpisah. Bentuk dan warnanya hampir sama. Begitu juga kondisinya. Batang semua pohon itu tertancap di balok-balok beton.


    Lukisan berjudul mmmmmmmmmmmmmm karya Zaldy Armansyah itu adalah salah satu gambar hasil teknik cukil kayunya yang tengah dipamerkan di Galeri Soemardja, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, sepanjang 26 Maret - 4 April mendatang. Pameran bertajuk "Contrast" itu merupakan karya tugas akhir 6 mahasiswa Seni Grafis ITB Angkatan 2005.


    Selain Zaldy, ada pula Michael Binuko, Arif Rivai, Tri Ahmadi, Agung Prabowo, dan Artha Larasati. Dengan teknik dan gaya berbeda-beda, mereka sepakat mengisi tiap karya mereka dengan hal-hal kontras atawa bertentangan, baik yang tampak pada bidang gambar atau di balik gagasan pembuatannya.


    Michael Binuko, misalnya, dengan gamblang membenturkan kondisi alam dan permukiman yang dekat dengan pabrik-pabrik lewat Lanskap Cicalengka. Tak cuma ukurannya yang sepanjang sekitar 4 meter dengan lebar 0,5 meter yang membetot mata, tapi gambar hitam putih yang gelap terangnya rinci diarsir vertikal dengan bolpoin itu juga menyajikan keindahan sekaligus kerusakan lingkungan.


    Selain mengangkat soal alam, beberapa karya lain menyinggung perilaku manusia dan pola pikirnya. Kisah pribadi yang meminjam gambar sketsa orang lain, misalnya, dipakai Artha Larasati untuk membenturkannya dengan ruang imajiner personal sehingga menghasilkan karya baru.


    Adapun Agung Prabowo memadukan gambar sosok figur, tangga, dan potongan kertas, untuk menceritakan kebohongan yang dipercaya sebagai kebenaran. Ketidakpercayaan terhadap anggapan yang berlaku umum di masyarakat itu juga menjadi ide Tri Ahmadi. Gugatannya tertuju ke sebutan pahlawan dan pemberontak dalam perjalanan sejarah negara ini. Ia pun memburamkan wajah Soeharto, Soekarno, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, dan Semaoen, dalam bingkai kaca dengan barisan polkadot kecil berwarna merah dan hijau.


    Masuk ke ranah agama, Arif Rivai menggambar realis seorang lelaki dewasa yang bertelanjang dada. Berpeci hitam, matanya terpejam seperti telah mati atau tengah merenung. Sosok itu muncul dalam bentuk yang sama di lima gambar. Hanya latar mihrab, masjid, dan sosok ibu bapak dengan saudaranya saja yang membuat gambar hitam putih itu berbeda.


    Keteduhan agama seperti diwakili oleh wajah ibu yang tenang. Adapun kemarahan atau perbedaan tentang agama tergambar dari kerutan antara kening dan alis mata si bapak dan saudara lelakinya yang bersorban.


    Arif sedang berkisah tentang pencarian agama untuk memberi ketenangan batin namun harus melalui proses yang menggelisahkan dan membuat gerah. Begitulah pertentangan sosial yang mereka tangkap sebelum diwisuda menjadi sarjana seni.



    Anwar Siswadi


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.